Ketika Sipil dan Militer Jatuh Cinta di Lemhannas
Senin, 27 November 2017 | 22:07 WIB
Jakarta - Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI Tahun Ajaran 2017 ditutup secara resmi oleh Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Letjen (Purn) Agus Widjojo pada Kamis (23/11). Sebanyak 81 peserta yang terdiri atas anggota TNI/Polri berpangkat minimal bintang satu dan para tokoh nasional "hidup bersama" selama 5,5 bulan untuk mengikuti pendidikan tertinggi kepemimpinan nasional strategis.
Peserta yang berasal dari sipil menyatakan jatuh cinta dan terkesima kepada peserta dari TNI/Polri, yang menjadi teman seperjalanan dalam pendidikan.Ketua DPW Asosiasi Dosen dan Guru Indonesia Provinsi Banten. Caturida Meiwanto Doktoralina menuturkan, PPSA adalah pendidikan tertinggi kepemimpinan nasional strategis setingkat bintang dua mengingat para peserta TNI/Polri yang bersekolah ada yang berpangkat bintang satu, bintang dua, dan juga bintang tiga. Sehingga, ketika peserta sipil bergabung dengan mereka yang berbintang, kesan pertama adalah seram dan angker, karena mereka adalah para pemimpin puncak di pasukan masing-masing.
"Setelah hidup bersama di asarama beberapa waktu, kesan angker hilang dengan sendirinya dan kami larut dalam gaya militer. Gaya kami militer, tetapi tertawanya tetap sipil alias ngakak. Itulah yang membuat kami larut dalam persaudaraan dan saling membantu dalam kesulitan," ujar Catur, Senin (27/11).
Sementara, Reni Mayerni, guru besar dari Universitas Andalas, mengatakan, bergaul dengan TNI/Polri merupakan tantangan tersendiri. Menurut dia, rekan-rekan TNI/Polri sangat menguasai persoalan dan situasi, sangat rapi dan terstruktur sehingga kesan pertama adalah ngeri.

"Bagaimana cara bergaul dengan mereka nanti? Namun, pertanyaan itu terjawab ketika memasuki pendidikan outbound saat rekan-rekan TNI/Polri mengatasi permasalahan bersama-sama. Mereka sangat membuka diri. Saya sempat frustasi karena rekan-rekan TNI/Polri sangat disiplin, teratur, dan sudah saling kenal. Sementara, saya harus menyesuaikan diri dalam pergaulan sekaligus pelajarannya. Saya merasa sangat dibantu oleh rekan-rekan TNI/Polri ketika ditunjuk menjadi ketua seminar nasional. Dan saya kira, Lemhannas memang membentuk karakter kita semua serta menyatukan sipil dan TNI/Polri," ujar Reni.
Sekali pun sepanjang hidupnya berada dalam lingkungan militer, Taufik Dwicahyono mengaku tetap saja merasa tegang bertemu dengan para jenderal. "Mereka pikir kita jaim, jaga imej. Padahal, kami yang sipil merasa ngeri terhadap para jenderal. Hanya saja setelah pembauran terjadi melalui outbound bersama di Lido, Sukabumi, yang sipil mulai berani menggoda para jenderal dan bergurau bersama," tuturnya.
Pembauran itu akhirnya menyatukan visi bersama antara sipil dan militer bahwa mereka berada di perahu yang sama. Dalam perjalanan selanjutnya, apalagi ketika para jenderal tidak mengenakan seragam, mereka pun merasa sama-sama sebagai orang sipil.
"Setelah kenal lebih dalam, acara bersama makin banyak, tekanan dan beban tugas semakin mantab, timbul rasa kebersamaan sehingga bercanda menjadi kegiatan sehairi hari. Bahkan, terkadang, kalau sedang bercanda, semua lupa pangkat," ujar Taufik Dwicahyono, yang merupakan anak dari mantan Wapres Jenderal (Pur) Try Sutrisno.
Lina dari Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) mengatakan, dirinya kagum dengan para jenderal yang pintar dan piawai dalam merangkai kata-kata. Hal itu jelas terlihat ketika para peserta memasuki masa video conference (vicon).
