IPW: Polri Harus Lebih Siap Hadapi Aksi Teror

Senin, 26 Juni 2017 | 07:55 WIB
GG
B
Penulis: Gardi Gazarin | Editor: B1
Ilustrasi terduga teroris.
Ilustrasi terduga teroris. (Antara)

Jakarta- Jajaran Polri perlu lebih bersiaga lagi menghadapi berbagai bentuk serangan teroris, yang belakangan ini justru menyasar anggota Polri. Kasus serangan brutal teroris yang terjadi di Markas Polda Sumut menjadi sebuah keprihatinan atas profesionalisme Polri dan sekaligus menunjukkan bahwa para teroris makin super nekat. Dengan senjata seadanya, mereka nekat menyerang polisi bersenjata lengkap yang sedang bertugas di markas kepolisian.

Demikian dikatakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada SP di Jakarta, Senin (26/6).

Dikatakan, pascaserangan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur, para teroris ini ternyata makin super nekat. Keberhasilnya membunuh tiga polisi dan melukai dua polisi lainnya di Kampung Melayu sepertinya menjadi inspirasi bagi para teroris untuk meningkatkan serangan kepada jajaran Polri.

"Terbukti, di Hari Raya Idul Fitri, di saat masyarakat bergembira dalam silaturahmi, para teroris ini tidak takut melakukan serangan ke Polda Sumut. Hanya dengan senjata seadanya, yakni sebilah pisau. Ironisnya, mereka berhasil membunuh seorang perwira polisi," ujar Neta S Pane.

Menurut Neta, kasus ini tentunya menjadi catatan buruk bagi Polri menjelang Hari Bhayangkara 2017. Dari kasus ini, publik jelas merasa prihatin karena anggota polisi ternyata tidak bisa melindungi dirinya sendiri, saat diserang pelaku kejahatan di markasnya sendiri. Lalu bagaimana polisi bisa melindungi orang lain atau masyarakat dari serangan pelaku kejahatan.

Sebaliknya, ujar Neta, kasus penyerangan di Mapolda Sumut ini menjadi catatan "bersejarah" bagi jaringan teroris. Hanya dengan senjata seadanya mereka bisa membunuh seorang perwira polisi. Sehingga dikhawatirkan, kasus serangan teror di Polda Sumut akan menjadi inspirasi bagi para teroris untuk terus menerus meningkatkan serangan dan sekaligus menjadi motivasi bagi kader- kadernya bahwa hanya dengan sebilah pisau ternyata bisa membunuh perwira polisi.

Neta mengatakan, dari kasus ini para teroris bisa pula menyimpulkan, untuk melumpuhkan polisi tidak perlu lagi menggunakan bom. Cukup sebilah pisau. Sebab, jajaran polisi tidak terlatih, tidak responsif, dan terlalu mudah untuk dilumpuhkan.

Dijelaskan, belajar dari kasus Polda Sumut, Polri perlu mengimbau jajarannya untuk bersikap senantiasa waspada dan meningkatkan kepekaan serta selalu terlatih menghadapi berbagai situasi, sehingga anggota polisi tidak menjadi bulan-bulanan teroris atau pelaku kejahatan lainnya.

Bagaimana pun, paparnya, jika ada polisi terbunuh oleh pelaku kejahatan tentu akan menjadi keprihatinan tersendiri bagi publik dan sekaligus menjadi kecemasan terhadap profesionalisme sistem keamanan. Apalagi, saat ini di saat isu ISIS merebak secara internasional dan terjadi serangan di Marawi, Filipina Selatan, aksi-aksi terorisme juga terus berkecamuk di Indonesia. Hal ini tentunya akan menjadi kecemasan tersendiri bagi masyarakat.

Sepertinya, kata Neta, ini menjadi tantangan serius bagi Polri menjelang Hari Bhayangkara 2017 dan publik selalu berharap Polri senantiasa bersikap profesional, baik dalam melindungi masyarakat maupun melindungi dirinya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon