Jelang Ramadan, UGM Ungkap 5 Kiat Simpan Daging

Selasa, 16 Mei 2017 | 14:54 WIB
LK
B
Penulis: L Gora Kunjana | Editor: B1
Padagang daging di pasar. GA Photo/Mohammad Defrizal
Padagang daging di pasar. GA Photo/Mohammad Defrizal (ga photo/Mohammad Defrizal)

Yogyakarta– Menjelang ramadan dan Hari Raya Idul Fitri tahun 2017, Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan 5 kiat menyimpan daging secara benar kepada masyarakat, mengingat kebutuhan daging segar yang bakal meningkat.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Laboratorium Ilmu dan Teknologi Daging Fakultas Peternakan UGM, Dr Jamhari M, dalam siaran persnya, di Kampus Fapet UGM, Selasa (16/5).

"Meningkatnya harga-harga kebutuhan pokok, seperti daging sangat memberatkan masyarakat. Karena itu, perlu diupayakan kiat-kiat penting dalam menyimpan daging secara benar," ujar dia.

Menurut dia, menjelang hari besar keagamaan, masyarakat biasanya mendapatkan daging yang cukup melimpah, baik saat menjelang Idul Fitri maupun Idul Adha. Karena itu, kiat menyimpan daging secara benar perlu dilakukan agar nutrisi didalam daging tidak hilang dan tetap terjaga kesegarannya.

Lima Kiat
Ia menyebutkan, 5 (lima) kiat menyimpan daging secara benar agar kondisi daging yang dibeli masyarakat tidak rusak.
Pertama, masyarakat harus mengenali daging yang baik. Sebelum menyimpan daging, kata dia, ada baiknya masyarakat mengenali terlebih dahulu daging yang baik. Secara umum, daging yang sehat berwarna merah segar, tidak berlendir, dan memiliki bau khas daging. Apabila daging telah mengalami perubahan warna yang tidak semestinya, daging tersebut tidak layak dikonsumsi.

"Kalau daging berwarna gelap, bisa disebabkan ternak kurang diistirahatkan sebelum dipotong. Proses istirahat diperlukan karena akan memengaruhi warna dan keempukan daging," jelas Jamhari.

Kedua, menyimpan daging dalam plastik food grade. Sebelum dimasukkan ke kulkas, disarankan daging dipotong-potong sesuai takaran konsumsi. Sehingga, ketika akan mengolah daging tidak perlu mengeluarkan semua. Daging sebaiknya dimasukkan ke dalam plastik transparan yang tergolong food grade dan hindari menyimpan daging dalam kantong plastik berwarna-warni.

"Tidak dianjurkan untuk memasukkan kembali ke dalam kulkas daging beku yang sudah dikeluarkan hingga encer. Dalam kondisi seperti ini mikrobia semakin banyak dan akan mempercepat proses pembusukan," katanya.

Ketiga, masukkan dan keluarkan daging secara bertahap. Setelah hewan dipotong, akan terjadi kontraksi atau ‘rigor mortis pada daging. Sebaiknya, kontraksi ini ditunggu hingga selesai kemudian daging dimasukkan ke dalam kulkas. Daging dimasukkan ke dalam kulkas secara bertahap, yaitu diletakkan di kulkas bagian refrigerator terlebih dahulu selama 24 jam. Kemudian, pindahkan daging ke dalam freezer. Hal ini untuk menghindari temperature shock yang dapat menyebabkan daging alot.

Selanjutnya, lanjut dia, ketika mengeluarkan daging dari kulkas, juga disarankan untuk dilakukan secara bertahap. Pertama, pindahkan daging dari freezer ke bagian refrigeratorkulkas dan biarkan sampai mencair. Setelah itu, keluarkan daging dari bagian refrigerator dan daging dapat dimasak.

Keempat, pisahkan daging dan jeroan, karena jeroan lebih cepat rusak dibandingkan daging, sehingga disarankan untuk menyimpan di freezer yang berbeda.

"Jeroan dan daging harus disimpan dalam freezer yang berbeda untuk menghindari adanya kontaminasi silang. Meskipun daging disimpan dalam wadah yang berbeda tetapi masih dalam satu freezer, akan terjadi kontaminasi silang," terang Jamhari.

Kelima, simpan daging dengan suhu yang tepat. Sebab daging yang disimpan di kulkas bagian refrigerator dapat bertahan 3-4 hari. Di dalam freezer pada temperatur di bawah -180C daging dapat bertahan hingga enam bulan dengan tidak terjadi perubahan dari sisi nutrien.

Temperatur -180C, katanya, menyebabkan seluruh air di dalam daging membeku sehingga tidak dapat dimanfaatkan mikrobia untuk tumbuh.

"Dengan memerhatikan himbauan kami diatas tentang kiat-kiat menyimpan daging secara benar, diharapkan kesehatan masyarakat tetap terjaga. Khususnya memasuki bulan Suci Ramadan yang sebentar lagi sama-sama kita jelang," tandas Jamhari.

Apresiasi Positif
Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Indonesia Sri Handiman, mengapresiasi tindakan pemberian informasi edukatif yang dilakukan oleh Fapet UGM tentang pemberian informasi tentang kiat menyimpan daging dengan benar. Pasalnya, kata dia, selama ini minim sekali informasi yang diberikan pemerintah kepada masyarakat tentang langkah-langkah dan kiat dalam menyimpan daging secara benar.

Menurut dia, selama ini pemerintah hanya disibukkan dengan berbagai kegiatan operasi pasar saja, sehingga upaya edukasi tentang kiat menyimpan daging secara benar, terabaikan. Belum lagi upaya pemerintah dalam menjamin ketersediaan pasokan daging di dalam negeri.

"Padahal, jika masyarakat tetap memakan daging yang disimpan sembarangan, bisa ditebak apa yang akan mereka alami. Semoga upaya edukasi seperti ini terus dijalankan dan diikuti oleh banyak bidang-bidang lain, sebagai upaya mensejahterakan masyarakat," ungkap Handiman.







Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon