Indocement Optimistis Pasar Semen Tumbuh 3% - 5% di Semester II 2017
Senin, 19 Juni 2017 | 22:33 WIB
Jakarta - Setelah mengalami kelesuan, tanda - tanda recovery pasar semen nasional sudah mulai terlihat sejak kuartal IV 2016. Ini dipicu oleh kondisi ekonomi makro yang mulai menggeliat karena dorongan harga komoditas pertanian dan pertambangan yang menanjak.
Efek baik dari geliat sektor riil pun terjadi dan mengaruhi permintaan semen. Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), Christian Kartawijaya mengatakan, kondisi tadi membuat pertumbuhan penjualan semen nasional mencapai angka 4,1% pada periode Januari - Mei. Sayangnya Indocement belum menikmati pertumbuhan tersebut lantaran pasar semen di Jakarta yg menjadi salah satu kontributor terbesar semen Tiga Roda masih mengalami penurunan penjualan hingga 2%.
Sementara di Banten yang juga pasar besar Indocement hanya tumbuh 1%-2%. "Pertumbuhan Indocement baru sebesar 0-1% pada periode Januari - Mei", ujar Christian Kartawijaya dalam acara media gathering di Wisma Indocement, Jakarta, Senin (19/6).
Meski begitu Christian yakin, kondisinya akan lebih baik di semester II 2017. Makro ekonomi yang diyakini makin stabil menurutnya akan mendorong angka penjualan semen di Jawa Barat lebih tinggi di semester II. Bagi Indocement Jawa Barat menjadi indikator pertumbuhan karena sebagian besar semennya diproduksi di pabrik Indocement Citereup, Bogor dan Palimanan, Cirebon. Pada periode Januari - Mei 2017, pasar Jawa Barat menunjukan pertumbuhan sebesar3%.
"Kondisinya akan makin baik di semester II 2017 seiring makin gencarnya pembangunan proyek properti dan infrastruktur di Jawa Barat, diantaranya Proyek Meikarta besutan Grup Lippo, pembangunan Bandara Kerta Jati, serta proyek- proyek besar pemerintah lainnya," paparnya.
Untuk itu Indocement menurutnya menargetkan volume penjualan semen tahun ini meningkat sebesar 3%-5% di semester dua atau secara total sebesar menjadi 17,25 juta ton di akhir 2017."Kapasitas pabrik kami di wilayah Jawa Barat mencapai 22,5 juta ton per tahun dari total kapasitas produksi Indocement sebesar 24,5 juta ton, karena itu bila pasar di Jawa Barat mulai tumbuh positif,menunjunkan terjadi recovery dan angka pertumbuhannya akan makin tinggi kedepannya," ujarnya.
Saat ini Indocement telah mengoperasikan 13 pabrik. Pabrik anyar bernama Plant 14 (P-14) telah diresmikan pada kuartal IV 2016 lalu dengan kapasitas 4,4 juta ton per tahun.
Usai membangun pabrik tersebut, tahun ini kata Christian Indocement mengalokasikan belanja modal Rp 1,7 triliun. "Saat ini dana belanja modal tersebut sudah terserap sebesar 30%," imbuhnya. Dana tersebut dialokasikan untuk menambah terminal dan pengepakan semen di dua lokasi, satu di Sumatera dan satu lokasi lain sedang dalam kajian. "Untuk di Palembang saat ini sedang dalam tahap kontruksi dan ditargetkan beroperasi tahun 2018," ujarnya.
Selain itu, perseroan juga akan mengganti alat operasional berupa penghisap debu yang bisa membuat pekerjaan lebih efisien dan ramah lingkungan. Rencananya tahun ini, perusahaan akan meng-upgrade dua alat pada dua pabrik di P9 dan P4.
Kinerja Kuartal I
Sepanjang kuartal I 2017, Indocement membukukan volume penjualan sebesar Rp4,071 triliun. Angka ini tidak berbeda dengan periode sama tahun lalu sebesar Rp4,073 triliun.
Dengan volume penjualan tersebut, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp3,37 triliun, atau turun 14,1% dari posisi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,92 triliun.
Pendapatan yang menurun berimbas kepada laba bruto perseroan, dari posisi Rp1,69 triliun di akhir Maret 2016 menjadi Rp1,16 triliun per Maret 2017. Meski begitu Perseroan berhasil menekan kenaikan beban biaya, meskipun terjadi kenaikan harga batu bara yang memberikan dampak terhadap beban bahan bakar dan listrik menyebabkan penurunan marjin laba bruto menjadi 35,4%.
Laba usaha untuk tiga bulan pertama tahun ini juga turun 53,8% menjadi Rp499,8 miliar, periode sama tahun lalu masih sebesar Rp1,08 triliun. Marjin laba usaha turun jadi 14,8 persen, lebih jauh EBITDA turun 41,8 persen dari Rp1,33 triliun menjadi Rp775 miliar.
Kondisi tersebut membuat total aset perseroan juga mengalami penyusutan 1%, dari posisi Rp30,15 triliun menjadi Rp29,84 triliun. Sementara posisi liabilitas jangka pendek dan panjang Rp2,39 triliun dan Rp812 miliar. Sedangkan ekuitas perseroan mencapai sebesar Rp26,63 triliun.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




