Sekolah Negeri Masih Jadi Favorit Warga Depok
Senin, 17 Juli 2017 | 18:59 WIB
Depok - Sekolah negeri masih menjadi pilihan dan favorit bagi warga Depok. Para orangtua siswa beralasan masuk sekolah negeri memiliki kebanggaan tersendiri karena untuk masuk ke sekolah tersebut harus melalui jalur seleksi yang cukup ketat.
Meski terbilang memiliki status ekonomi yang terbilang lebih dari cukup, orangtua siswa tetap lebih melirik sekolah negeri untuk tempat sang anak menimba ilmu.
Misalnya saja Raden Agus, warga Kecamatan Sukmajaya yang juga berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemkot Depok.
Agus tetap memilih SMP Negeri bagi anaknya yakni Mahira untuk menuntut ilmu. Beruntung Mahira terbilang siswa yang cerdas. Dengan nilai rata-rata Ujian Nasional SD sebesar 9, maka dia bisa diterima di SMP Negeri 4 Depok melalui jalur akademik Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online yang digelar 10-12 Juli 2017 lalu.
Walau berprofesi sebagai ASN Pemkot Depok tapi Agus enggan menggunakan kewenangan yang dimiliki agar Mahira bisa masuk SMP Negeri. "Buat apa? Saya tidak suka dengan hal-hal seperti itu sejak dulu. Itu tidak jujur. Lagipula nilai anak saya bagus dan dia bisa diterima dengan cara murni melalui jalur online," ujar Agus kepada SP di Depok, Jawa Barat, Senin (17/7).
Agus lebih memilih sekolah negeri karena sekolah negeri diyakini memiliki kompetensi yang lebih baik untuk sang anak dalam dunia akademik. Apalagi SMP Negeri 4 tercatat sebagai SMP Negeri yang kualitasnya baik.
"Kalau SD, iya sudah di swasta tapi untuk di negeri saya ingin dia masuk SMP Negeri. Biar dia berkompetisi secara sehat dengan teman-temannya yang juga cerdas," kata Agus.
Dari segi biaya, tidak menjadi kendala bagi Agus namun dia ingin sang anak mampu berkompetensi dengan ketat dan baik. Oleh karena itu dia memilih SMP Negeri.
Berbeda dengan Agus, Nasrul Sinin memilih SMA Negeri untuk sang anak, Salsadila, lantaran biaya sekolah yang terjangkau. Sebagai seorang tukang ojek, penghasilan yang tidak stabil setiap bulannya membuat Nasrul lebih memilih sekolah negeri untuk sang anak.
Beruntung, Salsadila terbilang cerdas. Setelah bersekolah di SMP Negeri 2 Depok, kini dia diterima di SMA Negeri 3 Depok yang merupakan SMA Favorit nomor tiga di Kota Depok. "Saya harus banyak nabung. Saya pengen nyekolahin dia sampai kuliah di kedokteran. Alhamdulillah ini dia keterima di SMA Negeri 3. Saya jadi tambah semangat cari uangnya," tutur Nasrul.
Bicara soal biaya, SMP swasta ataupun SMA Swasta membanderol biaya masuk hingga mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah sebagai uang masuk bergantung pada mutu sekolah tersebut. Sedangkan SMP atau SMA Negeri tidaklah demikian. Untuk masuk SMP atau SMA Negeri biasanya hanya membutuhkan dana ratusan ripu rupiah hingga Rp 1juta.
Sebuah Sekolah Dasar Islam Terrpadu (SDIT) di Kota Depok memasang tarif hingga Rp 20juta untuk tahun ajaran baru. Jumlah itu termasuk seragam dan uang masuk. Sedangkan untuk SD Negeri biayanya amat sangat terjangkau. Itupun tidak membayar uang SPP setiap bulannya. Alias gratis.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok Muhammad Thamrin mengatakan, kualitas sekolah swasta dan negeri di Kota Depok sebenarnya sama baiknya. Bahkan, banyak sekolah swasta yang sudah tutup pendaftaran lebih dulu jauh sebelum PPDB dimulai.
"Ya ini karena kualitas mereka sudah baik. Jadi muridnya sudah banyak dan kelasnya sudah cukup. Oleh karena itu banyak sekolah swasta yang sudah lebih dulu tutup pendaftaran. Misalnya Sekolah Al Haraki, Sekolah Pribadi, Sekolah Dian Didaktika, Sekolah Nurul Fikri," papar Thamrin.
Namun demikian meski sekolah swasta sudah berkualitas baik, diakui Ketua Komisi D DPRD Kota Depok Lahmudin Abdullah, masih banyak orangtua siswa yang negeri minded alias berorientasi sekolah negeri. Padahal daya tampung sekolah negeri tidak sebanding dengan jumlah siswa yang lulus dalam satu tahun.
"Kami ke depannya lebih cenderung ingin membangun gedung baru bagi SMP yang masih menumpang daripada menambah sekolah baru. Tapi kami juga tetap berkoordinasi dengan Pemkot Depok apakah mereka akan membangun gedung lebih dulu ataukah menambah SMP Negeri baru," kata Lahmudin.
Saat ini Kota Depok memiliki 145 SMP Swasta dan 26 SMP Negeri. Pemkot Depok menitikberatkan pembangunan gedung baru bagi SMP yang masih menumpang di SD. Pembangunan akan difokuskan untuk SMP Negeri 25 dan SMP Negeri 26.
Rencananya pembangunan dimulai Agustus 2017. Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kota Depok Sariyo Sabani. Kedua sekolah itu hingga kini belum memiliki bangunan sendiri. Aktivitas belajar mengajar pun menumpang di sekolah dasar negeri terdekat.
"Harus segera dibangun. Tahun 2017 ini kami berharap sudah bisa selesai," kata Sariyo.
Dia mengatakan, pembangunan menunggu beresnya proses pelelangan. "Kemarin-kemarin sudah ada paparan dari konsultan perencanaan, setelah itu kita serahkan ke bagian layanan pelelangan," ujar Sariyo.
Alokasi dana pembangunan gedung SMP Negeri 25 dan 26 diperkirakan mencapai Rp 18 miliar. Masing -masing sekolah tersebut mendapat kucuran dana APBD Kota Depok senilai Rp 9 miliar. Pengerjaan bangunan sekolah menjadi tanggung jawab Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Depok.
"Disdik tinggal menerima penyerahan bangunannya saja," ujar Sariyo.
Menurut Sariyo, penyelesaian pembangunan kedua gedung sekolah harus segera terealisasi.
Ditambahkan, kendala pembebasan lahan menjadi hal utama permasalahan pembangunan gedung sekolah di Depok. Mencari lahan luas untuk SMP adalah hal yang tidak mudah.
Lahmudin Abdullah mengusulkan untuk membangun gedung secara vertikal ke atas sehingga tak memakan banyak biaya pembebasan lahan. "Bisa terintegrasi dengan SD Negeri di mana sekolah tersebut masih menumpang," kata Lahmudin.
Sariyo berharap, gedung baru SMP Negeri 25 dan 26 sudah bisa digunakan pada awal 2018. Selain kedua SMP tersebut, rehabilitasi bangunan juga akan dilakukan di 91 sekolah untuk SD dan SMP baik negeri dan swasta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




