Kuartal III, Laba BRI Naik Tembus Rp 20,5 Triliun

Kamis, 26 Oktober 2017 | 11:19 WIB
LO
WP
Penulis: Lona Olavia | Editor: WBP
Ilustrasi Rupiah.
Ilustrasi Rupiah. (Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) hingga kuartal III-2017 berhasil mencatat pertumbuhan laba konsolidasi 8,2 persen mencapai Rp 20,5 triliun year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Naiknya pendapatan bunga dan nonbunga (fee based income) menjadi pemicu kenaikan laba bank pelat merah itu.

"Laba berasal dari pertumbuhan pendapatan bunga 11 persen dan kenaikan fee based 12 persen," kata Direktur Strategis Bisnis dan Keuangan BRI Haru Koesmahargyo dalam paparan kinerja kuartal III-2017 di Jakarta, Kamis (26/10).

Hingga kuartal III-2017, BRI mampu meraup fee based income sebesar Rp 7,4 triliun (bank only). BRI berupaya meningkatkan pendapatan nonbunga melalui strategi digital banking dan mengarahkan nasabah menggunakan internet banking, mobile banking dan jaringan e-channel. "Kita naikkan cadangan dan kita lakukan lebih di awal, jadi akhir tahun tidak ada penambahan CKPN sehingga kredit bermasalah atau NPL (non performing loan) tetap 2,2 persen-2,4 persen, maka laba bisa on track dengan target 5 persen-7 persen di akhir tahun," kata dia.

Di sisi kredit, Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan, BRI mampu menyalurkan hingga Rp 694,2 triliun atau naik 10,03 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tumbuh 14,2 persen dan mendominasi penyaluran yakni sebesar 75,8 persen atau Rp 526,5 triliun. Apabila dirinci, kredit ke sektor UMKM tersebut terdiri dari kredit mikro Rp 229,3 triliun, kredit konsumer Rp 108,2 triliun, kredit ritel dan menengah Rp 176,4 triliun dan kredit program Rp 12,6 triliun. "Ke depan BRI akan berupaya agar pembiayaan UMKM mencapai 80 persen dari total kredit sehingga secara tidak langsung BRI mampu memberikan multiplier effect terhadap perekonomian nasional," ucapnya.

Tidak hanya akses pembiayaan, BRI juga berupaya agar pelaku UMKM bisa naik kelas. Strategi yang dilakukan melalui digitalisasi UMKM seperti platform e-pasar, e-UMKM interaktif serta pengembangan agen BRILink.

Suprajarto mengatakan, kemampuan BRI menyalurkan kredit hingga tumbuh yoy dua digit dibarengi kredit yang berkualitas. Hingga akhir kuartal III 2017, NPL Gross BRI tercatat sebesar 2,33 persen atau di bawah rata-rata NPL industri Agustus 2017 sebesar 3 persen.

Bank BRI juga turut meningkatkan cadangan kerugian atau NPL coverage menjadi 198,2 persen dari sebelumnya 156,9 persen di kuartal III-2016. "NPL Coverage tersebut kami anggap cukup ideal dan konservatif dengan mempertimbangkan kondisi makro saat ini," jelasnya.

Selain penyaluran kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BRI tumbuh double digit secara yoy 10,9 persen menjadi Rp 770,6 triliun. Dana murah (CASA) masih mendominasi DPK BRI dengan komposisi sebesar 55,4 persen. Saat ini biaya dana BRI tercatat 3,47 persen atau turun dibandingkan 3,89 persen. "CASA kita dorong ke 60 persen. Komposisi deposito besarnya di institusi dan itu relatif mudah diatur. CASA akan kita naikkan dengan teknologi digital dan ada produk baru yang akan diluncurkan akhir tahun ini," katanya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon