Polisi Gali Afiliasi Politik Kelompok MCA

Selasa, 6 Maret 2018 | 10:22 WIB
FA
YD
Penulis: Farouk Arnaz | Editor: YUD
Enam tersangka dihadirkan saat rilis pengungkapan sindikat penyebar isu-isu provokatif di media sosial, di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, 28 Februari 2018.
Enam tersangka dihadirkan saat rilis pengungkapan sindikat penyebar isu-isu provokatif di media sosial, di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, 28 Februari 2018. (BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Kasatgas Nusantara Irjen Eddy Gatot Pramono meminta waktu untuk menyelidiki lebih jauh dalang di balik isu penyerangan ulama yang marak di media sosial yang dilakukan oleh Muslim Cyber Army (MCA) dan eks Saracen. Polisi berpacu dengan waktu karena para pelaku menghilang dan coba menghapus jejak digital.

"Seperti saya sampaikan kemarin, dari 45 isu penyerangan ulama yang terdeteksi di medsos, dipastikan hanya tiga peristiwa yang benar terjadi di lapangan. Sisanya, 42 isu, tidak terjadi dengan berbagai modus. Ada yang direkayasa oleh korbannya, ada yang diplintir, ada yang sama sekali tidak ada," kata Eddy saat dihubungi Beritasatu.com Selasa (6/3) pagi.

Menurut Eddy para pelaku melakukan aksinya dengan motif politik. Mereka yang menyebarkan isu hoax berharap dapat mendegradasi dan medelegitimasi pemerintahan yang sah, karena hal itu dapat memunculkan keresahan di masyarakat dan ulama.

Meski bermotif politik, Kepolisian belum bisa menemukan afiliasi atau koneksi para pelaku dengan aktor politik.

"Kita perlu melakukan pendalaman," katanya. 

Polisi melakukan pendalaman dengan melakukan digital forensik pada gadget yang disita dari para pelaku. Harapannya polisi dapat menemukan rangkaian lebih jauh terkait aktivitas pelaku baik diudara (medsos) maupun di darat (kehidupan riil).

"Membaca dunia maya ini sangat berbeda dengan dunia lapangan. Kita terlambat sedikit saja maka gadget yang kita cari bisa hilang. Sejauh ini kita belum simpulkan siapa mastermindnya. Ini kita dalami dengan menelusuri jaringan yang mereka miliki," sambung Gatot.

Ahli Kapolri bidang sosial dan ekonomi ini melanjutkan jika setelah didalami relasi di antara sembilan orang yang berada di dalam The Family of MCA—yang merupakan tokoh sentral MCA—sangat cair. Mereka, yang sebagian besar telah ditangkap, juga hanya saling terkoneksi di udara.

"Family of MCA ini bisa dibilang kelompok cair. Satu-satu kita urai. Kalau kasus pencuri konvensional bisa gampang dibuktikan, tapi kalau ini kan lebih rumit. Gadgetnya harus ditemukan. Sementara ini kita lihat koneksi mereka hanya di udara," sambungnya.

Seperti diberitakan kesimpulan hanya tiga isu yang benar itu didapat setelah Gatot dan tim turun ke Polda Jatim, Jabar, Banten, DIY, dan Kalimantan Timur. Tim bergerak ke wilayah dan berkordinasi dengan Satgas Polda dan Polres yang ada isu penyerangan ulama yang diduga dilakukan orang gangguan jiwa.

Langkah pertama tim menghitung berapa kasus yang terjadi. Baik yang ada di laporan polisi maupun medsos. Lalu tim juga langsung turun ke TKP dan melakukan pemeriksaan saksi dan mengumpulkan alat bukti.

Tim juga telah meminta dokter dan psikiatri untuk mengecek 3 orang pelaku penyerang ulama untuk meyakinkan apakah meeka betul punya gangguan kejiwaan atau tidak.

Tim juga melakukan pemeriksaan darah pada tiga orang yang diduga gila itu. Tujuannya untuk memastikan apakah ada zat kimia yang dimasukkan ke dalam tubuh orang yang diduga gangguan jiwa tersebut supaya mereka menjadi agresif dan lalu menyerang ulama.

Hasil dari semua langkah itu disimpulkan ada tiga peristiwa yang betul terjadi. Yakni dua kasus di Jawa Barat dan satu kasus di Jatim. Rinciannya terhadap Kyai Umar Basri, Ustad Prawoto, dan Kyai Mubarok. Pelakunya dipastikan gila dan tidak ditemukan zat kimia dalam tubuhnya.

Kedua adalah peristiwa yang diakui terjadi oleh korbannya namun setelah diperiksa, korban mengaku merekayasa pengakuannya. Pertama di Kediri, satu lagi di Garut, Ciamis, dan Kalimantan Timur. Mereka melakukan ini dengan berbagai motif salah satunya ekonomi.

Ketiga adalah peristiwa itu tindak pidana umum tapi diplintir, diviralkan, seolah-olah korban adalah ulama dan pelaku orang gila. Padahal yang terjadi adalah masyarakat biasa dipukul orang biasa. Keempat peristiwa itu tidak terjadi sama sekali tapi diviralkan seolah terjadi penyerangan ulama.

Dari pendalaman tidak ditemukan koneksi antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain baik itu peristiwa di Jatim dan Jabar. Tiap peristiwa itu berdiri sendiri-sendiri. Baik peristiwa yang benar terjadi maupun peristiwa yang direkayasa, diplintir, dan tidak pernah terjadi itu.

Juga tidak ada temuan penyerangan ini didesain oleh oknum tertentu. Tapi di medsos semua itu diplintir dimana tim menemukan koneksi di medsos bila isu ini didesain sedemikian rupa seolah-olah terjadi suatu penyerangan ulama. Dari hasil pendalaman tim siber ini dilakukan oleh kelompok yang dinamakan eks Saracen dan dari MCA.

Jika isu ini jika dibiarkan Gatot yakin itu akan menimbulkan ketakutan dan bisa memecah belah bangsa yang akhirnya bisa meniimbulkan konflik sosial yang besar ketika tidak mampu diatasi. Pelaku menghendaki pemerintah tidak bisa mengelola negara ini. Ini juga bisa memecah persatuan kesatuan bangsa.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon