BNPB Antisipasi Karhutla di Sumsel dan Riau

Rabu, 5 Juli 2017 | 15:51 WIB
B
FB
Penulis: BeritaSatu | Editor: FMB
Pasukan gabungan TNI, Polri, BNPB, Kementrian Kehutanan, Satgas Karhutla, serta jajaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Manggala Agni, dan balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengikuti Apel Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kabut Asap Provinsi Riau di Lapangan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Rabu (5/2). Direncanakan, setelah apel siaga, tim Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap akan melakukan upaya-upaya pemadaman dengan jalur udara. Selain penerapan bom air (watter bombing), BNPB bersama tim juga akan melakukan upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk hujan buatan.
Pasukan gabungan TNI, Polri, BNPB, Kementrian Kehutanan, Satgas Karhutla, serta jajaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Manggala Agni, dan balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengikuti Apel Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kabut Asap Provinsi Riau di Lapangan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Rabu (5/2). Direncanakan, setelah apel siaga, tim Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap akan melakukan upaya-upaya pemadaman dengan jalur udara. Selain penerapan bom air (watter bombing), BNPB bersama tim juga akan melakukan upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk hujan buatan. (Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei mengatakan memasuki musim kemarau, mulai mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh wilayah Indonesia. Terutama, di provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan Riau.

"Tidak ada (daerah) yang dikhususkan. Jadi semua sama kita untuk mengantisipasinya. Cuma yang paling rawan dari semua provinsi kan Sumatera Selatan dan Riau," katanya saat ditemui di Istana Wakil Presiden (Wapres), Jakarta, Rabu (5/7).

Tetapi, secara umum, Willem memaparkan sejumlah antisipasi telah dilakukan oleh BNPB. Di antaranya, menyiagakan helikopter untuk water bombing dan juga terus melakukan patroli darat di beberapa wilayah langganan kebakaran.

"Pencegahannya yang sudah kita lakukan, kita memantau secara ketat perkembangan hot spot di lapangan. Kedua, kita sudah mengantisipasi dengan menerjunkan kekuatan kita, baik itu dari udara maupun darat. Jadi ada satuan tugas darat untuk pemadaman sudah kita standby kan. Lalu kita juga sudah men-standby-kan helikopter untuk water bombing. Itu sudah kita lakukan, patroli, sosialisasi sudah kita lakukan semua," ungkapnya.

Sebagaimana diberitakan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) merilis bahwa hot spot atau titik api pada semester pertama tahun 2017 turun 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016.

Kemudian, untuk luasan hutan dan lahan terbakar, sampai Juni 2017 seluas 15.983 hektar, pada 2016 ada 438.000 dan 2,61 juta hektar pada 2015. Dari jumlah tersebut, 5.922 hektar lahan gambut, 10.061 hektar mineral.

Sementara itu, BNPB merilis bahwa ancaman karhutla akan meningkat pada puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada bulan Agustus mendatang. Untuk itu, telah disagakan 12 helikopter water bombing dan dua pesawat hujan buatan.

Selain itu, operasi penegakan hukum dan pelayanan kesehatan serta pemberdayaan masyarakat akan terus berjalan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon