Petani Sawit Desak Pemkab Seluma Tambah Pabrik CPO

Selasa, 3 Juli 2018 | 08:44 WIB
U
JS
Penulis: Usmin | Editor: JAS
Ilustrasi kelapa sawit
Ilustrasi kelapa sawit (Antara/Nova Wahyudi)

Bengkulu - Petani kelapa sawit di Kabupaten Seluma, Bengkulu, mendesak pemkab setempat untuk menambah pabrik crude palm oil (CPO) di daerah ini, agar sawit hasil panen petani dapat tertampung dengan baik oleh pabrik dengan harga bagus di atas Rp 1.000 per kg.

"Kami berharap Pemkab Seluma dapat menambah jumlah pabrik CPO di daerah ini, sehingga petani tidak kesulitan menjual hasil panen sawitnya ke pabrik," kata Jaya, salah seorang toke sawit asal Desa Rawa Indah kepada wartawan seusai bertemu unsur Pimpinan DPRD Seluma, Senin (2/7).

Jaya bersama sembilan warga Seluma lainnya menemui pimpinan DPRD Pemkab Seluma setempat untuk melaporkan harga sawit di daerah ini anjlok hingga Rp 450 per kg, akibat pabrik tidak mampu lagi menampung produksi hasil panen sawit petani daerah ini.

"Kami mengharapkan Pemkab Seluma dan anggota DPRD setempat dapat memperjuangkan agar pabrik CPO di daerah ini ditambah, sehingga hasil panen sawit petani dapat ditampung dengan harga di atas Rp 1.000 per kg," ujarnya.

Sebab, saat ini pabrik CPO yang ada di Seluma, tidak mampu lagi membeli sawit hasil panen petani di daerah ini karena stok bahan baku mereka melimpah.

Meskipun pihak pabrik bersedia membeli sawit petani harganya murah hanya Rp 450 per kg. Akibatnya, ribuan ton sawit milik petani dibiarkan membusuk di kebun.

Hal ini terjadi karena harga jual tandan buah segar (TBS) di Seluma tidak seimbang dengan upah panen. "Saya kesal harga sawit anjlok Rp 450 per kg, sehingga sawit yang dipanen dibiarkan busuk di kebun. Kalau dijual uang hanya cukup untuk membayar upah panen saja," kata Suparman (36), petani sawit lainnya.

Ia mengatakan, di Desa Rawa Indah hampir 99 persen warga menggantungkan hidup dari hasil panen sawit. "Sekarang harga sawit tinggal Rp 450 per kg, sehingga ekonomi petani benar-benar terpuruk. Ini terjadi karena pabrik CPO yang ada tidak mampu menampung sawit hasil panen petani setempat," ujarnya.

Supratman berharap pabrik CPO di Seluma ditambah lagi, sehingga sawit hasil panen petani dapat tampung dengan baik oleh pabrik, sehingga harganya kembali normal di atas Rp 1.000 per kg.

"Terus terang kalau harga sawit tidak beranjak naik di atas Rp 450/kg, maka petani akan meninggalkan kebun sawitnya karena tidak menguntungkan lagi. Hasil panen sawit tidak mampu membeli pupuk lagi," ujarnya.

Sedangkan tanaman sawit harus dilakukan pemupukan secara rutin manimal enam bulan sekali. Sebab, jika tanaman sawit tidak dipupuk secara teratur, maka hasil panen tidak maksimal.

"Karena itu, dapat dipastikan jika harga TBS sawit terus anjlok seperti sekarang ini hanya Rp 450 per kg, maka petani tidak mampu merawat kebun sawit dengan baik," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Seluma Husni Thamrin mengatakan, pihaknya akan membahas masalah ini dengan Bupati Seluma, Bundara Jaya dan instansi terkait, termasuk pengusaha pabrik CPO di daerah ini dalam waktu dekat.

"Kami segera memanggil Bupati Seluma dan Sekda setempat, termasuk pengusaha pabrik CPO yang ada di daerah ini guna mengatasi permasalahan tersebut. Kami akan mencari solusi yang cepat guna mengatasi masalah yang dihadapi petani sawit di Seluma," ujarnya.

Husni menambahkan, di Seluma saat ini ada tiga pabrik CPO yang beroperasi, yakni di PT Agro Indah Persada, PT Agri Andalas dan PTPN VII unit Talo-Pino. Pabrik CPO ini telah memiliki kebun sawit sendiri.

Dengan demikian, pabrik CPO tersebut, membeli sawit petani tidak maksimal, karena hasil panen sawit kebun mereka cukup banyak. "Jadi, saat bahan baku mereka melimpah harga pembelian diturunkan seperti sekarang ini harga TBS hanya Rp 450 per kg," ujarnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon