Dato Sri Tahir: Harta Hanya Titipan

Sabtu, 29 Juli 2017 | 12:03 WIB
DA
AB
Penulis: Dina Fitri Anisa | Editor: AB
Dato Sri Tahir (tengah) bersama Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi (kiri).
Dato Sri Tahir (tengah) bersama Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi (kiri). (B1/Dina Fitri Anisa)

"Kita yang tinggal di Jakarta yang dikelilingi oleh segala kemewahan, mungkin kita bisa mudah lupa diri. Tidak tahu lagi siapa kita, karena kita disiplin oleh pekerjaan."

Siapa sih yang tidak ingin menjadi seorang jutawan, bahkan miliuner? Ya, semua orang pasti menginginkannya. Hidup ini penuh dengan kebutuhan yang bisa dipenuhi dengan uang Tak jarang banyak orang lupa diri, karena terus terpacu untuk mengumpulkan harta sebanyak mungkin hingga tak peduli nasib orang lain.

Tidak begitu dengan salah satu orang terkaya di Indonesia, Dato Sri Tahir (65). Namanya dikenal seluruh pengusaha di Indonesia, bahkan dunia, sebagai pemilik Mayapada Group. Bukan hanya dengan kekayaan yang melimpah, tetapi karena jiwa sosialnya yang sangat tinggi.

Diketahui, dua kali dalam setahun terakhir, dirinya pergi ke perbatasan Irak dan Yordania untuk mengunjungi para pengungsi. Hal tersebut membuat dirinya dianugerahi penghargaan sebagai "Eminent Advocate" (Pejuang Terkemuka) Badan Urusan Pengungsi Persatuan Bangsa-Bangsa (UNHCR) atas kontribusi berharga dan tanpa pamrih kepada jutaan pengungsi. Dua pengusaha lainnya yang mendapat penghargaan tersebut adalah Hamdi Ulukaya asal Amerika Serikat (AS) dan Sheikha Jawaher Al Qassimi dari Sharjah, Uni Emirat Arab.

"Saya sebagai warga negara yang lahir di Indonesia, banyak orang yang menanyakan pada saya, Pak Tahir, kenapa Anda bergerak di sosial? Sebetulnya saya tidak patut menyandang suatu kata-kata dermawan atau yang lainnya. Saya hanya menjalani tugas sebagai seorang warga negara, yang mana saya diberkati atau lebih beruntung," katanya saat Pesta Adat Karo di Jakarta Pusat, Jumat (28/7).

Tak sampai disitu, pada Oktober nanti ia akan kembali untuk mengunjungi Bangladesh dan Lebanon untuk membantu pengungsi Rohingya. Namun, sebagai warga negara yang lahir di Indonesia, ia tetap menomorsatukan negeri ini.

"Saya bisa berusaha di Indonesia, sebagai warga negara Indonesia dan lahir di Indonesia. Ada peribahasa Tiongkok yang menyatakan bahwa lahir di suatu tempat, besar di suatu tempat dan mati di suatu tempat. Maka, dari kecil kita dibina, kesetiaan diri kita bukan kepada negara lain. Meskipun saya memiliki keturunan Tionghoa, tetapi kesetiaan saya hanya kepada satu negara, yaitu Indonesia," tegas filantrop ini.

Tak jarang juga dirinya melihat dan membantu para pengungsi yang terkena bencana di Indonesia. Ia mengatakan sangat bersyukur bisa membantu banyak orang yang membutuhkan bantuan. Hal tersebut membuatnya sadar bahwa masih banyak orang yang tidak beruntung dan memerlukan sumbangan dari orang-orang yang mampu.

"Setiap kali saya hadir, keliling ke beberapa tempat bencana, seperti meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta, gempa dan tsunami di Padang, banjir di Jawa Tengah, dan erupsi di Medan. Ketika saya mengunjungi sebuah wilayah bencana, mengunjungi saudara-saudara kita yang terkena musibah, saya berterima kasih karena telah mengingatkan kepada kita bahwa tidak jauh, di sekeliling kita ini masih banyak saudara yang susah dan menderita," kata pendiri Tahir Foundation ini.

Keseriusannya dalam menjalankan misi sosial ia buktikan juga dengan menandatangani perjanjian bersama 150 orang terkaya di dunia. Perjanjian itu menyebutkan 50 persen dari keuntungan yang didapat dari kegiatan usaha akan disumbangkan atau dikembalikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

"Saya pikir bahwa sebuah harta dalam kitab suci, dalam setiap agama itu sama. Harta adalah sebuah titpan, kita hanya memiliki hak untuk mengelola dan hak garap. Kita tidak diizinkan untuk memiliki. Dan bagaimana mengelola harta, itulah seni dan komitmen dari sebuah hati nurani," tutupnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon