Alasan Ransomware Petya Lebih Berbahaya dari WannaCry

Kamis, 29 Juni 2017 | 20:12 WIB
FH
FH
Penulis: Feriawan Hidayat | Editor: FER
Infografis Sistem Operasi (OS) Windows yang menjadi target serangan Ransomware Petya.
Infografis Sistem Operasi (OS) Windows yang menjadi target serangan Ransomware Petya. (Dok. Avast)

Jakarta - Sejumlah perusahaan dari berbagai penjuru dunia dilaporkan kembali terkena serangan virus Ransomware Petya. Serangan siber ini, menyerang sistem komputer di Rusia, Ukraina, Inggris, Spanyol, Prancis, dan Amerika Serikat (AS) serta sejumlah negara lainnya.

Petya Ransomware disinyalir telah menginfeksi ribuan komputer dengan mengunci seluruh data dan sistem komputer yang menggunakan sistem operasi Windows, dengan versi serangan yang lebih canggih dan lebih berbahaya dibanding WannaCry.

Laman The Guardian menyebutkan, virus komputer ini menyebar dengan cepat dan menyasar jaringan komputer yang menangani sistem perbankan, telekomunikasi dan jaringan listrik di Rusia, jaringan perbankan di Ukraina, pabrik cokelat di Australia, dan perusahaan pengelola peti kemas di India.

Menanggapi serangan siber yang masif tersebut, Threat Lab Team Lead Avast, Jakub Kroustek, mengatakan, laporan serangan maya besar-besaran ini diyakini sebagai contoh lain dari ransomare berbasis Petya, yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 2016.

"Beberapa bulan yang lalu, kami melihat ransomware Petya yang di patch dan di bundling dalam strain malware yang berbeda yang disebut PetrWrap. Serangan tersebut tampaknya telah menyebar dan insidennya telah dilaporkan di Rusia, India, Perancis, Spanyol dan juga Belanda," kata Jakub, dalam keterangan resminya kepada Beritasatu.com, Kamis (29/6).

Modifikasi Ransomware Petya ini, lanjut Jakub, menyebar dengan menggunakan kerentanan EternalBlue dan merupakan jalur yang sama digunakan untuk menyebarkan WannaCry.

"Kami telah melihat 12.000 upaya dilakukan oleh malware untuk mengeksploitasi EternalBlue, yang telah kami deteksi dan blokir," jelasnya.

Berdasar data Avast's Wi-Fi Inspectors yang memindai jaringan dan dapat mendeteksi apakah PC Avast atau PC lain yang terkoneksi ke jaringan, menunjukkan bahwa 38 juta PC yang dipindai minggu lalu belum menambal atau melakukan patching sistem mereka dan menjadi rentan.

"Jumlah PC yang rentan itu, sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi," kata dia.

Oleh karena itu, kata Jakub, pihaknya sangat merekomendasikan pengguna Windows (terlepas apakah konsumen personal atau pengguna bisnis), untuk memperbarui sistem mereka dengan patch yang tersedia sesegera mungkin.

"Selain itu, mereka juga harus memastikan perangkat lunak antivirus telah diperbarui untuk menghindari serangan," tambahnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon