Polemik Film Naura dan Genk Juara, Ini Penilaian Seto Mulyadi

Senin, 27 November 2017 | 21:25 WIB
IC
IC
Penulis: Iman Rahman Cahyadi | Editor: CAH
Cuplikan film
Cuplikan film "Naura Genk Juara". (Istimewa)

Jakarta - Film Naura dan Genk Juara langsung memancing polemik di masyarakat usai resmi beredar di bioskop pada 16 November lalu. Film drama musikal anak garapan sutradara Eugene Panji ini dituding mencitrakan Islam dengan negatif lantaran penjahat digambarkan dengan orang yang berjenggot, brewokan selalu mengucapkan istighfar, ucapan permohonan ampunan yang lazim diungkapkan oleh orang muslim kebanyakan.

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi pun angkat bicara perihal reaksi berlebihan akan tudingan negatif terhadap film ini. Menurutnya, orang tua mesti bijak untuk memberi pemahaman menyeluruh terkait film yang ditonton buah hati mereka.

"Biarkanlah anak-anak menggunakan kemampuannya sendiri, menangkap kreativitasnya mengintepretasikan film itu dan jangan buru-buru campur tangan kepada anak-anak. Kalau mereka bertanya, berikan jawaban yang justru meluruskan pandangan-pandangan negatif tadi," ujarnya.

Seto mengakui, ia semula merasa "panas" dengan film ini. Sebagai seorang muslim, ia mempertanyakan film anak yang justru memberi nilai-nilai negatif terhadap pemeluk agama muslim. Akhirnya ia memutuskan menonton dan baru memberi opini kemudian.

"Setelah saya nonton, saya bilang tidak ada yang mendeskreditkan dan sebagainya," ujar Seto seraya menambahkan bahwa 99 persen dari film ini justru penuh dengan nilai pendidikan, etika, ilmu pengetahuan dan nasionalisme.

Jadi di tengah kegalauan, di tengah kerinduan anak-anak untuk sebuah film anak yang edukatif, menurut saya ini harus diberi apresiasi supaya tidak membuat para tokoh seniman di balik itu, baik sutradara atau produser, jadi kapok."

"Akhirnya anak-anak juga tidak mendapatkan kebutuhan untuk adanya film dan lagu-lagu anak yang edukatif," imbuhnya.

Kendati begitu, ia menegaskan peran orang tua tetap diperlukan untuk menemani dan membimbing anak ketika mereka menonton film-film tersebut.

"Untuk menetralisir kalau ada kesalahpahaman penangkapan terhadap film itu. Jadi diluruskan, bahwa ini maksudnya begini, biar kan lah anak-anak menikmati dunia yang indah dengan tayangan film," tambah Seto.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon