Kunjungan SBY ke Timor Leste Diharapkan Memperbaiki Hubungan
Sabtu, 19 Mei 2012 | 10:29 WIB
Kunjungan Presiden SBY ini adalah kunjungan Presiden yang keempat sejak Timor Leste merdeka.
Sudah 12 tahun lewat sejak Timor Timur (Timor Leste) melepaskan diri dari Indonesia. Timor Leste dan Indonesia kini melupakan sejarah buruk mereka dan menatap hubungan diplomatik yang lebih kuat, demi menghadapi pengaruh China di Timor.
Akhir pekan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun menghadiri pelantikan Presiden Timor Leste yang baru, Jose Maria Vancoscelos, yang dikenal dengan julukan Taur Matan Ruak atau Dua Mata Tajam. Presiden SBY juga dijadwalkan menghadiri pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Xanana Gusmao dan Presiden incumbent, Jose Ramos Horta.
Kunjungan Presiden SBY ini adalah kunjungan Presiden yang keempat sejak Timor Leste merdeka. SBY pun dijadwalkan untuk menaburkan karangan bunga di pemakaman Santa Cruz, lokasi bentrokan berdarah antara ratusan demonstran Timor Timur dengan pasukan Indonesia di tahun 1991.
"Kunjungan tersebut mensimbolisasikan proses penyembuhan luka dan menandakan bahwa Indonesia menyesali hal itu pernah terjadi," kata pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Hariyadi Wirawan, Jumat (18/5).
Kunjungan ke Santa Cruz bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh SBY. Sebelumnya, SBY mengunjungi Santa Cruz pada April 2005. Setelah melakukan kunjungan ke Santa Cruz, SBY kini juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke Pemakaman Seroja, tempat pemakaman prajurit Indonesia yang meninggal di Timor Timur.
Kristio Wahyono, mantan perwakilan Indonesia untuk United Nations Transitional Administration in East Timor (UNTAET) tahun 2000-2003, mengatakan bahwa sebelum SBY, Presiden RI pertama yang melakukan kunjungan ke Timor Timur adalah mantan presiden Abdurrahman Wahid, bulan Februari 2000.
Megawati juga pernah melakukan kunjungan ke Dili, sesaat sebelum Timor Timur mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 20 Mei 2002. Saat itu, Megawati datang ke Dili atas undangan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan. Annan mengundang Megawati untuk menghadiri upacara penyerahan kedaulatan Timor Timur dari administrasi PBB yang menjalankan administrasi Timor sejak Referendum 1999.
"Kunjungan Megawati waktu itu menuai perdebatan. Sebagian orang menilai bahwa kunjungan ini dapat memperbaiki hubungan, sementara ada juga yang menolak kunjungan ini karena harga diri nasionalisme," ujar Kristio. Waktu itu, SBY masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) di pemerintahan Megawati.
Hariyadi mengatakan, kunjungan tersebut ke depannya bisa menjadi kunjungan rutin, demi menciptakan hubungan yang lebih baik. Dia mengatakan, kunjungan itu sangat penting bagi Indonesia, supaya pandangan masyarakat Timor Timur terhadap Indonesia sebagai "negara penjajah" bisa berubah menjadi negara tetangga.
"Walau bagaimanapun juga, Timor Timur dulunya merupakan bagian dari Indonesia. Di sisi lain, pemerintah juga melihat pentingnya mendekatkan diri ke Timor Timur, sebelum negara itu terlalu bergantung pada China," ujarnya.
Hariyadi menambahkan, Australia dan Amerika Serikat (AS) juga tidak ingin melihat Timor Leste menjadi terlalu bergantung pada China. "Hal itu (kedekatan dengan China) bisa menjadi faktor yang memicu destabilisasi wilayah," ujarnya.
Indonesia sendiri juga mendukung pencalonan Timor Leste menjadi anggota ASEAN. Negeri itu sendiri sudah secara formal memasukkan proposal untuk bergabung dengan ASEAN, ketika Indonesia menjadi pimpinan ASEAN di tahun 2011.
Walaupun hubungan perdagangan dan investasi antara Indonesia dengan Timor Leste bisa dikatakan imaterial, Hariyadi mengatakan bahwa peluang investasi bagi pebisnis Indonesia terbuka, misalnya di komoditas seperti kopi dan granit. Negara itu sendiri masih mencari investor potensial untuk mengubah potensi mereka menjadi bisnis yang nyata, tetapi kurangnya kepastian hukum menghambat masuknya investor asing untuk berbisnis.
Menurut Kristio pula, Timor Leste mengimpor produk tekstil dan seragam dari Indonesia untuk kebutuhan militernya. Xanana bahkan juga telah mengundang produsen tekstil Indonesia untuk membangun pabriknya di Timor Leste. "Tetapi pebisnis masih menunggu kondisi dan situasi di Timor Timur membaik, pasca pemilihan umum bulan Juli," ujarnya.
