Indentifikasi Korban Sukhoi Makan Waktu Lama
Minggu, 13 Mei 2012 | 17:17 WIB
Pemeriksaan dapat memakan waktu berminggu-minggu.
Tim forensik memperkirakan proses identifikasi jenazah korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, akan memakan waktu lama, karena lebih banyak mengandalkan pemeriksaan DNA. Pemeriksaan dapat memakan waktu berminggu-minggu.
Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Brigadir Jenderal Musaddeq Ishaq, mengatakan tim Disaster Victim Identification (DVI) akan lebih banyak menggunakan partikel biomolekuler dalam identifikasi korban, karena kondisi jenazah yang tidak utuh.
"Ada dua jenis petunjuk dalam identifikasi jenazah yaitu primary identifier dan secondary identifier," katanya.
Primary identifier adalah pentunjuk fisik berupa sidik jari, gigi geligi dan pemeriksaan DNA. Sedangkan secondary identifier adalah data medik (jenis kelamin, bentuk tubuh, tato) dan properti (Pakaian, perhiasan, atau kartu identitas di tubuh korban)
"Mengingat kondisi jenazah kemungkinan akan gunakan pemeriksaan bimolekuler (DNA)," kata Musaddeq.
Sementara itu Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar mengimbau keluarga korban bersabar. "Upaya ini menggunakan berbagai disiplin ilmu yang tingkat akurasinya harus 100 persen, sementara proses pengumpulan jenazah masih berlangsung.Itulah makanya waktu sangat diperlukan," katanya.
Boy mengatakan pihak keluarga korban bisa menunggu di kediaman masing-masing dan pihak RS Polri bersedia mengantarkan jenazah yang telah diidentifikasi.
"Keluarga tidak usah khawatir, kami akan mempersiapkan segalanya dan akan mengantar jenazah dimanapun lokasi rumah dukanya," kata Boy.
Tim forensik memperkirakan proses identifikasi jenazah korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, akan memakan waktu lama, karena lebih banyak mengandalkan pemeriksaan DNA. Pemeriksaan dapat memakan waktu berminggu-minggu.
Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri, Brigadir Jenderal Musaddeq Ishaq, mengatakan tim Disaster Victim Identification (DVI) akan lebih banyak menggunakan partikel biomolekuler dalam identifikasi korban, karena kondisi jenazah yang tidak utuh.
"Ada dua jenis petunjuk dalam identifikasi jenazah yaitu primary identifier dan secondary identifier," katanya.
Primary identifier adalah pentunjuk fisik berupa sidik jari, gigi geligi dan pemeriksaan DNA. Sedangkan secondary identifier adalah data medik (jenis kelamin, bentuk tubuh, tato) dan properti (Pakaian, perhiasan, atau kartu identitas di tubuh korban)
"Mengingat kondisi jenazah kemungkinan akan gunakan pemeriksaan bimolekuler (DNA)," kata Musaddeq.
Sementara itu Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar mengimbau keluarga korban bersabar. "Upaya ini menggunakan berbagai disiplin ilmu yang tingkat akurasinya harus 100 persen, sementara proses pengumpulan jenazah masih berlangsung.Itulah makanya waktu sangat diperlukan," katanya.
Boy mengatakan pihak keluarga korban bisa menunggu di kediaman masing-masing dan pihak RS Polri bersedia mengantarkan jenazah yang telah diidentifikasi.
"Keluarga tidak usah khawatir, kami akan mempersiapkan segalanya dan akan mengantar jenazah dimanapun lokasi rumah dukanya," kata Boy.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




