Mimpi Panen Listrik dari Energi Matahari

Kamis, 6 September 2018 | 15:31 WIB
AR
B
Penulis: Ari Supriyanti Rikin | Editor: B1
Petugas PT PLN (Persero) melakukan pemeliharaan rutin terhadap panel surya di Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Pulau Gili Meno, NTB, Selasa (9/12).
Petugas PT PLN (Persero) melakukan pemeliharaan rutin terhadap panel surya di Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Pulau Gili Meno, NTB, Selasa (9/12). (Antara/Widodo S Jusuf)

Dikaruniai iklim tropis setidaknya membuat Indonesia berbangga karena musim panas dengan sinar matahari yang optimal seharusnya bisa dipanen untuk menjadi energi listrik. Bagaimana caranya? Teknologi sel surya berupa atap solar panen yang dipasang di atas atap atau pun di hamparan wilayah yang luas dapat menyimpan sinar matahari yang kemudian bisa diubah menjadi energi listrik.

Meski saat ini komponen pembuatan sel surya 60%-nya dari impor, setidaknya dengan komponen dalam negeri, Indonesia mampu berkontribusi di 40%-nya. Bahkan jika ada aturan yang memasifkan pemanfaatan energi surya atau matahari sebagai salah satu energi baru terbarukan, bisa jadi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sel surya akan semakin meningkat.

Sejak tahun 2017 lalu, digagas proyek 1 juta atap bertenaga surya yang sebenarnya didorong untuk mewujudkan kemandirian energi. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendorong gerakan 1 juta atap surya yang menghasilkan energi listrik dari energi matahari agar semakin masif. Hal ini layak dilakukan agar Indonesia memiliki kemandirian energi dari diversifikasi energi yang dimiliki.

Dikaruniai iklim tropis, potensi sinar matahari yang bisa disimpan menjadi energi sangat besar. Hanya saja, perangkat penyimpanan energi matahari berupa teknologi solar photovoltaic atau sel surya belum masif dipasang dan digunakan.
Deputi Bidang Teknologi Pengkajian Kebijakan Teknologi BPPT, Gatot Dwianto, mengatakan, pemanfaatan energi surya dengan menggunakan teknologi solar photovoltaic atau sel surya menjadi salah satu sumber energi pilihan.

"Teknologi ini diharapkan mampu menjadi pilihan untuk menggantikan sumber energi primer untuk dikonversi menjadi tenaga listrik," katanya di Jakarta, Rabu (5/9).

Direktur Pusat Pengkajian Industri Manufaktur Telematika dan Elektronika BPPT, Andhika Prastawa, mengungkapkan, gerakan 1 juta surya atap itu dicanangkan tahun 2017. Namun, hingga saat ini, baru ada 600 rumah di Pulau Jawa yang menggunakan teknologi itu dengan kapasitas sekitar 5 kilowatt per rumah. Nilai tersebut setara dengan listrik kapasitas 1300 watt.

"Solar roof top atau surya atap bisa digabung dengan listrik PLN. Siang hari, listrik yang disimpan di sel surya bisa didistribusikan ke PLN, sehingga biaya pembayaran listrik pemilik sel surya bisa dikurangi sebesar listrik yang dikirim ke PLN," katanya.

Andhika menjelaskan, untuk 5 kilowatt dibutuhkan lahan sekitar 50 meter persegi. Nilai pemasangan hingga beroperasinya sekitar 15 juta.

Namun kekuatan teknologi ini mencapai 25 tahun. Dalam waktu 8 tahun, nilai uang yang dikeluarkan bisa kembali modal. Artinya, listrik yang diserahkan rumah tangga pada siang hari dari sel surya ke PLN bisa dihargai seharga tarif dasar listrik Rp 1400 per kilowatt misalnya.

"Saat musim kemarau, sinar matahari yang disimpan bisa 4-6 jam. Sedangkan saat musim hujan bisa 2-3,5 jam," ucap Andhika.

Diharapkan, lahirnya peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral kelak bisa memperkuat aturan penerapan dan pemanfaatan tenaga surya dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sel surya pun diharapkan dapat ditingkatkan sehingga tidak bergantung pada impor.

Selain mendorong bauran energi dan memaksimalkan energi baru terbarukan, energi matahari juga mampu menekan emisi yang terlepas ke udara.

Dari aturan yang ada, diharapkan di tahun 2025, proyek 1 juta atap surya bisa tercapai. Diperkirakan jika produksi listrik PLN sekitar 150.000 gigawatt per tahun di Jawa, sel surya hanya bisa berkontribusi sekitar 1200 gigawatt atau sekitar 0,80%. Meski begitu, setidaknya Indonesia mulai merintis kemandirian energi. Diperkirakan untuk 1000 gigawatt dibutuhkan lahan sekitar 1000 ha untuk meletakkan solar panel. Namun luasan itu tentu bisa dibagi-bagi.

Andhika menyebut, di India bahkan sudah ada 2000 ha gurun yang dimanfaatkan untuk memasang sel surya yang disebut solar farm. Saat ini, terdapat sekitar 12 pabrik sel surya yang tergabung dalam Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia (Apamsi). Dari target 480 megawatt baru terealisasi 4,8 megawatt. Oleh karena itu, revitalisasi pabrik dengan mekanisme insentif sangat penting untuk menggairahkan industri sel surya.

Di gedung BPPT di Thamrin Jakarta, praktik pemasangan sel surya dilakukan dengan kapasitas 10 kwh dan di BPPT Serpong, Tangerang Selatan dengan kapasitas 100 kwh.

Energi Darurat
Selain ramah lingkungan, energi sel surya juga sangat cocok sebagai energi darurat ketika terjadi bencana. Misalnya saat gempa bumi terjadi. Meski ada fasilitas yang roboh, jika ada yang masih bisa berfungsi setidaknya dapat menjadi sarana penyediaan energi darurat sementara waktu atau resiliansi energi.

Di samping itu, jika ada kerusakan, peralatannya cenderung mudah untuk dirakit kembali.

Ketua Umum Apamsi, Nick Nurrachman, mengatakan, untuk mewujudkan gerakan 1 juta atap surya diperlukan regulasi yang bisa menarik banyak pelanggan skala rumah tangga untuk memasangnya.

"Di Tiongkok sudah ada kebijakan panel surya menjadi barang yang mendapat keringanan pajak," ujarnya.
Menurutnya, untuk bisa memproduksi 100 megawatt per tahun butuh investasi sekitar US$ 340 juta, namun jika sel surya semakin masif maka akan semakin murah.

Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah serius mengembangkan sel surya ini jika memang ingin mewujudkan kemandirian energi. Apalagi Indonesia memiliki diversifikasi energi.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon