Generasi Muda Harus Bersiap Hadapi Era Disrupsi Teknologi
Rabu, 25 Oktober 2017 | 22:59 WIB
Yogyakarta - Indonesia diprediksi oleh Mckinsley Global Institute akan memiliki bonus demografi pada tahun 2030. Jumlah penduduk usia produktif, diperkirakan bakal berjumlah dua kali lipat dari penduduk usia tua atau usia bayi. Kondisi ini berkebalikan dengan yang terjadi di Australia, Amerika Serikat (AS), Eropa, dan negara-negara maju lainnya.
Pengamat pendidikan, Muhammad Nur Rizal mengatakan, bonus demografi justru akan menimbulkan bumerang demografi jika bangsa ini tidak menyiapkannya dengan baik.
"Bukannya bisa mengelola kekayaan alam dan sumber daya manusia dengan bijak, para anak muda tersebut malah akan menghabiskannya dengan boros. Bangsa kita pun akan gagal membawa kesejahteraan dan keadilan," kata Rizal dalam seminar Edutech Festival bertajuk "Mengukir Senyum Pendidikan Indonesia" di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rabu (25/10).
Menurut Rizal, Indonesia perlu menyiapkan generasi muda yang produktif dan inovatif serta menguasai ilmu pengetahuan dan literasi teknologi. "Generasi muda harus siap menghadapi era disruptif teknologi. Di masa mendatang mereka harus memiliki etos kerja, sikap terbuka, serta mampu bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang semakin kompleks dan berubah dengan cepat," kata dosen Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.
Rizal mengatakan, di tangan generasi muda terletak kunci keberhasilan Indonesia, meskipun tantangan lingkungan saat ini semakin sulit dimana terjadi perlambatan ekonomi dunia yang menyebabkan pengangguran dimana-mana. Kemudian, banyak pihak menyikapi kemajuan teknologi dan internet saat ini dengan salah.
"Keterbukaan informasi dan ilmu pengetahuan tidak membuat masyarakat lebih terbuka dan toleran, justru memicu menyempitnya wawasan karena mereka justru enggan bekerja sama dan mengelompok dengan orang yang sepaham saja dan menghakimi pendapat yang berbeda dengan dirinya," tambah lulusan S3 Monash University ini.
Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) ini melanjutkan, Indonesia perlu membangun sistem pendidikan yang lebih adaptif terhadap perubahan globalisasi dan revolusi informasi digital. Sistem pendidikan yang terbuka serta memanusiakan manusia, bukan sistem pendidikan yang menyeragamkan yang dibangun dengan asumsi masa lalu.
"Sistem itu akan melahirkan sekolah-sekolah masa depan. Sekolah yang menyenangkan, yang memberi ruang tumbuhnya keunikan potensi setiap anak manusia, yang membangun tiga aspek dasar ketrampilan manusia untuk hidup di era digital, yakni memiliki keseimbangan olah pikir, olah perilaku (karakter), serta etos kerja yang kuat dan gigih," ujarnya.
Menurut Rizal, anak-anak muda kini dapat mempercepat perubahan dengan cara-cara milenial. "Seperti menjadi relawan yang menyiapkan sekolah sekolah masa depan yang mengelaborasi konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara secara modern dan kekinian," katanya menambahkan.
Sementara itu, Sekretaris Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Deni Hardianto mengungkapkan, saat ini dunia sedang dilanda disrupsi (gangguan) dengan hadirnya media baru berupa teknologi informasi dan internet.
"Oleh karena itu pendidikan harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Ke depan sekolah harus dibuat menyenangkan, membahagiakan, dan menyehatkan seperti yang ada di Finlandia," kata Deni.
Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, Haryanto menegaskan, di masa depan akan ada banyak profesi yang hilang akibat disrupsi teknologi. Sayangnya, sistem pendidikan di Indonesia belum menyiapkan anak-anak didik untuk menghadapi era tersebut.
"Di Indonesia siswanya abad 21, gurunya abad 20, dan kelasnya abad 19. Terdapat perbedaan yang cukup jauh. Saya berharap bidang teknologi pendidikan harus mengambil peran untuk mendekatkan gap-gap tersebut," kata Haryanto.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




