LSI: Posisi Jokowi Lebih Kuat Dibanding Megawati untuk Tentukan Cawapres
Selasa, 10 Juli 2018 | 17:23 WIB
Jakarta - Peneliti Senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Adjie Alfaraby menyebutkan posisi Joko Widodo (Jokowi) untuk menentukan calon wakil presiden (cawapres) lebih kuat dibandingkan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.
"Posisi Pak Jokowi lebih kuat dibandingkan posisi Megawati ya untuk menentukan siapa cawapresnya," kata Adjie dalam rilis LSI bertajuk Analisis Temuan Survei Nasional: Pasangan Capres dan Cawapres PascaPilkada di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (10/7).
Kendati demikian, saat ini posisi Jokowi lebih rumit dibandingkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2009 untuk menentukan cawapresnya itu.
Ia mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi. Di antaranya adalah faktor elektoral Jokowi yang tidak sekuat SBY di periode kedua. Saat itu SBY, katanya, hampir semua survei menunjukkan elektabilitas SBY di atas 60 persen yang membuatnya leluasa memilih siapa cawapres di Pilpres 2009.
"Sehingga memang poin pertama faktor elektoral membuat situasi siapa cawapres Jokowi makin rumit. Kemudian kedua posisi Pak Jokowi yang tanda kutip sebagai petugas partai," ujarnya.
Ia mengatakan, sebagai petugas partai PDIP, secara psikologis hal tersebut akan menjadi suatu perdebatan dan diskusi yang cukup alot di internal PDIP. Sebab sebagai petugas partai pula, frame berpikir partai atau ketua umum partai adalah petugas partai mengikuti keputusan partai.
Namun di sisi lain, Jokowi juga diuntungkan dengan beberapa partai yang telah secara resmi mendeklarasikan dukungannya. Misalnya Golkar, Hanura, PPP dan beberapa partai lainnya. Hal tersebut, katanya, tidak membuat Jokowi terlalu khawatir tak dapat tiket di 2019.
"Oleh karena itu, mengapa sampai saat ini nama cawapres belum muncul, salah satu faktornya perdebatan-perdebatan di internal koalisi Pak Jokowi. Kalau kita lihat dari sisi bergaining, saat ini, PDIP tidak punya pilihan banyak untuk memaksakan internal dari PDIP," katanya.
Adjie mengatakan tiket sudah diraih Jokowi, maka, tanpa PDIP pun Jokowi bisa maju sebagai capres. Ditambah lagi dari PDIP
tidak ada nama yang cukup kuat dan bisa membantu Jokowi baik secara elektoral maupun meningkatkan kapasitas pemerintahan.
Menurutnya, dari nama-nama internal PDIP yang muncul seperti Puan Maharani merupakan nama yang tidak populer di publik. Secara kualitatif pun, katanya, tidak kuat meningkatkan kualitas pemerintahan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




