Meski Diguyur Hujan, Santri Purwakarta Pecahkan Rekor Nadzoman
Selasa, 24 Oktober 2017 | 11:07 WIB
Jakarta - Hujan deras yang terus mengguyur wilayah Purwakarta sejak sore tak menyurutkan semangat ribuan peserta untuk memperingati Hari Santri Nasional yang digelar di Taman Pesanggrahan Padjadjaran, Purwakarta, Senin (23/10) malam. Bahkan, meski terus diguyur hujan 15.000 peserta yang terdiri dari santri, kiai, anggota Majelis Taklim dan pengajian di seluruh Purwakarta ini memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia atau MURI kategori pembacaan nadzoman dalam bahasa Sunda dengan peserta terbanyak dan serempak.
"Ini pertama kali di Jawa Barat, pertama kali di Indonesia, sebanyak 15.000 orang membacakan nadzom secara serempak," ungkap Manajer MURI, Triyono dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (24/10).
Nadzom yang berasal dari bahasa Arab berarti syair yang memiliki keteraturan dalam rima yang sudah ditentukan oleh penyair.
Dalam sastra Arab terdapat beberapa pengaturan rima dan irama yang disebut dengan bahar, seperti bahar rojaz, bahar basith dan bahar kamil. Sementara dalam terminologi Sunda, nadzom dikenal sebagai syair yang berisi ajaran tentang falsafah yang mendorong pembacanya untuk berbuat baik dan tidak melanggar ajaran Agama Islam yang sudah digariskan.
Iramanya ada yang ditentukan secara bebas, ada pula yang diselaraskan dengan seni Sunda atau Jawa seperti laras pelog dan salendro. Nadzoman biasa dilantunkan menjelang shalat lima waktu.
Triyono menyatakan, nadzoman dalam peringatan Hari Santri Nasional di Purwakarta ini merupakan pelafalan syair dalam bahasa daerah yang pertama kali diselenggarakan. Faktor bahasa daerah ini menjadi alasan tersendiri bagi Muri untuk mencatatkan rekor nadzom serempak di Purwakarta.
"Bukan hanya terbanyak, ini unik dan pertama kali menggunakan bahasa daerah dalam hal ini bahasa Sunda," katanya.
Dalam kesempatan ini, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menjelaskan tujuannya menghidupkan kembali nadzoman di kalangan santri. Kang Dedi, sapaan Dedi Mulyadi menyatakan, selain merupakan ciri khas santri, nadzom juga berisi tentang petuah akhlak mulia yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
"Ini harus menjadi ciri khas santri zaman sekarang, zaman now kalau anak muda bilang. Jadi sebelum waktu salat tiba, mereka harus melafalkan nadzom, jangan diganti dengan rekaman musik digital yang diputar berulang-ulang. Feel-nya gak masuk. Transformasi nilai akhlak yang ada dalam nadzom jadi tidak bisa dilakukan," jelasnya.
Dedi yang lekat dengan peci hitam khas Nahdhatul Ulama lengkap dengan lambang garuda itu mengaku terinspirasi Kiai Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus untuk menjadikan akhlak sebagai tujuan utama dalam kehidupan beragama. Dikatakan, nadzom dapat menjadi media untuk menjadikan akhlak sebagai tujuan beragama.
"Ya, Gus Mus selalu mengatakan bahwa tujuan Agama itu untuk menyempurnakan akhlak. Saya kira nadzom harus menjadi media untuk itu," ungkapnya.
Selain nadzoman serempak, peringatan Hari Santri Nasional ini juga diisi dengan istighotsah dan taushiah yang dipimpin oleh Abuya Ahmad Muhtadi bin Dimyathi al Bantani atau akrab disapa Abuya Muhtadi Dimyathi, seorang ulama mufti (ahli fatwa) madzhab syafi’i yang berasal dari Pandeglang, Provinsi Banten.
Hujan yang terus mengguyur tak berpengaruh bagi para peserta untuk mengikuti kegiatan ini. Usai menunaikan ibadah Salat Isya di Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta, ribuan jamaah itu mulai memadati Taman Pesanggrahan Padjadjaran.
Taman ini terletak tepat di depan masjid tempat Syaikh Muhammad Yusuf bin Raden Djajanegara mengajar santrinya termasuk Syaikh Nawawi al Bantani pada masa lalu.
Dedi mengungkapkan kekagumannya atas semangat ribuan santri dan kiai untuk memperingati Hari Santri Nasional meski terus diguyur hujan. Dedi menyatakan, hujan merupakan tanda keberkahan dan patut disyukuri, bukan untuk dikeluhkan.
"Saya salut kepada para santri walaupun hujan deras, tetapi masih tetap bertahan. Hujan ini harus kita syukuri. Dulu, para kiai, para ulama pesantren tidak gentar mengamalkan Resolusi Jihad dari Kiai Hasyim Asy’ari, masa kita gentar hanya karena hujan," kata Dedi yang disambut tepuk tangan dari seluruh jemaah.
Diketahui, tanggal 22 Oktober yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo menjadi Hari Santri Nasional bertepatan dengan diserukannya Fatwa Jihad atau lebih dikenal sebagai Resolusi Jihad oleh Kiai Hasyim Asy’ari selaku Rais Akbar (Pimpinan Tertinggi) Nahdhatul Ulama untuk melawan pasukan sekutu.
Acep Munawar, seorang pengasuh Majelis Qurratul ‘Ain, Cijeler, Kecamatan Bojong menegaskan hujan tak akan menghentikannya untuk mengikuti kegiatan ini.
"Nggak apa-apa hujan, santri memang harus kuat. Kami akan mengikuti acara ini sampai selesai," tegas Acep.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




