DIY Darurat Bencana Banjir, Longsor, dan Angin Kencang
Kamis, 30 November 2017 | 08:44 WIB
Yogyakarta - Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X resmi menetapkan status darurat bencana, mulai Rabu (29/11) hingga satu minggu ke depan. Dengan status tersebut, kepala daerah dipersilakan mengambil kebijakan terkait kebencanaan, baik penanganan pengungsi maupun perbaikan sementara dengan dana cadangan yang dimiliki masing-masing kabupaten/kota.
"Mulai hari ini hingga satu minggu depan DI Yogyakarta berstatus tanggap darurat," jelas Sultan di Kantor Gubernuran Kepatihan Rabu (29/11).
Dikatakan, penerapan status tersebut berdasarkan pertimbangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terkait posisi badai tropis Cempaka di wilayah perairan pantai selatan DIY yang diperkirakan akan bertahan hingga satu minggu ke depan.
"Masyarakat juga harus ikut waspada dan berhati-hati. Pemerintah untuk proaktif memberikan informasi terbaru dan kondisi terakhir," ucap Sultan.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DI Yogyakarta, Krido Suprayitno, menyatakan hujan deras yang terjadi sejak Senin (26/11) petang hingga Rabu (29/11) malam, membuat 1.550 warga Bantul, 1.921 warga Gunungkidul, serta ratusan warga Kota Yogyakarta harus mengungsi.
"Kabupaten Bantul sejak tadi malam sudah menyatakan tanggap darurat hingga 12 Desember. Sedangkan daerah lain masih belum ada laporan yang masuk," jelas Krido.
Berdasar data kerusakan yang terjadi akibat banjir yang menerjang Kota Yogya, sembilan pohon tumbang, satu wilayah tergenang air, serta sembilan wilayah mengalami longsor yang menyebabkan tiga orang meninggal.
Kabupaten Bantul tercatat sebagai wilayah terparah. Di wilayah tersebut terdata 67 pohon tumbang, 45 titik mengalami longsor, serta terdapat 31 titik banjir.
Kepala Bappeda Pemkab Bantul, Fenty Yustidayati mengatakan untuk menanggulangi bencana banjir, tanah longsor, serta kerusakan fasilitas umum, pihaknya menyiapkan anggaran tak terduga sekitar Rp 18 miliar.
"Terdapat dana tak terduga senilai Rp 19 miliar, tetapi sudah terpakai Rp 1 miliar," ujarnya.
Tanah longsor di Gunungkidul memakan satu korban jiwa, satu jembatan rusak parah, dan tiga jembatan dilaporkan putus, yaitu di dua di Kecamatan Pundong dan satu di Bangunjiwo. Banjir bandang dan tanah longsor tersebar di 144 titik dan mengakibatkan 1.366 keluarga di Gunungkidul mengungsi. Dua warga dilaporkan meninggal akibat tertimbun material longsor.
Badai Cempaka dilaporkan menyebabkan satu orang meninggal di Kabupaten Kulonprogo dan terjadi ancaman longsor di 27 titik dan terdapat enam titik banjir.
Buaya
Sementara itu, warga Sleman yang tinggal di bantaran Kali Kwangon, Sidorejo, Kecamatan Godean, mengaku melihat seekor buaya muara. Menurut Kepala Dukuh Kwagon, Sukiman Hadi Wijoyo, buaya tersebut kemungkinan besar berasal dari rawa bekas galian tanah liat seluas 4.000 meter. Tingginya intensitas hujan beberapa hari ini membuat rawa tersebut meluap dan buaya tersebut terbawa arus hingga ke sungai.
Sukiman menjelaskan, saat ini warga masih resah karena buaya belum ditemukan. Warga sudah berupaya maksimal, namun buaya telanjur lepas ke aliran sungai.
Untuk menelusuri dan menangkap buaya muara tersebut, polisi hutan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY diterjunkan.
Berdasar hasil observasi BKSDA, buaya muara tersebut diduga hewan peliharaan yang dilepas pemiliknya.
Koordinator Polisi Hutan BKSDA DIY, Purwanto mengatakan dari keterangan saksi mata serta foto dan video yang ditunjukkan warga, buaya tersebut masih muda, memiliki panjang sekitar 2,5 meter dan berbobot kurang dari 100 kilogram dan dipastikan berjenis buaya muara.
"Sungai di sini jelas bukan habitat buaya jenis muara. Jadi besar kemungkinan ini buaya yang dilepas pemiliknya karena sudah terlalu besar," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




