Elite Politik "Baperan" Tak Cerminkan Semangat Pendiri Bangsa
Jumat, 27 Juli 2018 | 22:50 WIB
Jakarta - Perdebatan yang mencuat menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang membawa persoalan pribadi, dinilai sangat tidak mendidik dan terkesan terbawa perasaan. Hal itu diungkapkan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi di Jakarta, Jumat (27/7).
Fenomena perdebatan elite politik itu, ujarnya Kang Dedi, sapaan Dedi Mulyadi, telah menyalahi pengamalan gagasan dan semangat para pendiri bangsa Indonesia. Ditegaskan, para tokoh pendiri bangsa selalu mengedepankan persatuan dan kesatuan, bukan drama melankolis berbasis personal.
"Argumentasi perdebatan seharusnya berisi gagasan para pendiri bangsa Indonesia. Jadi, tidak masuk ke ranah pribadi. Gagasan founding fathers tidak begitu, kok," kata Dedi. Dia menekankan, perdebatan yang terjadi seharusnya mengenai pengamalan ideologi bangsa beserta program nyata untuk masyarakat.
Persoalan pengamalan ideologi dan program-program untuk rakyat itu yang seharusnya menjadi pertimbangan bagi sebuah partai untuk membangun koalisi. Sebaliknya, Dedi menyebut kehidupan politik mengalami kemunduran jika pilihan sebuah partai untuk membangun koalisi hanya didasarkan pada perasaan personal.
"Masuk tidaknya partai ke dalam sebuah koalisi harus diarahkan pada pertimbangan politik kenegaraan dan kebangsaan. Suka atau tidak sukanya didasarkan pada program kerja masing-masing koalisi yang akan dijalankan hari ini. Jangan mengarahkan kepada nalar perasaan. Ini bisa jadi kemunduran kehidupan politik secara nasional," ungkapnya.
Dikatakan, pandangan politik bernegara seharusnya tidak boleh berisi gambaran suasana kebatinan individu antar individu. Hal ini lantaran, Indonesia bukan negara milik orang per orang. "Setahu saya negara ini milik seluruh warga bangsa Indonesia. Kita harus memberikan contoh kepada masyarakat untuk melihat gambaran Indonesia masa depan. Gambaran itu tercermin dari visi kebangsaan dari masing-masing partai koalisi," tegasnya.
Fenomena saling sindir antar elit politik menurut mantan Bupati Purwakarta tersebut sudah mirip drama pencintaan. Seharusnya, para elit menghadirkan suasana sejuk yang mencerdaskan segenap anak bangsa. "Publik harus tercerdaskan melalui momen Pilpres ini. Jadi, urusan perasaan tidak bolehlah dibawa ke ranah politik dan publik," katanya.
Dedi khawatir jika kehidupan politik yang hanya dilandaskan emosi individu elit terus berlangsung, publik kehilangan spirit keteladanan. Untuk itu, Dedi mengajak semua pihak untuk menjalankan cara-cara berpolitik yang penuh keadaban.
"Kita melihatnya malu, ini harus disudahi. Kita bangun kembali politik beradab yang telah diajarkan pendiri bangsa. Jangan sampai politik beradab itu hilang dan publik kehilangan keteladanan. Sehingga, semangat luhur kehidupan politik kita kalah oleh politik personal," ucapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




