Hasil SEA Games, Satlak Prima Hingga Menteri Akan Dievaluasi
Rabu, 30 Agustus 2017 | 17:14 WIB
Jakarta - Ketua Tim Ahli Wakil Presiden (Wapres), Sofjan Wanandi mengungkapkan bahwa akan ada evaluasi secara menyeluruh dalam bidang olahraga di Tanah Air, menyusul hasil SEA Games XXIX 2017 yang dianggap mengecewakan. Kontingen Indonesia berada di posisi kelima perolehan medali dari 11 negara yang berlaga.
Menurut Sofjan, selama ini koordinasi dalam dunia keolahragaan di Indonesia tidak berjalan dengan baik dan cenderung saling menyalahkan jika target prestasi tidak tercapai. Mulai dari menyalahkan masalah anggaran yang kurang atau terlambat turun, hingga peralatan yang tidak menunjang.
Padahal, ungkapnya, pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan atlet guna meningkatkan prestasinya. Walaupun, terkadang terkendala, seperti lambatnya pencairan anggaran.
"Koordinasi tidak baik. Akhirnya, kita sampai pada saling menyalahkan saja, ini duitnya terlambat lah, barang (peralatan) tua lah, macam-macam," kata Sofjan yang ditemui di kantornya, Rabu (30/8).
Untuk itu, Sofjan mengungkapkan pemerintah akan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Mulai dari anggaran, peralatan hingga masalah prestasi yang menjadi tanggung jawab dari Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima).
"Mereka semua harus bertanggung jawab tidak bisa saling menyalahkan dari pada ini semua. Kelemahan-kelemahan ini dipakai untuk memperbaiki setahun. Jangan sampai kita menghadapi masalah yang lebih sulit lagi di Asian Games. Kita harus persiapkan degan baik. Kalau perlu dengan special effort. Kami sudah punya rencana tapi tidak bisa diungkapkan dulu," ungkapnya.
Selain itu, lanjutnya, evaluasi juga akan dilakukan pada tingkatan menteri sebagai yang bertanggungjawab atas prestasi olahraga Indonesia.
"Iya (birokrasi) terlalu lama juga, karena kita satu sama lain tidak saling percaya. Karena takut. Karena bagaimanapun ada kasus korupsi, seperti Hambalang dan di Kementerian Olahraga, semuanya itu menyebabkan tidak saling percaya. Jadi memperlambat semua itu. Menurut saya akhirnya uangnya, pemeriksaanya terlalu ketat. Izinnya lebih ketat. Ini juga tidak mengambil effort yang betul juga. Sebagai pemimpin membiarkan saja. Menurut saya mestinya ada moril responsibility untuk memenangkan ini," ujarnya.
Lebih lanjut, Sofjan mengatakan bahwa evaluasi memang dibutuhkan atau mendesak jelang Asian Games ke-18 yang akan digelar di Jakarta dan Palembang, pada Agustus 2018. Apalagi, Indonesia mentargetkan masuk sembilan besar dalam perebutan medali.
Sebagaimana diketahui, berdasarkan laman resmi SEA Games, kualalumpur2017.com.my, per tanggal 30 Agustus 2017, Indonesia masih menempati posisi kelima perebutan medali. Dengan mengumpulkan 38 medali emas, 63 perak dan 90 perunggu.
Indonesia berada tepat di bawah Singapura yang berhasil mengumpulkan 57 medali emas, 58 perak dan 73 perunggu. Sedangkan, Malaysia selaku tuan rumah masih memuncaki klasemen perolehan medali, dengan 145 emas, 92 perak dan 86 perunggu.
Hasil tersebut tidak sesuai dengan target semula, yaitu masuk empat besar dalam perolehan medali. Bahkan, menempati posisi kedua. Mengingat, tuan rumah selalu menjadi juara umum dalam ajang SEA Games.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




