Pascaserangan Wannacry, Layanan Pasien Dharmais Kembali Normal
Selasa, 16 Mei 2017 | 15:11 WIB
Jakarta - Layanan di Rumah Sakit (RS) Kanker Dharmais pada hari ini, Selasa (16/5), kembali normal pascaserangan virus komputer global Ransomware WannaCrypt atau disebut juga Wannacry sejak Sabtu (13/5) dini hari. Semua data histori pasien sebelumnya sudah diamankan, sementara pelayanan pendaftaran pasien, pembayaran (kasir), layanan farmasi dan informasi instalasi gawat darurat secara sistem sudah bisa kembali digunakan.
Kepala Instalasi Sistem Informasi Manajemen RS Kanker Dharmais, Widi Budianto, mengatakan, beruntungnya virus WannaCry ini belum menyerang sampai ke induk server komputer, sehingga yang terdampak hanya di bagian pendaftaran pasien.
"Sekarang sudah normal, dan yang penting untuk layanan dan data pasien tetap aman, data sudah di-back up," kata Widi kepada SP, Selasa (16/5) pagi.
RS Kanker Dharmais menjadi salah satu korban dari virus malware yang luar biasa menyusahkan. Bagaimana tidak, malware yang berjenis Ransomware Wannacry itu mampu melumpuhkan jaringan komputer rumah sakit tanpa bisa diklik sedikitpun. Manajemen Dharmais telah mengadukan infeksi pada jaringan komputernya ke Kementerian Kominfo, dan saat ini mereka beroperasi menjalankan layanan dengan sistem backup.
Menurut Widi, ada sekitar 600 unit komputer di rumah sakitnya tidak bisa digunakan setelah diserang virus Wannacry. Sebanyak 15 teknisi rumah sakit dikerahkan untuk membersihkan virusnya dan meng-install ulang komputer.
Akibat serangan virus ini layanan pada pasien sempat terhambat. Beberapa layanan dilakukan secara manual, termasuk pada unit pendaftaran pasien, sehingga menyebabkan antrian panjang di lobi rumah sakit. Seluruh karyawan dikerahkan untuk membagikan nomor antrean hingga memanggil pasien. Tapi menurut Widi, sejauh ini tidak ada kerugian ekonomi.
Sebelumnya, Direktur Utama RS Kanker Dharmais Abdul Kadir menceritakan saat terjadi serangan pada Sabtu, sekitar pukul 05.00 WIB, semua komputer harus dimatikan agar tidak menyebar ke komputer lain. Semua diinstruksikan off, sehingga tidak ada yang menggunakan sistem informasi.
Nyaris semua komputer di RS Dharmais terpengaruh. Wannacry mengunci semua data dan mengganggu sistem teknologi informasi yang menyimpan seluruh data kesehatan pasien juga catatan pembayaran rumah sakit. Untungnya pihak rumah sakit melakukan back-up data, sehingga data dan histori pasien aman.
"Meskipun virus ini mengunci data, kami bisa mengakses dari data hasil back-up," kata Kadir, Senin (15/5).
Ransomware sering disebut sebagai program jahat yang menyandera dokumen korban dengan algoritma enkripsi khusus. Setiap dokumen yang terkunci oleh peranti lunak ini hanya bisa diakses jika memasukkan kode unik untuk membukanya.
Untuk mendapatkan kode akses itu, korban diminta membayar uang tebusan dalam bentuk mata uang virtual Bitcoin. Wannacry meminta tebusan sebesar US$ 300 sampai US$ 600 dalam bentuk Bitcoin. Menanggapi ini, Kadir menegaskan pihaknya tidak akan membayar tebusan yang diminta.
"Kami tidak akan membayar. Alasannya karena ini permintaan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu RS Dharmais merupakan instansi milik pemerintah," kata Kadir.
Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek mengatakan, pihak Dharmais sudah melapor ke Kementerian Kesehatan soal serangan virus tersebut. Hingga saat ini, kata Menkes belum ada laporan dari rumah sakit lainnya apakah terkena serangan virus ini atau tidak.
Kemkes terus berkoordinasi dengan Kementerian Kominfo untuk mengantisipasi serangan virus ini. Kepada rumah sakit Menkes imbau untuk mencegah atau menangkal virus ransomware sesuai pedoman yang sudah disebarluaskan oleh Kementerian Kominfo, sehingga tidak terkena atau kerusakan data tidak bertambah parah.
Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, mengatakan hanya RS Kanker Dharmais yang terkena dampak dari serangan global Ransomware Wannacry. Belum ada rumah sakit lain yang terkena dampak virus ini, termasuk RS Jantung Harapan Kita, Jakarta, yang semula dikabarkan terkena.
Dikatakan Rudiantara, semua komputer Windows yang tersambung ke internet yang masih memiliki kelemahan ini apalagi komputer yang berada pada jaringan yang sama memiliki potensi terinfeksi terhadap ancaman Wannacry.
Dari tampilan diketahui bahwa Wannacry meminta ransom atau dana tebusan agar file yang dibajak dengan enkripsi bisa dikembalikan dalam keadaan normal lagi. Dana tembusan yang diminta adalah dengan pembayaran bitcoin yang setara dengan US$ 300.
Wannacry memberikan alamat bitcoin untuk pembayarannya. Di samping itu juga memberikan deadline waktu terakhir pembayaran dan waktu di mana denda tebusan bisa naik jika belum dibayar juga.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




