Nasionalisme Nelayan Tadulako

Jumat, 18 Agustus 2017 | 03:08 WIB
JL
B
Penulis: John Lory | Editor: B1
Kelompok Nelayan Tadulako Mandiri menggelar upacara peringatan HUT ke-72 RI di Pantai Tondo, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, 17 Agustus 2017.
Kelompok Nelayan Tadulako Mandiri menggelar upacara peringatan HUT ke-72 RI di Pantai Tondo, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, 17 Agustus 2017. (John Lory/ Suara Pembaruan)

Palu - Jauh dari ingar bingar kota dan sorotan media, masyarakat nelayan yang tergabung dalam kelompok Nelayan Tadulako Mandiri menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Kemerdekan RI di Pantai Tondo, Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Kamis (17/8) pagi.

Tidak ada kewajiban mereka mengikuti upacara karena mereka bukan pegawai negeri atau pekerja kantoran, namun demikian pengibaran bendera Merah Putih pagi itu diikuti ratusan orang, sebagian besar adalah para nelayan beserta keluarganya.

Upacara memperingati hari kemerdekaan yang baru pertama kali dilaksanakan oleh komunitas nelayan di Teluk Palu itu juga dihadiri sejumlah anggota DPRD Provinsi Sulteng, perwakilan dari pemerintah kelurahan, perwakilan Polsek, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat.

Di tengah debur ombak dan hembusan angin, upacara bendera yang di Pantai Teluk Palu itu berlangsung khidmat. Bertindak selaku inspektur upacara adalah Abdul Razak, pembina dari kelompok nelayan itu.

"Sepanjang hidup saya, pengalaman ini baru pertama kali terjadi, di mana sebagai masyarakat kecil, kami sebagai nelayan bisa memperingati hari kemerdekaan dengan melaksanakan upacara pengibaran bendera merah putih," kata Abdul dengan nada bangga.

Dia dan puluhan anggota nelayan lainya sependapat bahwa Indonesia bukan saja milik birokrat atau pegawai pemerintahan yang merayakan kemerdekaan dengan menggelar upacara besar.

Bangsa ini adalah milik seluruh lapisan masyarakat dan semuanya memiliki hak yang sama untuk merayakan hari besar ini, bukan hanya dengan perlombaan-perlombaan tetapi juga dengan menggelar upacara pengibaran bendera merah putih.

Abdul Razak memaparkan, saat ini terdapat sekitar 180 nelayan di Kelurahan Tondo. Namun dari jumlah tersebut, sekitar 40 persennya belum memiliki peralatan tangkap memadai seperti perahu maupun peralatan lain. Mereka hanya memancing dari bibir pantai untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Karenanya dia berharap, pemerintah, khususnya pemerintah Kota Palu dapat memerhatikan nasib nelayan di sekitar teluk Palu dengan menyediakan bantuan peralatan tangkap yang sangat dibutuhkan oleh para nelayan.

Anggota DPRD Sulteng dari Partai NasDem, Yahdi Basma, ditemui usai upacara bersama nelayan mengatakan masyarakat nelayan ternyata punya animo besar dalam seremonial penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih.

"Ini bukti bahwa masyarakat sipil juga sesungguhnya mempunyai keinginan untuk mencintai dan menghormati benderanya lewat upacara," kata Yahdi.

Yahdi menambahkan upacara memperingati hari kemerdekaan yang dilaksanakan kelompok nelayan memberi pesan bahwa semangat mencintai Merah Putih, dan semangat menghormati jasa pahlawan.

Semangat semacam itu tidak hanya ada di kantor-kantor pemerintahan dalam bentuk upacara-upacara seremonial namun ada juga di semua level anak bangsa.

"Demikian juga, pembangunan itu tidak boleh bertumpu hanya di pusat-pusat kota dan hanya menjadi beban pikiran pemerintah, tapi masyarakat kita di pinggiran juga harus terlibat secara aktif dalam pembangunan," paparnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon