BMI Desak DPR Segera Sahkan RUU Terorisme
Kamis, 6 Juli 2017 | 20:36 WIB
Jakarta - Desakan agar Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk segera merampungkan pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) Tentang Tindak Pidana Terorisme terus bergulir. Kali ini, desakan muncul dari organisasi sayap partai PDI Perjuangan (PDIP), Banteng Muda Indonesia (BMI).
Sekjen DPP BMI, Antoni Wijaya, menyatakan, penuntasan pembahasan RUU Terorisme saat ini sudah menjadi kepentingan nasional. Sebab, belakangan ini masyarakat sering kali dikagetkan dengan ulah nekat para terduga jaringan teroris yang semakin menjadi-jadi.
"Sampai pertengahan tahun ini saja sudah ada lebih dari tiga kasus. Bom Kampung Melayu, penyerangan Mapolda Sumut, penyerangan dua anggota Brimob yang sedang sholat isya di Mesjid Al-Fatehan dekat Mabes Polri, bahkan, kemarin, Selasa 4 Juli 2017, kita juga dikagetkan dengan pemasangan bendera identik logo ISIS di Mapolsek Kebayoran Baru. Itu bukti bahwa mereka sudah berani menebar teror secara terang-terangan," kata Antoni di Jakarta, Kamis (6/7).
Antoni menambahkan, cara menghadapi para pelaku teror harus dilakukan dengan komprehensif. Penyelesaian yang diatur dalam RUU Terorisme akan datang harus mensinergiskan penindakan, pencegahan, dan rehabilitasi para korban terorisme.
"Dan itu harus segera diselesaikan. Karena kalau tidak mereka akan semakin menjadi-jadi," tandas dia.
Lebih jauh, Antoni mengatakan, dalam konteks pencegahan, peran aparat kepolisian harus bersinergi dengan aparat keamanan lainnya seperti TNI dan intelejen negara lainnya. Dia meyakini dalam memutus mata rantai jaringan teroris yang sewaktu-waktu dapat melakukan penyerangan harus melibatkan seluruh stakeholder terkait.
"Ancaman teroris itu sudah tidak main-main lagi. Bolanya saat ini ada di DPR, oleh karena itu DPR harus segera menyelesaikan RUU Terorisme itu," tegas politisi PDI Perjuangan itu.
Diketahui sebelumnya, pada hari Selasa 4 Juli 2017 dini hari, Mapolsek Kebayoran Baru mendapatkan teror dari terduga pelaku teroris. Mereka memasang bendera atau simbol yang identik dengan lambang ISIS.
Selain itu, para pelaku juga meninggalkan surat kaleng yang menyatakan tidak akan pernah tinggal diam memerangi para thogut (kafir) yang ditujukan kepada institusi kepolisian. Bahkan, dalam surat kaleng tersebut, para pelaku menyatakan akan melakukan serangan di Indonesia seperti halnya yang dilakukan di Marawi, Filipina.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




