JK: Pancasila Saja Tak Cukup Atasi Perpecahan Bangsa
Senin, 20 November 2017 | 17:37 WIB
Jakarta Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa mengimplementasikan Pancasila saja tidak cukup menyelesaikan masalah perpecahan di masyarakat. Sebab, menurutnya, sejarah membuktikan bahwa persoalan horizontal selalu diawali dengan masalah ekonomi.
Ia mencontohkan jatuhnya pemerintahan orde lama (Orla) dan orde baru (Orba) karena masalah atau krisis ekonomi. Kepemimpinan Soekarno berakhir karena inflasi yang hampir 100 persen. Demikian juga, kepemimpinan Soeharto berakhir karena masalah ekonomi, di mana nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hampir menyentuh angka Rp 17.000.
Padahal, lanjutnya, pada era Orba, Pancasila menjadi hal yang sangat ditanamkan kepada masyarakat. Tetapi, perpecahan masih saja terjadi yang ditandai dengan jatuhnya pemerintahan.
"Perpecahan bangsa ini bukan hanya karena orang tidak hafal Pancasila, justru masalahnya masalah kehidupan. Kita tak bisa bicara ideologi saja, bahwa setelah kita menghafal pancasila selesai urusan republik kita. Dua kali orde pemimpin jatuh itu semua karena masalah kesulitan ekonomi. Artinya, tantangan kita masalah ekonomi yang besar, produktivitas dan sebagainya," kata JK saat memberi pembekalan kepada Peserta PPSA 21 dan Alumni PPRA 56 Tahun 2017 Lemhanas RI, di Istana Wapres, Jakarta, Senin (20/11).
Ditambah lagi, lanjutnya, 10 dari 15 konflik besar yang pernah terjadi selama 70 tahun belakangan ini bukan karena masalah ideologi. Sebaliknya, tersulut karena masalah ketidakadilan sosial, ekonomi dan politik.
Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa tantangan bangsa ke depan adalah masalah ekonomi. Di antaranya adalah memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas yang akan berdampak pada peningkatan perekonomian.
Di samping itu, ia juga mengatakan bahwa tantangan bangsa ke depan adalah menghadapi kemajuan teknologi.
"Sekarang anak-anak lebih dulu baca di medsos (media sosial) daripada kiainya. Jadi terjadi banyak pandangan, tak semudah lagi tokoh agama masyarakat dapat memadamkan masalah meninggalkan masalah. Medsos lebih kuat daripada tokoh masyarakat," ujarnya.
Untuk mengatasi tantangan bangsa ke depan tersebut, ia mengajak agar masyarakat bersatu. Dalam pandangannya, perbedaan justru kunci dari persatuan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Jumat 15 Mei 2026




