Mahitala Luncurkan Buku ke-3 Pendakian Puncak Dunia
Kamis, 19 April 2012 | 13:46 WIB
Salah satu isinya antara lain soal pengalaman tim Mahitala antri macet untuk menggapai Everest.
Tim pendaki Mahitala Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung meluncurkan buku ketiga kisah spektakuler pendakian tujuh puncak dunia (The Seven Summits) dengan judul "Menapak Tiang Langit: Pendakian 7 Puncak Dunia".
"Buku ketiga tentang misi Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) ini berkisah mengenai pengalaman dan proses pendakian hingga Puncak Everest. Buku ketiga ini melengkapi dua buku yang (sudah) diluncurkan sebelumnya," kata personel Tim Publikasi Mahitala, Audy Tanhati, di Bandung, Kamis (19/4).
Menurut Audy, pengalaman menarik dan kisah spektakuler dalam sebuah usaha pendakian gunung salju, sudah selayaknya diceritakan dalam sebuah buku. Untuk diketahui, buku pertama yang diluncurkan tim Mahitala sebelumnya adalah "Sudirman Range Trail: Lenskap Misterius di Indonesia Timur" (2010), sementara buku kedua bertajuk "Pucuk Es di Ujung Dunia: Pendakian 7 Puncak Benua" (2011).
Disebutkan, buku ketiga ini sendiri berkisah tentang gambaran menarik pendakian ke tujuh gunung itu, salah satunya yakni pengalaman tim Mahitala antri macet untuk menggapai Everest. Lantas, di buku setebal 199 halaman yang full-colour itu, juga ada kisah soal pesona puncak tak bernama pengawal Cartensz Pyramid, tentang Indonesia memiliki jalur sendiri di Eropa, hingga cerita rock and roll mengejar matahari hingga ujung utara.
Selain itu, buku ini juga mengisahkan bagaimana tim Mahitala Unpad menciptakan manajemen ekspedisi fleksibel dalam sebuah tim kecil yang dapat bergerak secara efektif dan efisien, juga bagaimana tim ini mendapatkan dukungan dari sponsor, serta pesan "Pendakian Sirkuit Tujuh Puncak Dunia Harus Berhasil dalam Sekali Kunjungan".
"Ini artinya, tidak boleh ada kunjungan kedua dalam sebuah negara yang mewakili masing-masing puncak. Kami sebut (itu) dengan 'One Hit One Victory'," kata Audy pula.
Seperti diketahui, tim pendaki ISSEMU mencatatkan diri sebagai "The Seven Summiters" pertama Indonesia, sekaligus mewakili negara ke-53 yang telah menempatkan pendakinya sukses mendaki tujuh gunung tertinggi dunia. Tim Mahitala sendiri terdiri dari Sodyan Arief Fasha (29), Xaverius Frans (25), Broery Andrew Sihombing (23) dan Janathan Ginting (23).
Adapun tujuh puncak gunung tertinggi dunia yang berhasil didaki Tim Mahitala adalah Cartens Pyramid (4.884 mdpl) Indonesia, Kilimanjaro (5.895) Afrika, Elbrus (5.642) Rusia, Vinson Massif (4.889) Antartika, Aconcagua (6.962) Argentina, Denali (6.194) Alaska, serta yang terakhir adalah Everest (8.848) di Nepal.
Tim pendaki Mahitala Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung meluncurkan buku ketiga kisah spektakuler pendakian tujuh puncak dunia (The Seven Summits) dengan judul "Menapak Tiang Langit: Pendakian 7 Puncak Dunia".
"Buku ketiga tentang misi Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (ISSEMU) ini berkisah mengenai pengalaman dan proses pendakian hingga Puncak Everest. Buku ketiga ini melengkapi dua buku yang (sudah) diluncurkan sebelumnya," kata personel Tim Publikasi Mahitala, Audy Tanhati, di Bandung, Kamis (19/4).
Menurut Audy, pengalaman menarik dan kisah spektakuler dalam sebuah usaha pendakian gunung salju, sudah selayaknya diceritakan dalam sebuah buku. Untuk diketahui, buku pertama yang diluncurkan tim Mahitala sebelumnya adalah "Sudirman Range Trail: Lenskap Misterius di Indonesia Timur" (2010), sementara buku kedua bertajuk "Pucuk Es di Ujung Dunia: Pendakian 7 Puncak Benua" (2011).
Disebutkan, buku ketiga ini sendiri berkisah tentang gambaran menarik pendakian ke tujuh gunung itu, salah satunya yakni pengalaman tim Mahitala antri macet untuk menggapai Everest. Lantas, di buku setebal 199 halaman yang full-colour itu, juga ada kisah soal pesona puncak tak bernama pengawal Cartensz Pyramid, tentang Indonesia memiliki jalur sendiri di Eropa, hingga cerita rock and roll mengejar matahari hingga ujung utara.
Selain itu, buku ini juga mengisahkan bagaimana tim Mahitala Unpad menciptakan manajemen ekspedisi fleksibel dalam sebuah tim kecil yang dapat bergerak secara efektif dan efisien, juga bagaimana tim ini mendapatkan dukungan dari sponsor, serta pesan "Pendakian Sirkuit Tujuh Puncak Dunia Harus Berhasil dalam Sekali Kunjungan".
"Ini artinya, tidak boleh ada kunjungan kedua dalam sebuah negara yang mewakili masing-masing puncak. Kami sebut (itu) dengan 'One Hit One Victory'," kata Audy pula.
Seperti diketahui, tim pendaki ISSEMU mencatatkan diri sebagai "The Seven Summiters" pertama Indonesia, sekaligus mewakili negara ke-53 yang telah menempatkan pendakinya sukses mendaki tujuh gunung tertinggi dunia. Tim Mahitala sendiri terdiri dari Sodyan Arief Fasha (29), Xaverius Frans (25), Broery Andrew Sihombing (23) dan Janathan Ginting (23).
Adapun tujuh puncak gunung tertinggi dunia yang berhasil didaki Tim Mahitala adalah Cartens Pyramid (4.884 mdpl) Indonesia, Kilimanjaro (5.895) Afrika, Elbrus (5.642) Rusia, Vinson Massif (4.889) Antartika, Aconcagua (6.962) Argentina, Denali (6.194) Alaska, serta yang terakhir adalah Everest (8.848) di Nepal.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




