Cegah Defisit JKN, BPJS dan Kemkes Promosi Perilaku Hidup Sehat
Jumat, 21 Juli 2017 | 18:16 WIB
Jakarta- Defisit yang dialami Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan diperkirakan masih terjadi. Ada selisih besar antara iuran peserta dengan biaya untuk membayar klaim layanan kesehatan. Sebagian besar dana BPJS habis untuk membayar penyakit yang sebenarnya bisa dicegah, seperti hipertensi, diabetes, stroke, dan kanker.
Untuk mengurangi beban ini, BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan (Kemkes) terus melakukan kampanye dan promosi kebiasaan hidup sehat. Masyarakat diminta berpartisipasi menjaga keberlangsungan program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonsia Sehat (JKN-KIS) dengan berperilaku sehat, seperti berolah raga, konsumsi makanan sehat terutama buah dan sayuran.
Setelah kampanye hidup sehat pada pelajar di 13 Sekolah Dasar (SD) beberapa waktu lalu, BPJS Kesehatan juga menggelar olahraga bersama Kementerian Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan di Gedung Kemkes, Jumat (21/7). Kegiatan ini sekaligus mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang telah dicanangkan Presiden Joko Widodo.
Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengatakan, optimalisasi program promotif dan preventif dimaksudkan untuk kendali mutu dan kendala biaya guna menjaga kualitas layanan kesehatan bagi peserta JKN-KIS. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat berperilaku sehat, diharapkan peserta JKN-KIS yang sakit bisa menurun, sehingga pembiayaan pelayanan kesehatan dapat dialokasikan pada program promosi dan pencegahan penyakit agar masyarakat tetap sehat, atau yang sudah terlanjur sakit tidak semakin parah.
"BPJS Kesehatan ingin mempromosikan betapa murah dan mudahnya menerapkan pola hidup sehat. Cukup berolahraga setiap pagi, dan makan makanan sehat, itu sudah bisa meningkatkan kebugaran dan sistem imum kita, sehingga tidak mudah sakit," kata Fachmi usai olah raga bersama Menteri Kesehatan Nila Moeloek.
Menurut Fachmi, dalam implementasi program JKN-KIS, prinsip managed care diberlakukan, dimana terdapat empat pilar, yaitu promosi, pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi. Artinya, JKN-KIS bukan hanya untuk kuratif atau pengoabatan seperti persepsi masyarakat selama ini, tetapi juga untuk promosi dan pencegahan penyakit.
Selain kampanye hidup sehat, BPJS Kesehatan bersama fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) melakukan deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan IVA dan papsmear disamping Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). BPJS Kesehatan juga mengadakan kegiatan olahraga bersama, seperti senam, lari, dan bersepeda dengan pemerintah/lembaga terkait. BPJS Kesehatan juga menyediakan tele-consulting melalui call centre 1500-400.
Sebagaimana diketahui, jumlah penduduk yang menjadi peserta JKN-KIS terus meningkat. Saat ini tercatat sebanyak 179.011.459 peserta yang sudah terdaftar. Untuk memberikan pelayanan kepada peserta, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 20.877 FKTP yang terdiri 9.829 puskesmas, 4.523 dokter praktik perorangan, 1.151 dokter praktik gigi perorangan, 5.360 klinik pratama, dan 14 rumah sakit D Pratama. Selain itu, BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 5.451 fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKTRL) yang terdiri atas 2.179 rumah sakit, termasuk 181 klinik, 2.274 apotik, serta 998 optik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




