Menpupera Raih Penghargaan dari BPPT

Kamis, 3 Agustus 2017 | 15:15 WIB
AR
YD
Penulis: Ari Supriyanti Rikin | Editor: YUD
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menyerahkan Sertifikat Layak Fungsi (SLF) Simpang Susun Semanggi kepada Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat dalam
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menyerahkan Sertifikat Layak Fungsi (SLF) Simpang Susun Semanggi kepada Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat dalam "Soft Launching" uji coba lalu lintas Jembatan Simpang Susun Semanggi, Jakarta, 28 Juli 2017 (BeritaSatu Photo/Danung Arifin)

Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) Dr. Ir. Mochamad Basuki Hadimuljono, M,Sc meraih gelar perekayasaan utama kehormatan (PUK) dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) 2017 di bidang infrastruktur.

Gelar PUK diberikan setiap tahun sejak tahun 2007 dan merupakan penghormatan setinggi-tingginya yang diberikan BPPT kepada seseorang atas jasa besarnya dalam kerekayasaan teknologi di Indonesia.

Hadir pula dalam PUK, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dan sejumlah pimpinan lembaga pemerintah non kementerian.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam sambutannya mengatakan, Basuki adalah sosok yang tepat mendapatkan gelar PUK di bidang infrastuktur.

"Perekayasaan pada akhirnya membuat sesuatu itu lebih baik, lebih murah dan lebih cepat. Apabila keberhasilan di bidang rekayasa dapat kita laksanakan maka bangsa ini dapat menjadi lebih baik, lebih bersaing dan lebih cepat," katanya dalam penganugerahan PUK di Auditorium BPPT, Jakarta, Kamis (3/8).

Pemberian gelar PUK kepada Menteri Basuki didasarkan pada jasa-jasanya yang sangat besar dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat dan bangsa Indonesia dalam memimpin pengembangan inovasi teknologi dan kerekayasaan pada bidang infrastruktur.
Beberapa prestasi inovasi teknologi yang telah dicapai oleh Basuki antara lain pembangunan 7 pos lintas batas negara, pembangunan jalan trans Papua, peningkatan akses trans Kalimantan, pembangunan bendungan, perumahan rakyat dan sarana pengendalian banjir.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Terobosan Dalam Pembangunan Infrastruktur Untuk Mengejar Ketertinggalan", Basuki menjelaskan bahwa infrastruktur yang handal adalah kunci utama untuk bisa meningkatkan daya saing bangsa.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur yang sudah dilakukan selama ini pada dasarnya bukan untuk memenuhi keinginan bermewah-mewahan namun untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dari negara lain yang telah lebih dahulu membangun infrastrukturnya.

Daya saing Indonesia dalam konteks global masih berada pada peringkat 41, sedangkan peringkat daya saing infrastruktur Indonesia sendiri mengalami peningkatan pada posisi sebelumnya yaitu di tahun 2013 berada di peringkat 92 dan pada tahun 2017 berhasil naik ke peringkat 60. Untuk itu Indonesia perlu meningkatkan daya saing infrastruktur menuju peringkat 50 di 2018 nanti.

Kepala BPPT yang juga Ketua Majelis Perekayasa Unggul Priyanto mengatakan, pemberian gelar ini melalui mekanisme penilaian dan pertimbangan yang sangat ketat oleh Majelis Perekayasa Nasional untuk bidang infrastruktur.

"Penganugerahan PUK kepada Menteri Basuki dalam bidang infrastruktur dipandang sangat tepat, mengingat sebagai Menteri PUPR beliau mendapatkan tugas yang sangat penting dari pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan infrastruktur secara nasional," ungkapnya.

Sejak digelar tahun 2007, hingga saat ini sudah ada 11 putra-putri bangsa dari berbagai latarbelakang bidang kerekayasaan yang telah dianugerahi PUK. Tahun 2007 Prof. Dr. Emil Salim meraih PUK di bidang lingkungan kebumian dan tahun 2016 Prof.Dr. Ir Indroyono Soesilo, MSc di bidang teknologi maritim.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon