Petani Manggis Purwakarta Keluhkan Modal dan Sistem Ekspor

Rabu, 9 Mei 2018 | 20:20 WIB
AP
AO
Penulis: Asni Ovier Dengen Paluin | Editor: AO
Calon gubernur Jawa Barat, Tb Hasanuddin berfoto bersama para petani Manggis di Purwakarta, Jawa Barat, Rabu, 9 Mei 2018.
Calon gubernur Jawa Barat, Tb Hasanuddin berfoto bersama para petani Manggis di Purwakarta, Jawa Barat, Rabu, 9 Mei 2018. (Istimewa/Asni Ovier)

Purwakarta - Para petani manggis di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mengaku masih kesulitan modal untuk mengembangkan usaha mereka. Padahal, dengan modal yang cukup, buah manggis hasil panen mereka bisa diolah menjadi berbagai jenis penganan.

Para petani manggis pun mengaku pasrah dengan minimnya permodalan tersebut. Tanpa modal yang cukup dan berbagai kendala lain, mereka juga kesulitan untuk mengekspor manggis ke luar negeri, meski permintaan cukup banyak.

"Ekspornya masih belum pasti. Kadang dibuka, seringnya ditutup. Akhirnya, harga manggis semakin murah, bahkan terkadang dibuang karena membusuk," ujar Cece, seorang petani manggis di Desa Parakan Garokgek, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (9/5).

Keluhan itu disampaikan Cece kepada calon gubernur Jawa Barat, Tb Hasanuddin (Kang Hasan) saat berkunjung ke perkebunan manggis itu. Dia bertemu dengan para petani manggis dari tiga kecamatan di Purwakarta, yakni Kecamatan Kiarapedes, Wanayasa, dan Bojong. Dengan beralaskan tikar, Kang Hasan duduk bersama 200 petani Manggis untuk mendengarkan setiap aspirasi yang mereka sampaikan, salah satunya terkait perluasan pemasaran komoditas manggis melalui ekspor yang stabil.

Cece mengatakan, ekspor manggis sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Tetapi, kata dia, seringkali ekspor ditutup tanpa sebab yang jelas. Hal tersebut mengakibatkan ketidakstabilan harga manggis dan merugikan para petani.

Padahal, kata Cece, buah manggis bisa diolah menjadi penganan lain, seperti manisan. Namun, karena ketiadaan modal, para petani hanya bisa pasrah dengan harga jual manggis yang rendah. Pria separuh baya itu berharap dengan kehadiran Kang Hasan di tengah masyarakat petani manggis mampu memberikan solusi atas permasalahan tersebut.

"Harga manggis sebenarnya bisa Rp 5.000 per kilogram. Namun, kalau ekspor ditutup, bisa jadi hanya Rp 2.000/kg. Akhirnya, petani merugi. Kami berharap melalui Kang Hasan, itu tidak terjadi lagi," pungkasnya.

Menanggapi hal tersebut, Kang Hasan mengatakan, untuk menjaga kestabilan ekspor dan mempermudah aksesnya, pemerintah harus menjadi investor. Purnawirawan jenderal TNI itu juga akan mengoptimalkan peran koperasi untuk membantu permodalan bagi para petani mengembangkan usaha pengolahan manggis.

Dengan demikian, para petani mempunyai pegangan selain mengandalkan ekspor. "Harus ada koperasi dan investor dari dalam negeri, yakni pemerintah, agar manggis bisa diekspor. Selalu ada jalan untuk bisa mengangkat harkat, derajat, dan kesejahteraan petani," ujar Kang Hasan.

Dikatakan, dia juga menyiapkan program khusus untuk para petani, yakni Jabar Seubeuh. Mantan anggota Komisi I DPR itu menjelaskan, Jabar Seubeuh akan menyediakan program modal bagi petani tanpa agunan melalui BUMDes atau Kelompok Tani. Selain itu, para petani akan diberikan pelatihan usaha kelompok tani yang bisa memproduksi produk turunan dari hasil tani mereka. "Jadi, melalui pelatihan tersebut, petani tidak perlu khawatir buah manggis yang dipanen mau diapakan. Kita olah lagi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis," tuturnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon