61% Orang Indonesia Khawatir Dimata-matai Lewat Webcam
Senin, 23 Oktober 2017 | 17:58 WIB
JAKARTA – Sebuah survei dari Avast, pemimpin dalam produk keamanan digital untuk bisnis dan konsumen, menyimpulkan bahwa 61,7% orang Indonesia khawatir para peretas (hacker) bisa memata-matai mereka melalui kamera yang dikendalikan oleh komputernya (web camera/webcam).
Alat yang dapat meng-hack webcam komputer yang tersedia, baik secara regular maupun darknet, bahkan dalam beberapa kasus tersedia secara gratis. Hal itu tetap berpeluang terjadi, meskipun banyak komputer telah dilengkapi dengan lampu yang mengindikasikan webcam telah diaktifkan. Namun nyatanya, ada alat yang dapat membuat lampu webcam menjadi tidak aktif dan webcam bisa tetap aktif.
Survei yang dilakukan secara online oleh Avast pada Oktober ini, menunjukkan bahwa orang Indonesia sangat sadar bahwa peretas dapat memata-matai mereka tanpa perlu mengaktifkan lampu indikator pada webcam mereka.
"Secara global, dua dari setiap lima (40%) responden tidak menyadari adanya ancaman tersebut. Sementara itu, setengah (50,20%) orang Indonesia mengetahui kemungkinan tersebut," ungkap Ondrej Vlcek, CTO, EVP and GM Consumer Business di Avast, dalam keterangannya, pekan lalu.
Banyak kasus yang dialami, seperti mantan Direktur FBI James Comey dan CEO Facebook Mark Zuckerburg, secara fisik menutup webcam-nya untuk mencegah mata-mata yang tidak diinginkan bisa menyaksikannya. Namun, meski ada kekhawatiran tinggi, hanya 31,32% orang Indonesia secara fisik yang menutupi webcam komputer mereka.
Ondrej Vlcek menuturkan, menutup webcam merupakan awal dan usaha yang baik untuk menghindari dirinya dimata-matai. Namun, hal itu juga seringkali merepotkan orang yang sering menggunakan kamera komputer mereka.
"Oleh karena itu, kami telah merilis sebuah fitur yang memberi pengguna AVG dan Avast kontrol penuh atas siapa yang dapat menggunakan kamera mereka, tanpa harus menutupinya secara fisik," ujarnya.
Solusi Avast tersebut diklaim bisa mengakhiri mata-mata melalui webcam untuk selamanya. Sebab, solusi akan membuat tindakan dengan cara memblokir aplikasi penyusup (malware) dan aplikasi yang tidak tepercaya dari pembajakan webcam.
Selanjutnya, pengguna memiliki pilihan untuk memaksa semua aplikasi meminta izin mereka terlebih dahulu sebelum dapat mengakses webcam komputernya. Sementara itu, fitur Webcam Shield ada di dalam produk Avast Premier dan Webcam Protection terdapat di AVG Internet Security.
Sebagai pemimpin dalam produk keamanan digital, Avast kini telah melindungi lebih dari 400 juta pelanggan online. Avast menawarkan produk di bawah merek Avast dan AVG, yang melindungi pengguna dari ancaman di internet dan dari lanskap ancaman internet of things (IoT) yang terus berevolusi.
Jaringan deteksi Avast diklaim merupakan salah satu yang terdepan di dunia, dengan menggunakan teknologi machine learning dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk menghentikan ancaman secara real-time.
Produk perlindungan digital Avast bisa digunakan untuk perangkat bergerak (mobile), komputer (personel computer/PC), dan Mac dinilai tinggi dan telah tersertiikasi oleh VB100, AV-Comparatives, AV-Test, OPSWAT, ICSA Labs, West Coast Labs, dan beberapa organisasi lainnya. Avast didukung oleh firma ekuitas swasta terbesar CVC Capital Partners dan Summit Partners.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
AS Sebut Tak Ada Bukti Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Prabowo Minta Masa Tunggu Haji Lebih Singkat dari Saat Ini




