Bogor Tetap Berperan sebagai Penyangga Jakarta
Jumat, 7 Juli 2017 | 14:29 WIBBogor - Wacana pemindahan Ibu Kota ke luar Pulau Jawa dianggap tidak akan mempengaruhi Bogor sebagai wilayah penyangga Jakarta.
Hal tersebut dijelaskan Bupati Bogor Nurhayanti usai menghadiri acara Halal Bihalal Pemerintah Kabupaten (Pemkab), Cibinong, Kamis (6/7).
Sebagai kepala daerah, Nurhayati mengaku tidak memiliki kapasitas dalam mengomentari wacana menjadikan DKI Jakarta sebagai pusat bisnis Indonesia ke depannya. Ia melihat, sekalipun Pemerintah Pusat mencabut status Jakarta dari Daerah Khusus Ibu Kota (DKI), wilayah Bogor akan tetap menjadi daerah penyangga pusat bisnis Jakarta.
"Kan itu baru wacana. Lagi pula, mau pindah kemana pun, Kabupaten Bogor akan tetap berbatasan dengan Jakarta sebagai penyangga yang harus memiliki kesinambungan perencanaan pembangunan dan terintegrasi," tutur Nurhayanti.
Saat ini, kata Nurhayati, DKI Jakarta masih berkembang sangat pesat, baik sebagai pusat pemerintahan dan pusat bisnis Indonesia. Meskipun Ibu Kota berpindah, Bogor yang notabene berbatasan dengan Jakarta tidak akan luput dari setiap kebijakan Jabodetabek nantinya.
"Hal tersebut juga tidak akan berpengaruh pada setiap kebijakan-kebijakan Pemerintah Pusat dalam menata Bogor sebagai wilayah penyangga," kata dia.
Nurhayanti menjelaskan, kebijakan Pemerintah Pusat yang mendukung daerah Bogor seperti pengerjaan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi, pembuatan dua waduk di Cipayung-Megamendung, dan kebijakan transportasi terintegrasi, semuanya berjalan sesuai skema.
"Ibu Kota berpindah, kebijakan Bogor sebagai daerah penyangga tetap berjalan. Pembuatan waduk sudah terlihat progress. Sebanyak 300 bidang telah mendapat pembayaran pembebasan lahan yang akan dilanjutkan kembali setelah liburan lebaran 2017 ini," katanya.
Sementara itu, Pemerhati Peneliti, Perencanaan dan Pengembangan Tata Kota, Yayat Supriyatna, menilai, pemindahan Ibu Kota ke wilayah luar Pulau Jawa dan menjadikan Jakarta pusat bisnis bisa dijadikan momentum wilayah Bogor untuk terus berkembang
Yayat melihat, dampak Jakarta menjadi pusat bisnis bisa menular ke daerah-daerah penyangga seperti Bogor, Bekasi, Depok, dan Tangerang. Sehingga investor akan melihat daerah penyangga dan aktivitas kebanyakan orang tidak terkonsentrasi ke Jakarta yang saat ini menyandang Ibu Kota dan pusat bisnis.
"Contohnya Australia, sekarang pusat pemerintahan ada di Canberra, tapi Sydney yang dulunya Ibu Kota juga sekarang tetap berkembang sebagai pusat bisnis. Jadi saya rasa untuk percepatan pemerataan pembangunan," katanya.
Menurutnya, Jakarta menjadi pusat bisnis, justru akan menguntungkan daerah-daerah penyangga. Keuntungan tersebut, kata Yayat, sudah terlihat dengan pembangunan infrastruktur dan transportasi ke daerah-daerah penyangga.
"Nah, sekarang bagaimana kesiapan wilayah penyangga untuk terus berkembang. Sehingga orang tidak lagi berbondong-bondong dan bermacet-macet ke Jakarta, justru ke daerah-daerah penyangga nantinya," paparnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




