Juni 2017, Schroders Kelola AUM Rp 82,4 Triliun

Sabtu, 22 Juli 2017 | 09:50 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Schroders
Schroders (Reuters)

JAKARTA - PT Schroders Investment Management Indonesia membukukan dana kelolaan (asset under management/AUM) sebesar Rp 82,43 triliun hingga Juni 2017, atau naik 7% dari posisi sama tahun lalu Rp 77 triliun. Perusahaan asal Britania tersebut menargetkan kenaikan AUM hingga 10% untuk sepanjang 2017.

Executive Vice President Schroders Indonesia Bonny Iriawan mengatakan, portofolio terbesar perusahaan masih pada reksa dana saham. Menurutnya, Schroders tidak hanya meletakkan investasinya pada saham-saham LQ45 tetapi juga pada saham lapis dua atau tiga dengan fundamental dan good corporate governance (GCG) yang kuat.

"Saham yang kami investasikan di saham second atau third liners itu minimal dengan kapitalisasi pasarnya Rp 30 triliun," ujarnya di Jakarta, Kamis (20/7).

Menurutnya, saat ini sektor-sektor yang termasuk overweight adalah konstruksi, perbankan, dan consumer goods yang pertumbuhannya saat ini diperkirakan lebih baik.

Menurutnya Schroders mengembangkan portofolio dengan banyak bekerja sama dengan pihak jasa keuangan lainnya. Saat ini pihaknya telah melakukan kerja sama dengan 18 bank dan lebih dari 15 perusahaan asuransi.

Presiden Direktur Schroders Indonesia Michael Tjoajadi menambahkan, dengan demikian pihaknya masih memiliki ruang pertumbuhan AUM hingga akhir tahun dengan target Rp 85 triliun.

Kondisi Pasar Indonesia
Bonny melanjutkan, kondisi pasar Indonesia saat ini mendukung untuk masuknya investasi. Salah satunya akibat tingkat inflasi tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Adapun pada Juli 2017 Bank Indonesia menyatakan tingkat inflasi sebesar 0,25% (month to month/MTM).

"Dua tahun lagi akan pemilihan umum Indonesia, biasanya setahun sebelumnya akan ada capital inflow. Pasar saham akan tumbuh," kata dia. Adapun sejak 1997 hingga pertengahan tahun ini imbal hasil (return) indeks harga saham gabungan (IHSG) mencapai 814%.

Dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana menembus angka Rp 374,08 triliun pada semester I-2017. Nominal tersebut setara dengan kenaikan 22,16% secara year on year (YoY) dari posisi AUM reksa dana yang sebesar Rp 306,80 triliun pada semester I-2016.

Berdasarkan statistik pasar modal pada Minggu ke-4 yang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) publikasi pada pekan lalu, tercatat total AUM total reksa dana telah mencapai angka tertinggi sejak 2011. Adapun, pada akhir 2016 posisi aktiva nilai bersih (NAB) atau AUM reksa dana menyentuh posisi Rp 388,75 triliun. Sementara, pada 2011 total AUM reksa dana baru mencapai Rp 167,23 triliun.

Kenaikan AUM reksa dana, juga turut diimbangi dengan jumlah reksa dana yang ada. Data OJK menunjukkan, pada 2011 total reksa dana yang ada di industri mencapai 671. Lalu naik secara bertahap hingga mencapai 1.425 pada 2016, dan menjadi 1.527 reksa dana pada akhir semester I-2017.

Dalam statistik pasar modal, OJK juga mencantumkan data reksa dana dari sisi jenis. Meski data tersebut baru mencapai periode 9 Juni 2017, tapi terlihat reksa dana saham dan terproteksi masih menjadi kontrbutor utama pertumbuhan AUM. "NAB reksa dana saham mencapai Rp 104,49 triliun, dan reksa danaterproteksi Rp 93,74 triliun," demikian seperti dikutip Investor Daily dari statistik pasar modal pada Minggu ke-4 Juni 2017 di Jakarta, Selasa (18/7).

Terkait perkembangan industri reksa dana, sebelumnya Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK Fakhri Hilmi menyatakan, saat ini investor di Indonesia sudah jauh lebih sophisticated. Hal tersebut turut berdampak terhadap minat investasi dan perkembangan total dana kelolaan reksa dana. Di sisi lain, perusahaan aset manajemen juga mulai merambah pemasaran secara online.

Ke depan, ia berharap, pertumbuhan industri reksa dana akan terus diiringi dengan penambahan investor baru dan penambahan unit penyertaan yang dibeli. "Saya kira kue untuk pertumbuhan reksa dana masih besar, karena proyek pemerintah sedang banyak kan. Kemudian, dari sisi minat perusahaan (aset manajemen) untuk menambah produk pun masih ada," ujar Fakhri. (c01)



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon