Dinkes Kota Bogor Sosialisasikan Bahaya PCC bagi Remaja

Sabtu, 16 September 2017 | 09:51 WIB
VS
FB
Penulis: Vento Saudale | Editor: FMB
ilustrasi obat-obatan
ilustrasi obat-obatan (berita satu)

Bogor - Beredarnya obat keras merek PCC (Paracetamol,Carisoprodol,Caffeine) di Kendari Sulawesi Tenggara, ternyata menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat Kota Bogor. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengimbau masyarakat hati-hati konsumsi obat.

Kepala Seksi Perbekelan Kesehatan, Pengawasan Obat dan Makanan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Nurhaeda mengimbau kepada masyarakat untuk tidak sembarangan meminum obat.

"PCC ini dulunya obat untuk penyakit jantung dan tidak boleh dikonsumsi sembarangan, karena banyak yang menyalahgunakan obat ini izin edarnya ditarik dan tidak boleh dijadikan sebagai obat lagi," ujar Nurhaeda, Sabtu (15/7).

Menurut Nurhaeda, PCC yang ada di Kendari kemungkinan diproduksi dan dijual secara ilegal untuk orang-orang yang biasa mengkonsumsi obat-obatan. Tujuannya bisa jadi untuk mendapatkan euforia effect, pleasure effect atau dalam bahasa mereka bisa bikin fly. Efek tersebut terjadi karena obat bekerja di susunan syaraf pusat yang membuat painkiller, membuat rileks dan tidur menjadi nyaman.

"Kalau dikomsumsi secara berlebihan serta dicampur dengan obat lain bisa mempengaruhi susunan saraf pusat dan segala sesuatu yang mempengaruhi saraf pusat akan menimbulkan halusinasi," terangnya.

Terkait peredaran PCC di Kota Bogor, lanjut Nurhaeda, karena itu merupakan barang ilegal keberadaannya tidak bisa terpantau atau terdeteksi, terkecuali jika ada razia dari kepolisian dan ditemukan obat tersebut. Namun, sejauh ini Dinkes Kota Bogor belum mendapatkan laporan kasus dari masyarakat terkait PCC ini.

Ia menambahkan, Dinkes bersama Disperindag selalu melakukan penyuluhan ke sekolah-sekolah terkait cara memilih obat dan menjadi konsumen cerdas. Sebelum memilih obat, masyarakat harus terlebih dahulu memperhatikan izin edarnya, membeli di tempat yang resmi, perhatikan tanda lingkaran warna pada obat dan jangan sembarangan menerima obat dari orang asing.

"Sosialisasi dan penyuluhan selalu dilakukan untuk meminimalisir penyalahgunaan obat," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan Penanggulangan Penyakit Menular dan Survailens Dinkes Kota Bogor Sari Chandarwati mengatakan, sejauh ini pihaknya belum mendapatkan laporan korban PCC, karena biasanya yang memakai obat-obatan tersebut dilakukan sembunyi-sembunyi.

Melihat kejadian di Kendari yang korbannya didominasi anak remaja, dirinya menyarankan agar kepolisian melakukan razia dan sekolah melakukan pemeriksaan kepada siswanya agar jangan sampai ada korban PCC di Kota Bogor.

"Setiap hari pasti ada saja jenis obat baru yang berbahaya, maka yang terpenting saat ini peningkatan pengawasan dan penguatan kepada anak dari dalam keluarga atau bisa juga dilakukan pengecekan tes urine," tambahnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon