PM Singapura dan 2 Adiknya Ribut Soal Rumah Warisan
Rabu, 14 Juni 2017 | 22:49 WIB
Singapura — Belakangan ini makin memanas sengketa internal di keluarga Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong setelah adik-adiknya menuduh dia menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadinya dan mengkhianati wasiat mendiang ayah mereka, perdana menteri pertama Lee Kuan Yew.
"Kami merasakan kehadiran sang kakak ini di mana-mana," tulis adik perempuan dan laki-laki perdana menteri, Lee Wei Ling dan Lee Hsien Yang, dalam pernyataan yang diunggah di Facebook, Rabu (14/6).
Lee Hsien Yang menambahkan dia berencana meninggalkan Singapura "dalam waktu dekat ini" karena tingkah saudaranya.
Perdana menteri, yang sedang bepergian ke luar negeri bersama keluarganya, juga merilis pernyataan yang membantah tuduhan itu.
"Saya sangat kecewa bahwa saudara-saudara saya sendiri telah memilih untuk mengeluarkan pernyataan yang mempublikasikan persoalan keluarga yang privat," tulis perdana menteri, juga di laman Facebook miliknya.
"Sejak ayah saya meninggal pada Maret 2015, sebagai putra tertua saya telah berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah-masalah di antara kami di dalam keluarga ini, demi rasa hormat terhadap orangtua kami."
Ayah mereka menjabat sebagai perdana menteri dari 1959 sampai 1990, dan sampai masa akhir hidupnya tetap menjadi figur dominan di Singapura yang dia gambarkan sebagai "oase dunia pertama di kawasan dunia ketiga."
Meskipun kepemimpinan dia dinilai mengekang kebebasan, namun Lee Kuan Yew dipuji karena mampu mengubah Singapura yang miskin menjadi pusat bisnis dan keuangan internasional yang kaya raya.
Di Singapura, jarang muncul kritik terhadap para pemimpin negara, sehingga sengketa terbuka di keluarga penguasa itu membuat kaget banyak orang.
Rumah Warisan
Sengketa antar saudara itu diketahui masyarakat tahun lalu, pada peringatan wafatnya ayah mereka, ketika Lee Wei Ling mempublikasikan serangkaian isi surel di mana dia menuduh saudaranya memanfaatkan acara peringatan itu untuk menyalahgunakan wewenang dan "menciptakan sebuah dinasti".
Pokok permasalahan adalah sebuah rumah milik ayah mereka. Dalam pernyataan hari Rabu, dua adik perdana menteri itu mengatakan kakak mereka telah melakukan upaya-upaya untuk menghalangi wasiat sang ayah, yang meminta agar rumah itu dihancurkan.
Dua adik tersebut menuduh perdana menteri ingin mempertahankan rumah itu sebagai monumen yang memberi keuntungan politik baginya.
"Popularitas (Lee Hsien Loong) tak bisa dipisahkan dari nama besar Lee Kuan Yew," tulis mereka.
"Kekuasaan politiknya dihasilkan karena menjadi putra Lee Kuan Yew. Kami telah mengamati bahwa Hsien Loong dan Ho (istri perdana menteri) ingin memanfaatkan nama besar Lee Kuan Yew ini demi kepentingan politik mereka sendiri."
Mereka menambahkan bahwa Lee Hsien Loong dan istrinya, yang menjadi chief executive perusahaan investasi Temasek Holdings, sedang berupaya meneruskan ambisi politik kepada putra-putra mereka. Perdana menteri juga membantah tuduhan ini.
Lee Hsien Yang, ketua otoritas Penerbangan Sipil Singapura, dan Lee Wei Ling, dokter bedah yang juga penasihat di National Neuroscience Institute, mengatakan mereka tidak punya keuntungan apapun jika rumah warisan ayah mereka dihancurkan, selain demi menghormati wasiat mendiang.
"Kami tidak percaya kepada Hsien Loong baik sebagai saudara maupun sebagai pemimpin," tulis mereka. "Kami telah kehilangan kepercayaan padanya."
Komentar Pakar
Chua Beng Huat, profesor sosiologi di National University of Singapore, menyebut sengketa keluarga di depan umum ini sebagai hal yang "mengguncang pikiran". Namun dia meragukan sengketa seperti ini akan merusak reputasi politik Lee Hsien Loong, yang sudah menjabat sejak 2004.
Perdana menteri, kata Chua, "tidak mungkin akan menggugat adik-adiknya sendiri. Dari beberapa sudut, ini adalah masalah keluarga dia, dan bukan urusan orang lain."
Namun pengamat politik Catherine Lim mengatakan bahwa era Lee Kuan Yew sudah berlalu, dan Partai Aksi Rakyat yang berkuasa "secara terbuka sedang mempersiapkan diri untuk merekrut para pemimpin baru yang muda dan teruji."
Lim mengatakan dia kaget ketika tahun lalu adik perempuan perdana menteri menyebut kakaknya "tercela" dan punya ambisi membangun dinasti, karena keluarga besar Lee biasanya sangat tertutup dalam masalah-masalah keluarga.
"Sengketa baru dan makin sengit ini kemungkinan akan makin berlanjut dan mungkin dengan cara tak terduga dalam beberapa bulan ke depan," kata Lim.
Pada pemilu terakhir Singapura 2015, beberapa bulan setelah meninggalnya Lee Kuan Yew, Partai Aksi Rakyat menguasai 83 dari 89 kursi yang diperebutkan di parlemen dan merebut hampir 70% suara. Itu merupakan hasil terbaik partai tersebut sejak 1991.
Partai Aksi Rakyat berkuasa sejak Singapura merdeka pada 1965.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




