Dedi Mulyadi Berkomitmen Perhatikan Janda, Fakir Miskin, dan Anak Yatim di Jabar
Sabtu, 19 Mei 2018 | 16:11 WIB
Garut - Calon wakil gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berkomitmen untuk memuliakan janda, fakir miskin, dan anak yatim di Jawa Barat. Pria yang lekat dengan iket Sunda itu menegaskan, negara tidak boleh membiarkan orang miskin kelaparan.
Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu (19/5), komitmen tersebut disampaikam Dedi saat berkunjung ke Desa Sukawangi, Kecamatan Singaraja, Kabupaten Garut, Jabar, Jumat (18/5). Kang Dedi mendasarkan pernyataannya pada hadist Rasulullah SAW yang menyebutkan, doa mereka (janda, fakir miskin, dan anak yatim) menjadi salah satu tiang penyangga dunia. Semangat untuk memuliakan kaum miskin itu mengilhami perumusan Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945.
"Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Karena itu, tidak boleh ada lagi anak putus sekolah di Jabar. Tidak boleh juga kita dapati ada janda tua yang tidak memiliki beras," kata Kang Dedi sapaan Dedi Mulyadi.
Pendampingan terhadap janda tua, fakir miskin, dan anak yatim, menurut Dedi, merupakan amanat syariat Islam. Norma agama itu diperkuat menjadi bagian dari konstitusi sebagai norma hidup bernegara. "Syariat Islam ini mengajarkan kita untuk menjaga dan memperhatikan kehidupan mereka," ujarnya.
Saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, Kang Dedi sukses menjalankan Program Ibu Asuh. Melalui program tersebut, ribuan janda tua terjamin kehidupannya. Secara teknis, para pegawai dan masyarakat Purwakarta yang tergolong mampu memberikan sumbangan minimal Rp 300.000 per bulan. Para janda tua menerima sumbangan tersebut berdasarkan data dari Ketua RT dan RW setempat.
Untuk anak yatim dan kurang mampu, Program Kemis Welas Asih menjadi andalan Kang Dedi. Setiap hari Kamis, para pelajar yang berasal dari keluarga mampu memberikan satu gelas beras untuk dikumpulkan dan dibagikan.
Berdasarkan hadist Rasulullah SAW, kedermawanan kalangan berada juga menjadi salah satu variabel tegaknya dunia, selain keadilan pemimpin dan ilmu para ulama. Menurut Kang Dedi, semua itu merupakan empat pilar suksesnya pembangunan.
"Semuanya program partisipatif, bisa berupa uang atau bahan makanan. Untuk anak yatim, programnya bisa berupa tabungan. Sehingga, saat lulus sekolah, ada modal wirausaha untuk mereka," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




