Anak Muda di "Era Now"
Kamis, 2 November 2017 | 07:58 WIB
Tema Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-89 pada 28 Oktober 2017 yaitu ‘Pemuda Indonesia Berani Bersatu’. Persepsi tentang tema ini sangat luas dan salah satunya bisa dilihat dalam konteks berani bersatu melawan pengangguran dan kemiskinan dengan cara jitu yaitu berwirausaha.
Selain itu, tema HSP kali ini juga selaras dengan tema Hari Remaja Sedunia (International Youth Day 2017), yang diperingati 12 Agustus lalu, yaitu Youth Building Peace dengan harapan adanya campur tangan kaum muda bagi perdamaian dunia dan mereduksi konflik yang berorientasi terhadap kesejahteraan secara universal.
Hal ini mengisyaratkan peran penting kaum muda terhadap perekonomian yang dapat bersinergi dengan kesejahteraan-perdamaian. Argumen yang mendasari adalah kini jumlah kaum muda terus meningkat dan perkembangan teknologi memberi keleluasaan bagi kaum muda untuk berkiprah di semua bidang tanpa terkecuali.
Oleh karena itu, karya-karya kaum muda dibutuhkan untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan global, termasuk juga relevansinya dengan tujuan pembangunan dunia. Peran kaum muda terhadap prospek ekonomi juga bisa disinergikan dengan pencapaian sustainable development goals atau SDGs yang tidak lain adalah program pembangunan berkelanjutan dengan 17 tujuan dan 169 target terukur yang disepakati 193 negara PBB.
Perlu diketahui SDGs diterbitkan 21 Oktober 2015, menggantikan program Millenium Development Goals atau MDGs sebagai tujuan pembangunan bersama sampai tahun 2030. Salah satu dari 17 tujuan dari SDGs adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang terus menerus, inklusif dan berkelanjutan serta kesempatan kerja penuh, produktif dan pekerjaan yang layak bagi semua orang.
Oleh karena itu, beralasan jika peran dan kiprah kaum muda di era milenial, yang kemudian disebut generasi dotcom, menjadi kian penting. Utamanya tidak hanya membangun kewirausahaan tapi juga kiprah nyata lewat berbagai industri kreatif yang bisa dirintis sedari awal. Intinya, kaum muda jangan hanya mau menjadi objek, tapi harus berani menjadi subjek dalam pembangunan nasional.
Konsistensi
Argumen yang mendasari tuntutan- komitmen terkait peran dan kiprah generasi dotcom adalah komposisi struktur demografi di Indonesia. Sebab, kuantitas penduduk usia muda di Indonesia cenderung dominan dan menjadi salah satu keunggulan riil karena berusia produktif. Artinya, keberadaan generasi dotcom menjadi kekuatan ekonomi meski harus didukung dengan sebaran kuantitas dan kualitas pendidikan yang merata dan tentunya kesempatan kerja yang luas.
Rerata usia generasi dotcom yaitu 28,6 tahun (tahun 2016), yang berarti lebih dari separuh penduduk Indonesia berusia 28,6 tahun ke atas. Sedangkan sisanya berusia di bawah 28,6 tahun, dengan diskripsi rerata usia wanita 29,1 tahun dan pria 28,1 tahun. Konsekuensi dari bonus demografi ini memberikan keuntungan ganda, yaitu pertama dari aspek produksi, dan kedua aspek konsumsi.
Persepsi dari aspek produksi tidak bisa lepas dari peluang bagi generasi dotcom untuk melakukan kegiatan produksi pada semua bidang sehingga terjadi geliat ekonomi yang bisa memberikan nilai tambah. Impikasinya adalah semakin banyaknya usaha rintisan atau start up, baik dalam format usaha formal atau informal.
Paling tidak, hal ini terlihat dari maraknya bisnis start up di bidang online yang mayoritas digarap generasi dotcom. Fenomena ini menarik dicermati karena berdampak positif terhadap geliat ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, juga kesempatan menabung, investasi dan kapasitas modal.
Oleh karena itu, sangatlah beralasan jika penumbuhkembangan kewirausahaan harus dipacu sedari dini, baik di level pendidikan menengah atau lewat perguruan tinggi. Persepsi dari aspek konsumsi pada dasarnya mengacu daya beli dan keperilakuan konsumsi, termasuk juga faktor pergeseran gaya hidup. Artinya, segmen generasi muda tidak hanya menjanjikan akumulasi konsumsi tapi juga penetrasi berbagai produk baru yang selaras dengan lifestyle kekinian, terutama yang berbasis online.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika berbagai aplikasi berbasis online menjadi bagian dari lifestyle generasi dotcom. Hal ini bukan saja memudahkan tapi juga memberikan kenyamanan bagi ritme kehidupan.
Oleh karena itu, tuntutan utama fenomena ini adalah inovasi atau mati, karena keperilakuan sudah berubah dan pasar pun berubah menyesuaikan diri dengan fluktuasi perkembangan global. Hal ini secara tidak langsung menjadi tantangan dan sekaligus peluang bagi generasi dotcom untuk berkiprah di semua bidang.
Komitmen
Mengacu dari tujuan tersebut maka kaum muda di era global yang juga disebut generasi dotcom mempunyai keleluasaan akses untuk berwirausaha. Bahkan, dana desa juga bisa dimanfaatkan untuk optimalisasi pengembangan SDASDM di desa sehingga bisa lebih mandiri, kreatif dan produktif.
Terkait peran dana desa bagi penumbuhkembangan etos kewirausahaan kaum muda generasi dotcom di perdesaan, besaran dana desa tahun 2015 sebesar Rp 20,8 triliun, tahun 2016 naik menjadi Rp 47 triliun dan tahun 2017 sebesar Rp 60 triliun. Hal ini menjadi potensi besar permodalan untuk penumbuhkembangan etos kewirausahana kaum muda generasi dotcom di perdesaan.
Harapan dari keberhasilan penumbuhkembangan etos kewirausahaan bagi kaum muda generasi dotcom pada dasarnya juga mereduksi pengangguran dan kemiskinan. Terkait ini, data BPS menegaskan jumlah pengangguran terbuka per Februari 2017 mencapai 7,01 juta orang atau 5,33% dengan wilayah tingkat pengangguran tertinggi yaitu di Kalimantan Timur sebesar 8,55% dan terendah di Bali sebesar 1,28%. Tingkat pengangguran di perkotaan yaitu 6,5% atau turun 0,03%, sedangkan di perdesaan 4% atau turun 0,35%.
Jadi, penumbuhkembangan kewirausahaan bagi generasi dotcom akan akan berimplikasi mereduksi kemiskinan. Hal ini bisa menjadi isu penting di tahun politik yaitu pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019.
Edy Purwo Saputro, Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




