Ahok-Djarot Unggul jika Pilgub DKI Digelar Hari Ini
Sabtu, 15 April 2017 | 15:34 WIB
Jakarta - Charta Politika Indonesia, merilis hasil survei preferensi politik masyarakat DKI Jakarta jelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, dengan jumlah sampel 782 responden, yang dilakukan tanggal 7 sampai 12 April 2017.
Direktur Eksekutif Yunarto Wijaya mengatakan, hasil survei ini merupakan prediksi hasil akhir Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Jadi ini merupakan simulasi, menggunakan metode acak bertingkat dengan margin of error 3,5 persen.
Ia mengungkapkan, sebelum mencoba menerka elektabilitas, ketika Pilkada masih diikuti kembali oleh incumbent biasanya bisa dibaca evaluasi kinerja pemerintahan, bagaimana kepuasan publik, kemudian program-program turunannya diapresiasi masyarakat.
"Tingkat kepuasan responden terhadap kinerja Pemprov DKI Jakarta sangat puas 12,9 persen, cukup puas 59 persen, jumlahnya 71,9 persen. Tidak puas 26,2 persen, gabungan dari kurang puas 24,2 persen dan tidak puas 2,0 persen. Menurut data terjadi peningkatan kepuasan kinerja sejak bulan Januari hingga April 2017. Mulai dari 63,3 persen, 65,8 persen, 70,5 persen, hingga 71,9 persen," ujar Yunarto, di Kantor Charta Politika, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (15/4).
"Kalau kita lihat polanya selalu sama KJP (Kartu Jakarta Pintar), KJS (Kartu Jakarta Sehat), dan pelayanan Kelurahan. Ini yang paling diingat dan paling diapresiasi responden," tambahnya.
Ia menyampaikan, tingkat keinginan masyarakat atas terpilihnya kembali Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta berjumlah 42,8 persen, 37,9 persen menyatakan tidak dan 19,3 tidak menjawab.
"Tren tingkat keinginan incumbent kembali menjadi gubernur pertama kalinya Basuki Tjahaja Purnama mendapatkan angka selisih antara yang menyatakan ya atau tidak sudah di atas margin of error. Kalau kita lihat bulan Januari sempat 42 persen lawan 40,8 persen, tapi itu masih dikatakan berimbang karena masih dalam selisih margin of error. Bulan Februari masih lebih banyak yang menyatakan tidak 44,7 persen berbanding 39,5 persen mengatakan ya, dan sekarang 42,8 persen mengatakan ya, dan 37 persen mengatakan tidak," katanya.
Menurutnya, untuk tingkat elektabilitas pasangan cagub dan cawagub DKI Jakarta dengan pertanyaan, "Apabila Pilkada DKI dilaksanakan hari ini, mana pasangan yang akan dipilih?", Basuki-Djarot unggul.
"Ini yang menjadi simulasi hasil pertanyaan 'Apabila Pilkada DKI Jakarta dilaksanakan hari ini, mana pasangangan yang akan dipilih Bapak, Ibu, Saudara?' Angkanya adalah Basuki-Djarot memperoleh 47,3 persen, Anies-Sandi 44,8 persen, responden yang belum menentukan pilihan sebanyak 7,9 persen," jelasnya.
Ia menjelaskan, yang menarik adalah data tren elektabilitas. Bulan November Basuki-Djarot 31,1 persen, Anies-Sandi 40,7; bulan Januari 34,7 persen dengan 45,2 persen; bulan Februari 41,0 persen, lawan 44,5 persen.
"Bulan Februari masih menang Anies. Dan, pada hari ini golden crossing terjadi. Jadi Basuki-Djarot menyalip elektabilitas Anies-Sandi 47,3 persen melawan 44,8 dengan selisih 2,5 persen," sebutnya.
Kendati demikian, tambahnya, hasil survei ini belum bisa menyatakan Basuki-Djarot menang mutlak karena selisih margin of error bisa mempengaruhi.
"Survei ini dengan 782 responden itu, memiliki margin of error 3,5 persen. Artinya, sebetulnya selisih margin of errornya belum bisa menyatakan Basuki-Djarot absolut unggul. Karena selisih 2,5 persen masih di bawah margin of error 3,5 persen," tandasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




