Menhan: Nasionalisme Dibutuhkan untuk Lawan Radikalisme

Rabu, 12 Juli 2017 | 13:46 WIB
AP
AO
Penulis: Asni Ovier Dengen Paluin | Editor: AO
Ryamizard Ryacudu.
Ryamizard Ryacudu. (SP/Joanito de Saojoao)

Bogor - Berbagai ancaman terhadap negara, seperti radikalisme, terorisme, pemberontak bersenjata, hingga perdagangan manusia dan narkoba, hanya dapat dilawan dengan sikap nasionalisme. Semua komponen masyarakat patut untuk bergerak bersama untuk melakukan langkah pencegahan maupun pemberantasan terhadap ancaman-ancaman tersebut.

Pandangan itu disampaikan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat menjadi pembicara kunci pada seminar internasional tentang ilmu pertahanan yang digelar Universitas Pertahanan (Unhan) di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Rabu (12/7).

Menurut Menhan, harus ada kesadaran kolektif sesama anak bangsa untuk menghadapi berbagai potensi ancaman tersebut. "Harus ada upaya besar dan bersama-sama untuk menghadapi ancaman itu. Jati diri bangsa dan sikap nasionalisme harus diperkuat sebagai fondasi ketahanan nasional kita," ujarnya.

Seminar internasional yang diselenggarakan Unhan pada 12 hingga 13 Juli itu dihadiri para pakar dunia dari Eropa, Amerika, Asia, dan Australia. Seminar tersebut bertema "New Thinking for Strategic Policy in the Field of Security, Stability, and Humanities Affairs in Region of Asia Pacific and Oceania".

Selain pakar-pakar ilmu pertahanan dunia, para pakar pertahanan dari Indonesia juga tampil sebagai pembicara. Mereka adalah para akademisi dan praktisi, termasuk dua mantan menteri dan satu mantan Kepal Staf TNI Angkatan Laut (Kasal). Seluruh pembicara terbagi ke dalam empat topik, yakni security, stability, human security, dan human welfare dengan perspektif defense studies dan defense technologies.

"Indonesia International Defense Science Seminar 2017 bermaksud menggali pemikiran-pemikiran baru tentang keamanan dan kesejahteraan global guna meningkatkan bahan perkuliahan dan promosi Unhan pada forum internasional.

Pada kesempatan itu, Menhan juga menyinggung keberadaan ISIS di Tanah Air. Menurutnya, mayoritas penduduk Indonesia, atau sekitar 96% menolak keberadaan ISIS di Bumi Pertiwi.

"Berdasarkan survei pada 2015, 96% rakyat Indonesia menolak ISIS. Pemerintah terus berupaya agar sisanya yang 4% tetap setia kepada Pancasila dan NKRI serta tidak mudah dirayu oleh kelompok itu. Kalau ISIS masuk Indonesia, saya tegaskan, akan saya hancurkan," ujar mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) itu.

Menhan juga berharap agar seminar internasional yang digelar Unhan itu bisa menghasilkan pemikiran-pemikiran tentang upaya menjaga keamanan dunia.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon