Hendropriyono Pimpin Reuni Emas Alumni Akademi Militer 67
Sabtu, 11 November 2017 | 19:16 WIB
Jakarta – Mantan Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN), AM Hendropriyono bersama sejumlah alumni Akademi Militer Nasional (AMN) angkatan 1967 menggelar "Reuni Emas" di Gedung Wijayakusuma, Ceger, Jakarta Timur, Sabtu (11/10).
Sekitar 400 tamu undangan hadir di acara yang diinisiasi oleh Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono ini. Sejumlah tokoh militer hadir seperti mantan Wapres Try Sutrisno, mantan Menteri PAN TB Silalahi, dan mantan Menteri Perhubungan Agum Gumelar.
Reuni 50 Tahun AMN 1967 ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang disambung dengan lagu karya Hendropriyono berjudul "Diriku Ini Indonesia" yang dibawakan oleh Paduan Suara Hendropriyono Strategic Consulting (HSC).
Hendropriyono menuturkan, Reuni Emas kali ini digelar untuk menjalin tali silaturahmi antar alumni Akmil.
"Acara temu kangen semacam ini merupakan wujud kebersamaan, persaudaraan untuk menjalin silahturahmi antara para Alumni," kata Hendropriyono.
Kebersamaan, lanjutnya, perlu untuk terus dipelihara sehingga akan mampu mewujudkan persatuan di antara para Alumni dan Almamater sebagai sebuah ikatan kesatuan yang kokoh dan kuat.
"Tentu, selain itu, dengan bertemu juga bisa kembali mengupas masa lalu, masa yang tidak akan terlupakan, suatu masa yang penuh dengan suka dan duka dalam mewujudkan cita-cita pengabdian," tutur dia.
Dia menyebutkan, total Alumni AMN 1967 berjumlah 203 orang, di mana sebanyak 102 orang telah meninggal, di antaranya saat menjalankan tugas. Diketahui, Alumni AMN 1967 ini merupakan angkatan yang dianggap keramat. Karena merupakan angkatan ke-11, yang dilantik pada tanggal 11, menit ke-11 dan detik ke-11.
Di sela-sela acara, AM Hendropriyono meminta akademi militer mempersiapkan taruna yang memiliki kompetensi lengkap di abad teknologi informasi yang menghadirkan ancaman terhadap keamanan nasional. Ancaman yang tidak lagi konvensional.
Kompetensi lengkap tersebut, menurut Hendropriyono, harus dibangun di atas platform perang berbasis teknologi informasi.
"Siapa yang lebih menguasai informasi, dialah yang menang," tegasnya.
Kepada taruna juga harus dipahamkan, bahwa di dalam perang berbasis teknologi informasi ini, strategi yang dipilih lebih bersifat psikologis, dengan sasaran berupa menghentikan semangat atau kemauan lawan untuk terus bertempur.
Karena itu, menurut Hendropriyono, TNI masa depan adalah tentara profesional yang semakin terampil menjalankan fungsi pertahanan dalam lanskap peperangan baru. Oleh karena itu, TNI harus lebih dekat dengan rakyat untuk menggalang kekuatan semesta, sehingga strategi hybrid bisa diterapkan secara kenyal, terkoordinasi dan terpadu.
Lebih lanjut Hendropriyono mengatakan, tujuan perang adalah menguasai peradaban lawan, yang menyangkut ideologi, politik, sosial budaya, ekonomi, serta pertahanan dan keamanan. Namun, ada prinsip yang harus dipegang teguh, bahwa keputusan perang merupakan keputusan politik yang bersifat multidimensi.
Acara reuni yang diketuai Pangdam Tanjungpura Mayjend Andhika Perkasa ini makin hangat dengan hiburan lawak yang menampilkan Cak Lontong, Akbar, dan Tatok.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




