Kapolri: Ideologi Terorisme Seperti Virus
Selasa, 5 Juni 2018 | 17:46 WIB
Jakarta - Ideologi terorisme disebut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian sama seperti virus. Terorisme juga seperti narkoba karena bisa menyasar siapa saja dari semua kalangan dimana mulai dari kalangan bawah sampai atas pun juga ada yang kena narkoba.
"Nah sama dengan ideologi teroris ini juga begitu. Bisa mulai dari yang bawah, bisa masyarakat umum, satu keluarga seperti di Surabaya, maupun mahasiswa, bahkan polisi juga, seperti kasus polisi di Jambi, semua bisa terpapar ideologi itu," kata Tito di Mabes Polri, Senin (5/6).
Yang diperhatikan saat ini kita hanya melihat aksi terorisme, kekerasan yang terjadi, padahal itu adalah puncak dari gunung es permasalahan. Salah satunya dipicu masalah ideologi terorisme yang menyebar. Untuk itu perlu dicari mengapa ideologi ini menyebar.
"Permasalahannya ideologi ini mengambil kesempatan kebebasan karena demokrasi. Yang kedua karena adanya kemajuan pengetahuan sosial teknologi informasi karena terutama ada social media, internet dan lainnya. Langkah kita tetap dua. Langkah kerasnya adalah melakukan penegakan hukum terhadap mereka yang salah berdasar undang-undang," urai Tito.
Apalagi sekarang ada undang-undang baru yang memberi hukuman tegas bagi pelaku teror, tapi lanjut Tito, "ini tidak menyelesaikan masalah. Upaya tegas ini kita lakukan baik oleh Polri bersama TNI."
Yang kedua menyelesaikan akar masalah harus dilakukan dengan langkah khusus. Tidak bisa dihadapi dengan senjata. Tapi ideologi harus ditutup dengan ideologi yang lain. Ini melibatkan pemerintah, stakeholder yang lain, maupun masyarakat, termasuk ormas-ormas.
"Kita perlu untuk kerja bersama-sama. Ini harus diorganisir dalam rencana aksi nasional untuk membendung dan menetralisir ideologi radikal. Saya tak ingin menyampaikan (peta jaringan teror) kepada publik, yang jelas kita mengidentifikasi ada penyebaran itu hampir ke semua wilayah karena memang memanfaatkan social media, memanfaatkan internet, jadi tidak perlu crossing bergerak langsung ke wilayah itu karena internet atau dunia siber itu borderless," imbuhnya.
Contohnya dua orang perempuan yang ditangkap di Mako Brimob sesaat setelah pecah rusuh disana. Mereka mengaku mendapatkan pemahaman ideologi teroris ini dari sosmed, telegram, dan lainnya dan kemudian keduanya justru dibaiat secara tidak langsung melalui video call.
"Saya tidak mau menyampaikan detailnya kepada publik, tapi adalah tugas daripada pemerintah dan ormas tertentu. Kita tidak ingin menimbulkan publik menjadi galau karena adanya titik sel yang ada. Yang jelas publik percayakan kepada kita, kepada pemerintah dan dukung bersama-sama agar dapat menangani permasalahan penyebaran ideologi terorisme ini. Kita harus sama-sama membendungnya," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