Sudah 12 tahun lewat sejak Timor Timur (Timor Leste) melepaskan diri dari Indonesia. Timor Leste dan Indonesia kini melupakan sejarah buruk mereka dan menatap hubungan diplomatik yang lebih kuat, demi menghadapi pengaruh China di Timor.
Akhir pekan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun menghadiri pelantikan Presiden Timor Leste yang baru, Jose Maria Vancoscelos, yang dikenal dengan julukan Taur Matan Ruak atau Dua Mata Tajam. Presiden SBY juga dijadwalkan menghadiri pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Xanana Gusmao dan Presiden incumbent, Jose Ramos Horta.
Kunjungan Presiden SBY ini adalah kunjungan Presiden yang keempat sejak Timor Leste merdeka. SBY pun dijadwalkan untuk menaburkan karangan bunga di pemakaman Santa Cruz, lokasi bentrokan berdarah antara ratusan demonstran Timor Timur dengan pasukan Indonesia di tahun 1991.
"Kunjungan tersebut mensimbolisasikan proses penyembuhan luka dan menandakan bahwa Indonesia menyesali hal itu pernah terjadi," kata pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Hariyadi Wirawan, Jumat (18/5).
Kunjungan ke Santa Cruz bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh SBY. Sebelumnya, SBY mengunjungi Santa Cruz pada April 2005. Setelah melakukan kunjungan ke Santa Cruz, SBY kini juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke Pemakaman Seroja, tempat pemakaman prajurit Indonesia yang meninggal di Timor Timur.
Kristio Wahyono, mantan perwakilan Indonesia untuk United Nations Transitional Administration in East Timor (UNTAET) tahun 2000-2003, mengatakan bahwa sebelum SBY, Presiden RI pertama yang melakukan kunjungan ke Timor Timur adalah mantan presiden Abdurrahman Wahid, bulan Februari 2000.
Megawati juga pernah melakukan kunjungan ke Dili, sesaat sebelum Timor Timur mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 20 Mei 2002. Saat itu, Megawati datang ke Dili atas undangan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan. Annan mengundang Megawati untuk menghadiri upacara penyerahan kedaulatan Timor Timur dari administrasi PBB yang menjalankan administrasi Timor sejak Referendum 1999.
"Kunjungan Megawati waktu itu menuai perdebatan. Sebagian orang menilai bahwa kunjungan ini dapat memperbaiki hubungan, sementara ada juga yang menolak kunjungan ini karena harga diri nasionalisme," ujar Kristio. Waktu itu, SBY masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) di pemerintahan Megawati.
Hariyadi mengatakan, kunjungan tersebut ke depannya bisa menjadi kunjungan rutin, demi menciptakan hubungan yang lebih baik. Dia mengatakan, kunjungan itu sangat penting bagi Indonesia, supaya pandangan masyarakat Timor Timur terhadap Indonesia sebagai "negara penjajah" bisa berubah menjadi negara tetangga.
"Walau bagaimanapun juga, Timor Timur dulunya merupakan bagian dari Indonesia. Di sisi lain, pemerintah juga melihat pentingnya mendekatkan diri ke Timor Timur, sebelum negara itu terlalu bergantung pada China," ujarnya.
Hariyadi menambahkan, Australia dan Amerika Serikat (AS) juga tidak ingin melihat Timor Leste menjadi terlalu bergantung pada China. "Hal itu (kedekatan dengan China) bisa menjadi faktor yang memicu destabilisasi wilayah," ujarnya.
Indonesia sendiri juga mendukung pencalonan Timor Leste menjadi anggota ASEAN. Negeri itu sendiri sudah secara formal memasukkan proposal untuk bergabung dengan ASEAN, ketika Indonesia menjadi pimpinan ASEAN di tahun 2011.
Walaupun hubungan perdagangan dan investasi antara Indonesia dengan Timor Leste bisa dikatakan imaterial, Hariyadi mengatakan bahwa peluang investasi bagi pebisnis Indonesia terbuka, misalnya di komoditas seperti kopi dan granit. Negara itu sendiri masih mencari investor potensial untuk mengubah potensi mereka menjadi bisnis yang nyata, tetapi kurangnya kepastian hukum menghambat masuknya investor asing untuk berbisnis.
Menurut Kristio pula, Timor Leste mengimpor produk tekstil dan seragam dari Indonesia untuk kebutuhan militernya. Xanana bahkan juga telah mengundang produsen tekstil Indonesia untuk membangun pabriknya di Timor Leste. "Tetapi pebisnis masih menunggu kondisi dan situasi di Timor Timur membaik, pasca pemilihan umum bulan Juli," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




