Asita: Pariwisata di Jakarta Memprihatinkan

Selasa, 24 April 2012 | 20:49 WIB
RA
B
Penulis: Ronna Nirmala/ Arsito | Editor: B1
Pengunjung bersepeda di kawasan Monas, Jakarta. FOTO : Safir Makki/JAKARTA GLOBE
Pengunjung bersepeda di kawasan Monas, Jakarta. FOTO : Safir Makki/JAKARTA GLOBE
Contoh kecil yang dikritik adalah kenapa di bandara saja tidak ada tersedia peta wisata Jakarta.

Pengusaha dari kalangan perusahaan perjalanan wisata menuding angka pencapaian turis yang datang ke DKI Jakarta pada tahun 2011 yakni sebesar 1,8 juta turism, sebagai angka fiktif belaka. Pasalnya, menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DKI Jakarta, Hasiyanna S Ashadi, penghitungan angka tersebut tidak jelas dasarnya.

"Untuk level nasional saja misalnya, orang asing yang tiba di terminal kedatangan Bandara Soekarno-Hatta, pasti masuk dalam perhitungan angka turis. Padahal belum tentu dia itu turis," ujarnya dalam diskusi di Gedung Sarana Prasada Karya, Jakarta Pusat, Selasa (24/4).

Belum lagi, menurut Hasiyanna, terkadang relawan dari negara asing yang datang ke daerah bencana, juga dihitung sebagai turis. "Masa kita harus berharap sering terjadi bencana, hanya untuk meningkatkan jumlah wisatawan asing datang ke sini," tukasnya.

Lebih lanjut, Hasiyanna juga mempertanyakan komitmen Gubernur DKI Jakarta yang ingin menjadikan Jakarta sebagai salah satu kota tujuan wisata bagi para turis asing. "Mapping pariwisatanya seperti apa? Mau dijadikan apa? Bagaimana memilahnya?" kritiknya.

Menurut Hasiyanna lagi, apabila memang ingin dijadikan sebagai salah satu daerah tujuan wisata, mengapa Jakarta (selama ini) justru tidak dikelola dengan baik. "Jakarta tidak memiliki ikon city tour. Sebagai contoh kecil, pernahkah Anda menemukan brosur pariwisata mengenai Jakarta, saat Anda tiba di Bandara Soekarno-Hatta?" tegasnya.

Dirinya pun menyayangkan sikap Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI yang tidak ingin melibatkan sektor swasta di dalam membangun Jakarta sebagai destinasi pariwisata utama. "Kita harus memilih Gubernur yang mampu mengubah paradigma blue print pariwisata di Jakarta. Karena selama ini, Jakarta hanya mempertontonkan geng motor, kerusuhan, ancaman bom, dan hal-hal mengerikan lainnya," tegasnya.

Ditambahkan Hasiyanna, pembangunan di Jakarta saat ini sudah tidak memberikan peluang bagi pengembangan wisata, khususnya bagi para pengusaha pariwisata yang ingin turut serta membangun pariwisata di Jakarta.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon