Malaysia Resmikan Zona Perdagangan Bebas Digital
Kamis, 9 November 2017 | 10:39 WIB
Kuala Lumpur - Malaysia telah membuka Zona Perdagangan Bebas Digital untuk miliarder dan tokoh belanja daring Alibaba, Jack Ma. Seperti dilaporkan India Times, baru-baru ini, zona itu dirancang pula untuk memanfaatkan ledakan e-commerce di Asia Tenggara.
"Kita menyaksikan momen bersejarah di Asia, tempat satu negara mulai menggunakan teknologi untuk memungkinkan UKM dan usaha kecil dan menengahnya menjadi lebih kompetitif di panggung dunia," kata Ma, Pendiri dan Ketua Alibaba Group, saat peresmian di Kuala Lumpur.
Pertama kali diumumkan pada Maret, Zona Perdagangan Bebas Digital (ZPBD) kini terbuka untuk diperdagangkan. Pemerintah Malaysia dan Alibaba yang melakukan usaha patungan dengan Alibaba akan menangani perdagangan barang senilai US$ 65 miliar.
"Ini adalah kesempatan untuk tidak hanya usaha kecil dan kaum muda di Malaysia tapi juga di seluruh Asia," tambahnya.
Zona ini diklaim akan menciptakan 60.000 pekerjaan pada tahun 2025. Di sisi lain, zona juga bertujuan agar bisnis yang hingga pedagang daring perorangan dapat menggunakan hub perdagangan semudah perusahaan besar. Zona ini akan digunakan pula untuk tujuan non-e-commerce, seperti untuk ekspor global.
"Dengan diluncurkannya zona ini, Malaysia sedang mengembangkan visi transformasi ekonominya dan mengambil langkah menuju pusat pemenuhan sumber dan pemenuhan terkemuka di Asia," kata Perdana Menteri Malaysia Najib Razak yang ingin menjadikan Malaysia sebagai Pusat Digital untuk Asia Tenggara.
Ma mungkin mendapat dorongan ganda karena ZPBD juga akan meningkatkan perdagangan dengan Tiongkok. Zona ini memberikan ruang lingkup bagi pedagang Tiongkok di pasar Taobao dan Tmall Alibaba untuk menjual ke lebih banyak orang baik di Malaysia maupun di Asia Tenggara.
Soal Logistik
Bersamaan dengan upacara pembukaan, Malaysia meresmikan pula pusat logistik e-commerce regional yang akan dikembangkan oleh Malaysia Airports bersamaan dengan Cainiao, divisi logistik Alibaba.
Direncanakan, pusat logistik ini dibuka pada tahun 2019. Menurut Alibaba, fasilitas ini dirancang untuk "penyimpanan cepat, pemenuhan, bea cukai, dan operasi pergudangan.
"Kami percaya Malaysia adalah lokasi yang ideal untuk menjadi pusat regional bagi negara-negara ASEAN," kata CEO Alibaba Daniel Zhang pada awal tahun ini, mengacu pada organisasi antar pemerintah regional yang mencakup sepuluh negara Asia Tenggara dan pasar sekitar 625 juta orang.
Malaysia membayangkan ekspor yang lebih mudah dan logistik yang lebih efisien akan memberi peluang bisnis bagi negara tersebut untuk meningkatkan jumlah pasar mereka dari 31 juta penduduknya menjadi 600 juta penduduk di kawasan Asia Tenggara, termasuk 261 juta pasar di Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




