Kenakan Pakaian Adat, Jokowi Ingin Contohkan Persatuan
Rabu, 16 Agustus 2017 | 16:38 WIB
Jakarta- Menghadiri Sidang Tahunan MPR tahun 2017 dan sidang bersama DPR dan DPD mengenakan pakaian adat bugis, Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berdarah Jawa ingin mencontohkan persatuan. Demikian juga Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) yang mengenakan pakaian adat Jawa Tengah, padahal berdarah Bugis.
Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Teten Masduki mengungkapkan bahwa pengenaan baju tradisional presiden dan wapres untuk menunjukkan kekompakan keduanya sekaligus menunjukkan kekayaan budaya nusantara. "Prosesnya (pemilihan baju) tidak pernah panjang kalau soal itu. Beliau punya ide sendiri. Ide presiden dan pak wapres samalah idenya," kata Teten yang ditemui di kompleks Gedung MPR/DPR RI, Jakarta, Rabu (16/8).
Sedangkan terkait pakaian keduanya yang saling bertukar, Teten mengungkapkan untuk mencontohkan bahwa persatuan bisa menjadi kekuatan. Dalam artian, tidak harus orang Jawa yang mengenakan pakaian adat Jawa atau orang Bugis yang mengenakan pakaian adat Bugis.
"Ini kan hari kemerdekaan. Kemerdekaan itu dulu diperjuangkan segala bangsa yang dulu kita bersuku-suku dan saya kira pakaian presiden dan wapres mengingatkan ingatan kita ke masa lalu, di mana kita memang bersuku-suku dan bersatu menjadi kekuatan. Artinya, kita sekarang sudah mencair. Tidak harus orang Jawa harus pakai baju Jawa atau orang Makassar pakai baju Makassar. Semua sebagai bangsa Indonesia," ungkapnya.
Untuk diketahui, dalam dua pidato kenegaraan yang disampaika pada Rabu (16/8), Presiden Jokowi berulang kali menekankan bahwa perbedaan adalah suatu kekuatan untuk menghadapi tantangan bangsa ke depan. Kemudian, persatuan adalah harga mutlak yang harus diwujudkan oleh semua elemen bangsa.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