"Kesan kaku tampak jelas terlihat dari para jenderal di awal-awal pembauran. Meskipun demikian, ketika kami semua hidup bersama dan lebur menjadi satu, para jenderal pandai bersendagurau. Bisa memasak, helpful, dan jauh dari kekakuan. Mereka sama dengan kami yang sipil. Yang membedakan adalah mereka bertahun-tahun ditempa dalam kedisiplinan tinggi. Oleh karena itu, ketika berteman, ada sikap dan gaya yang sama, entah mereka berasal dari TNI AD, AU, AL atau Polri. Awalnya pertemanan dengan para jenderal itu, membuat saya hampir frustasi. Ternyata dalam perjalanan selanjutnya mereka menularkan energi positif kepada kami, karena mereka memberi dukungan, menawarkan kebaikan dan juga, membangun sikap kebersamaan yang sejati," ujar Lina.
Ketua Kadin Provinsi Bangka Belitung, Thomas Jusman mengungkapkan, peserta dari TNI/Polri tidak banyak bicara. Mereka sangat jarang bertanya, hanya satu-dua orang saja. Mereka selalu berbicara melalui gerak tubuh dan melalui mata.
Kalau menyetujui pertanyaan yang diajukan oleh peserta lain, mereka akan mengacungi jempol atau akan tertawa terbahak-bahak jika ada situasi yang lucu terjadi.

"Meski demikian, mereka dapat bergerak cepat dalam menyelesaikan tugas yang sebenarnya merupakan makanan sehari-hari ketika mereka masih berpangkat perwira. Itu yang membuat kami kagum. Sementara kami yang sipil, harus menyesuaikan dengan ritme metode pengajaran yang baru di Lemhannas. Yang membuat saya jatuh cinta, para jenderal tidak segan-segan membantu kami yang sipil dalam mengerjakan tugas atau ketika menemukan kesulitan," ujar Thomas.
Hal senada disampaikan Muhammad Hanafi, Ketua Koordinator Bidang Kajian Pertambangan dan Komunikasi Antarlembaga DPP Perhapi.
"Kalau TNI/Polri selalu tepat waktu dalam mengumpulkan tugas. Soal isi, urusan belakang. Sementara, kalau sipil, jika mengumpulkan tugas selalu terlambat, tetapi isinya lumayan dan banyak terobosan. Tetapi, karena sering kalah dalam deadline, akhirnya saya menyiasatinya dengan mengumpulkan tugas dulu. Jika dirasa ada yang salah atau kurang, pada hari H sebelum paparan, bahan paparan ditukar dulu dengan permohonan maaf kepada tutor. Tingkat disiplin, kerapian, dan tepat waktu adalah tiga hal yang dapat diambil teladannya dari mereka. Mereka tidak pernah menuntut atau menyia-nyiakan sesuatu pemberian. Mereka selalu mengatakan, jalani saja apa pun perintahnya," ujar Hanafi.
Rektor Universitas Mercu Buana Arissetyanto Nugroho menambahkan, ada pelajaran yang dapat dipelajari peserta sipil dari TNI/Polri. Ketika akan dimulai sesi video conference (vicon), kelompoknya dikumpulkan di suatu tempat oleh salah satu jenderal.
Di tempat itu, mereka berdiskusi bersama tentang bagaimana vicon itu dapat berlangsung dengan lancar dan tepat sasaran. "Pelajaran yang dapat diambil adalah, militer selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan detil dan terinci. Pada hari H, rekan-rekan TNI atau Polri menjawab dengan to the point dan sesuai dengan waktu yang diberikan," ujar Aris.
Cerita lucu datang dari AM Putut Prabantoro. Ketua Presidium Bidang Komunikasi Politik Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) itu mengatakan, dia harus membiasakan diri beradu dahi ketika bersalaman dengan para jenderal. Harus diakui, ujarnya, dahi para jenderal itu lebih keras karena terlatih. Bahkan mereka terkadang sengaja menggunakan tenaga ketika beradu dahi.
"Lha, sekali pun sedikit sakit, tetapi akhirnya terbiasa juga. Dahi sipil akhirnya seperti dahi militer, sama-sama keras. Saya selalu, setiap kali bersalaman, saya merangkul rekan-rekan jenderal sebagai tanda penghormatan saya kepada mereka. Karena itulah, saya merasa mendapat perlakuan yang sama dari mereka. Tidak ada rasa angkuh dari mereka, bahkan menurut saya, mereka sangat rendah hati. Saya kira, di masa mendatang, interaksi sipil dan militer di segala bidang harus menyatu dengan visi yang sama. Tantangan dan ancaman terhadap negara Indonesia di masa mendatang menuntut interaksi yang solid antara sipil dan TNI/Polri," ujar Putut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




