Koalisi Virus Flu Burung-Babi Mudahkan Penularan Antar-manusia

Senin, 28 Mei 2012 | 21:05 WIB
AI
B
Penulis: Antara/Ririn Indriani | Editor: B1
Ilustrasi
Ilustrasi (Suara Pembaruan)
Berpotensi terjadi dimana pun, termasuk Indonesia.
 
Peneliti Jepang, Prof Yoshihiro Kawaoka menegaskan, bahwa saat ini sudah ada koalisi virus Flu Burung (H5N1) dan flu babi (H1N1), yang justru akan memudahkan potensi penularan Flu Burung antar-manusia.

"Koalisi virus yang kami teliti itu berpotensi terjadi dimana pun, termasuk Indonesia," kata peneliti pada Laboratorium Wisconsin AS dan Erasmus, Prof Yoshihiro Kawaoka, di Rumah Sakit Penyakit Tropis Indonesia (RSPTI)-Unair Surabaya, Senin (28/5).
 
Ia menjelaskan, pihaknya sudah melakukan mutasi virus pada koalisi kedua virus itu dan hasilnya bisa diuji coba pada hewan coba yang "mewakili" manusia.

"Karena itu, koalisi kedua virus yang sudah terjadi itu menunjukkan bahaya penularan flu burung antar-manusia akan sangat mudah, sehingga Indonesia juga perlu melakukan 'surveilans' pada virus flu burung yang ada saat ini," imbuh Kawaoka.
 
Menurut dia, sejumlah negara sudah melakukan dua langkah untuk mencegah hal itu yakni eradiasi dan vaksinasi. "Jepang dan Korea memilih eradikasi dengan membunuh semua hewan yang terjangkit kedua virus itu," katanya.

Sementara itu, Thailand yang semula menggunakan cara vaksinasi hewan agar terbebas dari kedua jenis virus itu juga sudah mulai memilih langkah eradiasi, karena vaksinasi pada hewan justru membuat virus flu burung mudah tersebar.
 
Koalisi H5N1-H1N1 di Indonesia

Menanggapi hal itu, peneliti flu burung dari RSPTI-Unair Surabaya Dr drh CA Nidom MS menjelaskan, Indonesia hingga kini masih menggunakan vaksinasi. Namun cara itu harus dikaji ulang dengan adanya temuan koalisi virus flu burung-babi itu.

"Kalau langkah eradiasi mungkin orang akan rugi dan negara juga mungkin masih akan berpikir kalau diminta mengganti biayanya, namun langkah itu lebih daripada nantinya sudah menular antar-manusia," katanya.

Oleh karena itu, kata Nidom yang juga Kepala Strategi Riset Laboratorium BSL-3 pada RSPTI-Unair Surabaya itu, pihaknya mengusulkan "jalan tengah" dengan melakukan restrukturisasi dengan menjauhkan hewan (kadang hewan) dari kawasan padat penduduk.

Selain itu, sejak tahun 2005 hingga 2012 sudah terjadi 188 orang terjangkit flu burung yang 156 orang di antaranya atau 83 persen mati, sehingga tingkat kesembuhan cukup kecil (17 persen) seperti A di Kediri (Mei 2012) dan E di Tulungagung (2006).

"Koalisi virus flu burung dan flu babi yang dapat mempermudah penularan antar-manusia itu juga bukan berarti tidak ada di Indonesia, karena penelitian tentang virus Flu Burung yang telah kami lakukan masih mengacu pada virus tahun 2005 hingga 2007," katanya.

Padahal, katanya yang juga didampingi Direktur RSPTI-Unair Dr Burhan, virus flu burung sudah mengalami mutasi yang baru dan Indonesia juga pasti mengalami, karena itu perlu penelitian virus flu burung dengan virus-virus yang baru.

"Tapi, kami tidak bisa meneliti virus pasca-2007, karena kami tidak diberi contoh virus itu oleh pemerintah. Kami tidak tahu, mungkin saja ada kekhawatiran bahwa kami akan menjual hasil penelitian itu. Itu tidak mungkin, kami bekerja sama dengan peneliti Jepang sudah delapan tahun dan penelitiannya di BSL-3 Unair," katanya. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon