Incar Kenaikan Bobot MSCI, BEI Bidik Kapitalisasi Pasar Rp 8.000 T
Selasa, 5 Desember 2017 | 10:43 WIB
Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengincar kenaikan bobot investasi saham di Indonesia dalam Morgan Stanley Capital International (MSCI) Index. Seiring hal tersebut, BEI membidik kapitalisasi pasar (market cap) mencapai Rp 7.500-8.000 triliun pada 2018.
Direktur Utama BEI Tito Sulistio menyatakan, diperlukan tambahan perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dan kenaikan harga saham perusahaan yang sudah ada guna menaikkan market cap di bursa. Apabila pertumbuhan market cap berlangsung berkelanjutan, akan berdampak positif bagi bursa saham dalam negeri. Pasalnya, akan ada peluang pemberian kenaikan bobot investasi saham di Indonesia oleh MSCI. Adapun MSCI Index merupakan acuan bagi investor asing untuk berinvestasi.
"Misalnya uang investasi yang terkumpul di dunia mencapai US$ 40 triliun atau setara dengan Rp 500 triliun, lalu sepertiganya atau sekitar US$ 12,5 triliun diinvestasikan ke emerging market. Nah, dengan bobot investasi saham di Indonesia oleh MSCI Index yang sekitar 2,2-2,4 persen, berarti potensi dana yang masuk berkisar US$ 1,5-1,7 triliun," ujar Tito seperti dikutip dari Investor Daily, edisi Selasa (5/12).
Perihal bobot investasi saham di Indonesia yang diberikan MSCI, ia mengungkapkan tingkatannya pernah mencapai 7 persen sebelum akhirnya menurun.
Tito menegaskan, untuk memastikan perkembangan pasar modal pihaknya akan fokus dengan strategi meningkatkan market cap. BEI akan mendorong perusahaan untuk go public, serta mengedukasi masyarakat sehingga investor baru bertambah. "Harapannya di masa mendatang, minimal ada 100.000 investor baru per tahun yang aktif bertransaksi," ungkap dia.
Adapun sampai September 2017, berdasarkan data BEI jumlah investor di pasar saham ada 600.480 single investor identification (SID). Dari jumlah tersebut, tercatat investor baru periode Januari-September 2017 sebanyak 86.241 SID. Meski baru menjadi investor, tapi kontribusi terhadap kenaikan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai 54,2 persen atau setara Rp 267,9 miliar.
Tito menuturkan, ke depan terdapat potensi dari Tiongkok dan Arab Saudi masuk ke dalam MSCI Index kategori emerging market. Andaikan hal tersebut terjadi, terdapat dua skenario. "Kalau kita tidak mengupayakan kenaikan bobot, bisa jadi kita terdilusi dengan masuknya dua negara tersebut. Namun di sisi lain, kita tidak tahu, mungkin MSCI akan menambah porsi bobot di emerging market sehingga tidak ada perubahan bagi Indonesia," ujar dia.
Terlepas hal itu, dia menegaskan, BEI akan tetap mengupayakan kenaikan market cap sehingga bobot investasi saham di Indonesia akan dinaikkan oleh MSCI. Pada akhir 2017 dia menargetkan market cap dapat mencapai Rp 6.750 triliun. Sementara berdasarkan data BEI pada akhir November 2017 total market cap mencapai Rp 6.592 triliun.
Adapun pada pekan lalu anggaran reformasi pajak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah ditandatangani. Mengenai program reformasi pajak AS, Tito mengapresiasikan strategi tersebut, dan berharap Indonesia dapat mengadopsi kebijakan yang sama. "Dengan program reformasi pajak, pemerintah AS mengurangi potensi pendapatan pajak di awal, tapi perusahaan di sana jadi memiliki dana kas yang lebih besar sehingga peluang ekspansinya lebih tinggi. Tentunya, ke depan hal tersebut berpeluang mendatangkan pendapatan pajak baru kepada pemerintah AS," jelas dia.
Tito menuturkan, reformasi pajak di AS juga mendatangkan dampak baik bagi Wall Street dan IHSG. Sebab dalam neraca perdagangan Indonesia, AS menempati urutan ke-2 sebagai mitra dagang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




