Bulog Ajak Peternak Cari Sumber Pasokan Jagung

Kamis, 15 Juni 2017 | 15:17 WIB
DS
B
Penulis: Damiana Ningsih Simanjuntak | Editor: B1
Ilustrasi Jagung.
Ilustrasi Jagung. (Istimewa)

JAKARTA – Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengajak para peternak untuk ikut membantu mencari sumber-sumber pasokan jagung di daerah guna menambah pasokan dalam memenuhi kebutuhan jagung peternak.

Hingga saat ini, serapan jagung lokal oleh Perum Bulog memang masih rendah, sementara stok jagung lokal di gudang BUMN itu hanya sekitar 100 ton.

Djarot juga mengatakan, saat ini masih tersedia 60 ribu ton jagung hasil izin impor 2016. Bulog akan mengirimkan jagung tersebut kepada peternak yang mau membeli sehingga bisa menghindari potensi total loss yang merugikan negara.

"Kemarin, jagung itu diminta (diimpor) karena katanya ada permintaan yang ditargetkan Februari 2017 sudah habis terserap. Tapi karena sampai sekarang masih ada, jagung itu tidak diambil dan mulai rusak, kami disalahkan. Saya bukannya ingin saling menyalahkan. Saya sadar, Bulog ada kekurangan, tapi kami berupaya terbaik," ungkap Djarot saat menerima para peternak ayam potong dan ayam petelur di Jakarta, Rabu (14/6).

Karena itu, apabila memang ada kebutuhan mendesak maka Bulog menawarkan dua solusi. Salah satunya Bulog dan peternak bersama-sama mencari jagung lokal.

"Kalau mendapat informasi ada jagung di mana, kualitasnya sesuai kebutuhan peternak, tunjukkan kepada kami. Kalau peternak tidak punya uang, Bulog akan langsung beli untuk disebar kepada peternak," kata dia.

Apabila kesulitan mendapat pasokan jagung, Djarot mengimbau peternak menyampaikan kepada pemerintah. Sebab, hal itu bukan wilayah atau wewenang Bulog.

"Silakan minta penjelasan kepada kementerian teknis dan menyampaikan kepada pemerintah apakah mau impor atau tidak. Kami siap membantu mencari penjual di sana, untuk dibeli dan disebarkan di sini," kata Djarot.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Peternak Layer Nasional Musbar mengatakan, saat ini daerah panen jagung berada di lokasi sulit terjangkau. Akibatnya, peternak yang tidak memiliki kemampuan modal dan jaringan tidak bisa membeli jagung tersebut.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon