Puncak HUT 15 PPATK, Habibie Ingatkan Perkuat SDM
Senin, 17 April 2017 | 17:04 WIB
Jakarta- Presiden RI ke-3 Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie menekankan bahwa yang terpenting dalam membangun bangsa ke depan adalah kualitas sumber daya manusia (SDM), iman dan taqwa. Menurutnya, Indonesia tidak boleh tergantung pada sumber daya alam (SDA). Terbukti negara dengan SDA baik tetapi tanpa perhitungan, akan hancur secara ekonomi sebagaimana terlihat beberapa negara Eropa, yaitu Spanyol dan Yunani.
"Di Timur Tengah, mereka mengandalkan minyak. Dengan orang-orang yang canggih memprediksi minyak akan naik terus. Dengan perkiraan harga tertinggi US$ 120 per barel dan terendah US$ 80 per barel. Tetapi, sekarang minyak tidak sesuai prediksi. Akibatnya, perhitungan salah semua dan pemasukan kacau. Kalau tidak hati-hati mereka (negara di Timur Tengah) akan mengalami seperti negara-negara di Eropa, Yunani dan Spanyol," ungkapnya dalam acara peringatan 15 tahun Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) di Jakarta, Senin (17/4).
Namun tegas Habibie, Indonesia masih beruntung karena pertumbuhan ekonomi masih sesuai prediksi. Namun dia kembali mengingatkan bahwa kebergatungan pada kekayaan SDA 100 persen tidak baik. Sebaliknya, harus meningkatkan SDM yang berkualitas. "Kita bersyukur sampai detik ini tidak mengubah UUD 1945. Kita hanya menyempurnakan melalui Tap MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat). Kita bersyukur UUD 1945 menggarisbawahi yang jadi prioritas utama adalah SDM. Uangnya dari SDA yang kita miliki," ujarnya.
Lebih lanjut, Habibie mengungkapkan pembentukan SDM yang baik membutuhkan proses pembudayaan, dan pendidikan yang baik. Adapun pembudayaan sangat tergantung dari iman dan taqwa.
Mantan Wakil Presiden RI ke-7 ini juga memberikan nasihat bahwa membangun bangsa yang besar membutuhkan sesuatu yang stabil agar mudah diprediksi. Selanjutnya, apa pun yang dilakukan harus berkualitas dan sesuai rencana. Dalam artian, tidak boleh terlambat dan tidak boleh terlalu cepat.
Neraca Jam Kerja
Di hadapan Ketua PPATK, Kiagus Ahmad Badaruddin, mantan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) ini menyarankan dibentuk tim guna menganalisis neraca jam kerja guna mendorong perekonomian. Dia mencontohkan, bagaimana perdagangan Amerika Serikat (AS) menurun akibat kesalahan perhitungan neraca jam kerja. "Pak Ketua bentuk tim bersama dengan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan yang lainnya untuk menganalisis perihal neraca jam kerja," kata Habibie.
Dalam pertimbangannya, dibalik semua produk yang dihasilkan, mengandung jam kerja yang menentukan kualitas. Oleh karena itu, jika kualitas berkurang pasti ada permasalahan dalam neraca jam kerja.
Khusus untuk PPATK, ia berharap mempergunakan teknologi dan fasilitas yang sudah ada untuk bekerja dengan baik dan tetap menggunakan iman dan taqwa.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




