Supermoon Jangan Dikaitkan dengan Bencana
Minggu, 6 Mei 2012 | 01:28 WIB
Memang berdampak pada makin menguatnya efek pasang surut pada air laut, tapi bukan berarti bencana.
Bulan yang bulat dan seolah tampak besar serta bersinar keemasan (supermoon) pada Sabtu (5/5) malam, jangan dikait-kaitkan dengan ramalan akan datangnya bencana.
Demikian yang dikemukakan oleh pakar astronomi Thomas Djamaluddin.
"Tidak ada dampak apa pun," kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) tersebut, yang dihubungi dari Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, astronomi tak mengenal istilah supermoon, selain itu astronomi juga tak pernah mengaitkannya dengan bencana.
Istilah supermoon dan kaitannya dengan bencana, urainya, hanya ada dalam astrologi. Dan astrologi adalah pemahaman bahwa posisi benda-benda langit berpengaruh pada nasib kehidupan manusia di bumi.
"Namun astrologi bukanlah cabang sains, sedangkan astronomi adalah cabang sains atau ilmu pengetahuan yang memelajari gerakan dan kondisi fisik benda-benda langit," katanya.
Sesungguhnya, lanjut Thomas, puncak purnama terjadi pada Minggu pagi 6 Mei pukul 10.35 WIB dengan perigee (jarak terdekat) bulan dengan bumi terjadi pada pukul 10:34 WIB pada jarak 357.000 km, 27.000 km lebih dekat dari rata-ratanya 384.000 km.
Menanggapi supermoon, ia juga mengatakan, orang awam sebenarnya sulit melihat penambahan ukuran dan kecemerlangan bulan di saat purnama terdekat tersebut.
"Mengapa gambar-gambar di internet menampakkan bulan tampak besar sekali? Sebenarnya itu hanya efek relatif perbandingan bulan dan objek latar depan," ujarnya.
Menurut Thomas, kejadian jarak bulan terdekat dengan bumi (perigee) adalah peristiwa bulanan, di mana periodenya sekitar 27,3 hari. Sedangkan peristiwa purnama juga kejadian bulanan dengan periode sekitar 29,5 hari.
“Karena perbedaan periode ini, perigee tidak selalu bersamaan dengan purnama,” tambahnya.
Peristiwa perigee yang bersamaan dengan purnama, baru akan berulang lagi setelah 18 tahun, yaitu kelipatan 241 x 27,3 hari yang sama dengan 223 x 29,5 hari.
Bulan pada posisi paling dekat dengan bumi, kata Thomas, memang berdampak pada makin menguatnya efek pasang surut di bumi, terutama pada air laut.
"Air laut akan makin tinggi dalam kondisi ini. Bila itu bersamaan dengan purnama, ada efek penguatan juga dari gaya pasang surut matahari, sehingga efek pasang surut cenderung paling kuat. Tapi bukan berarti bencana," katanya.
Bulan yang bulat dan seolah tampak besar serta bersinar keemasan (supermoon) pada Sabtu (5/5) malam, jangan dikait-kaitkan dengan ramalan akan datangnya bencana.
Demikian yang dikemukakan oleh pakar astronomi Thomas Djamaluddin.
"Tidak ada dampak apa pun," kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) tersebut, yang dihubungi dari Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, astronomi tak mengenal istilah supermoon, selain itu astronomi juga tak pernah mengaitkannya dengan bencana.
Istilah supermoon dan kaitannya dengan bencana, urainya, hanya ada dalam astrologi. Dan astrologi adalah pemahaman bahwa posisi benda-benda langit berpengaruh pada nasib kehidupan manusia di bumi.
"Namun astrologi bukanlah cabang sains, sedangkan astronomi adalah cabang sains atau ilmu pengetahuan yang memelajari gerakan dan kondisi fisik benda-benda langit," katanya.
Sesungguhnya, lanjut Thomas, puncak purnama terjadi pada Minggu pagi 6 Mei pukul 10.35 WIB dengan perigee (jarak terdekat) bulan dengan bumi terjadi pada pukul 10:34 WIB pada jarak 357.000 km, 27.000 km lebih dekat dari rata-ratanya 384.000 km.
Menanggapi supermoon, ia juga mengatakan, orang awam sebenarnya sulit melihat penambahan ukuran dan kecemerlangan bulan di saat purnama terdekat tersebut.
"Mengapa gambar-gambar di internet menampakkan bulan tampak besar sekali? Sebenarnya itu hanya efek relatif perbandingan bulan dan objek latar depan," ujarnya.
Menurut Thomas, kejadian jarak bulan terdekat dengan bumi (perigee) adalah peristiwa bulanan, di mana periodenya sekitar 27,3 hari. Sedangkan peristiwa purnama juga kejadian bulanan dengan periode sekitar 29,5 hari.
“Karena perbedaan periode ini, perigee tidak selalu bersamaan dengan purnama,” tambahnya.
Peristiwa perigee yang bersamaan dengan purnama, baru akan berulang lagi setelah 18 tahun, yaitu kelipatan 241 x 27,3 hari yang sama dengan 223 x 29,5 hari.
Bulan pada posisi paling dekat dengan bumi, kata Thomas, memang berdampak pada makin menguatnya efek pasang surut di bumi, terutama pada air laut.
"Air laut akan makin tinggi dalam kondisi ini. Bila itu bersamaan dengan purnama, ada efek penguatan juga dari gaya pasang surut matahari, sehingga efek pasang surut cenderung paling kuat. Tapi bukan berarti bencana," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




