Skandal Trump Persulit Posisi Wapres AS
Senin, 17 Juli 2017 | 17:27 WIB
WASHINGTON – Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) Mike Pence adalah sosok yang setia, dan selalu berhati-hati menangani kekacauan di Washington. Akan tetapi skandal Presiden AS Donald Trump dengan Rusia semakin menganggu Gedung Putih dan ikut menyeret Pence ke dalam situasi politik yang genting.
Pada saat masalah yang menimpa Trump terus bertambah setiap harinya sampai terjerumus ke dalam penyelidikan yang meluas soal hubungan kampanye pemilihan presiden (pilpres) tahun lalu dengan Rusia, para ahli mengatakan bahwa wakil presiden AS ke-48 itu tetap berada di sisinya – setidaknya untuk saat ini.
"Pence berada dalam posisi yang sangat sulit," ujar Joel Goldstein, ahli kepresidenan dari Saint Louis University School of Law, kepada AFP.
Bahkan ketika putra tertua, Donald Trump Jr baru-baru ini mengaku bahwa dirinya dan para pembantu kampanye bertemu dengan pengacara Rusia tahun lalu. Harapannya adalah bisa mendapatkan kelemahan rival Trump, Hillary Clinton dari Demokrat. Pence memilih menjauhkan diri dari skandal bola salju.
"Dia tidak fokus pada cerita tentang kampanye tersebut, terutama cerita tentang waktu sebelum dia bergabung dengan kandidat yang diusung partai," bunyi pernyataan dari kantor Pence.
Goldstein menambahkan, seorang wakil presiden diharapkan setia kepada presiden, namun Presiden Trump memberikan beban yang berat pada bawahannya dengan mengatakan dan melakukan hal-hal yang seringkali sulit untuk dipertahankan.
Jika penyelidik federal dan kongres menggali lebih dalam soal tuduhan kubu Trump berkolusi dengan Rusia untuk menganggu pilpres 2016, sekarang beberapa anggota Demokrat menyerukan secara terbuka agar presiden dimakzulkan (impeachment).
Meski prospek pemakzulan oleh Kongres yang dikuasai Republikan terlihat kecil, namun awan Rusia masih enggan bergeser.
Apabila, akhirnya Trump diberhentikan dari jabatannya maka Pence akan menjadi wakil presiden AS ke-10 yang naik jabatan sebagai presiden tanpa melalui pemilu – ini kali pertama sejak Gerald Ford menggantikan Richard Nixon setelah skandal Watergate pada 1974.
Saat ini, mantan gubernur Indiana berusia 58 tahun itu, menjadi orang yang paling dekat dengan presiden AS – baik sebagai pengganti langsung Trump jika jabatannya berakhir sebelum waktunya atau sebagai penerus kepemimpinannya pada pada 2020 atau 2024, tergantng berapa lama Trump memegang masa jabatannya.
Kedua pria itu juga sangat berbeda pandangan, di mana Trump suka mengaburkan garis-garis ideologis. Sedangkan Pence adalah seorang konservatif Kristen yang memegang komitmen, kaku, dan disiplin, mengingat atasannya adalah pria yang berapi-api dan sulit diduga.
Bahkan ketika Trump kerap men-twit soal rancangan undang-undang (RUU) layanan kesehatan, sebaliknya, Pence-lah yang mondar-mandir antara Gedung Putih dan Kongres menjalani upayanya untuk menyelamatkan undang-undang yang terancam itu.
Jika di Washington, Trump adalah sosok yang bergolak maka Pence dipandang sebagai kekuatan dalam menegakkan administrasi. Situs berita Daily Beast baru-baru ini mengibaratkan Pence sebagai "kapak yang diletakkan di balik kaa yang harus digunakan untuk memecankan kaca jika terjadi kedaan darurat".
Ketika Pence ditawarkan untuk merasakan bagaimana rasanya berada di roller coaster Trump – yang bisa disebut sebagai pemimin AS paling kontrovrsial di zaman modern.
"Anda harus menjaga lengan dan kaki anda setiap saat dalam perjalanan. Kemudian turunkan alat pelindungnya karena Anda harus bertahan," pungkasnya kepada para pemimpin mahasiswa di American University. (afp)
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




