IPW: Polisi Selalu Bingung Hadapi Aksi Massa
Selasa, 29 Mei 2012 | 23:02 WIB
"Kasus kekerasan dan pengeroyokan yang dilakukan massa seperti pengeroyokan suporter (usai pertandingan Persija Jakarta vs Persib Bandung) di Gelora Bung Karno, geng motor, dan kasus massa lain di luar Jakarta, menunjukan kalau polisi gamang, tidak profesional dan kebingungan."
Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), Neta S Pane mengungkapkan, tindak pengeroyokan yang dilakukan massa hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang, menunjukan bahwa polisi gamang dan tidak profesional.
"Kasus kekerasan dan pengeroyokan yang dilakukan massa seperti pengeroyokan suporter (usai pertandingan Persija Jakarta vs Persib Bandung) di Gelora Bung Karno, geng motor, dan kasus massa lain di luar Jakarta, menunjukan kalau polisi gamang, tidak profesional dan kebingungan," ujar Neta kepada Beritasatu.com, Selasa (29/6) malam.
Dikatakan Neta, seharusnya polisi punya deteksi dini dan menerapkan strategi-strategi penempatan personel pada posisi yang tepat. Ketika polisi sudah bisa mendeteksi dan menempatkan personelnya, maka pada saat bentrokan terjadi bisa mengantisipasi.
"Dengan begitu, personel bisa langsung mengantisipasi, melihat, menindak, dan kemudian menangkap para pelakunya. Pada kasus pengeroyokan suporter seharusnya sudah menempatkan intelijen, personel Dalmas, dan polisi lalu lintas untuk mengatur arus lalu lintas sebelum pertandingan," tambahnya.
Neta mengimbau, kasus seperti ini jangan sampai terulang kembali. Kasus yang sudah terjadi pun jangan dibiarkan, karena lama-lama bisa terlupakan.
"Jangan sampai terulang lagi kasus seperti ini dan semuanya harus diusut sampai tuntas. Pengeroyokan suporter, geng pita kuning, dan lainnya harus selesai. Jangan dibiarkan, karena lama-lama akan terlupakan. Kalau perlu, Kapolda Metro Jaya mengganti Kapolres yang kurang mumpuni dan tidak profesional," tandasnya.
Menanggapi kritik pedas IPW, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi, Rikwanto, menegaskan pihaknya bakal segera memburu para pelaku pengeroyokan dan pembunuhan tiga suporter usai laga Persija konra Persib, akhir pekan lalu.
"Kami akan proses. Langkah-langkahnya, memeriksa saksi, memvisum korban dan mencari pelaku," pungkasnya.
Sejauh ini, lanjut Rikwanto, pihaknya tengah memeriksa 15 saksi. Diharapkan dari keterangan saksi, pelaku utama pengeroyokan dan pembunuhan dapat terungkap.
"Kami masih memeriksa saksi-saksi. Selanjutnya akan melakukan visum korban. Dan mengejar para pelaku," ujarnya.
Tak cuma itu, Rikwanto juga mengusulkan pertandingan sepak bola antara Persija melawan Persib pada masa mendatang tidak digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Senayan. Juga dilangsungkan tanpa suporter
"Kalau ke depannya tidak bisa disepakati pertandingan Persija lawan Persib tidak di GBK," tegasnya.
Kedua rencana itu, sambungnya, merupakan solusi guna menghindari kejadian yang tidak diinginkan atau mengantisipasi bentrokan antarsuporter kedua kesebelasan tersebut.
Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), Neta S Pane mengungkapkan, tindak pengeroyokan yang dilakukan massa hingga menyebabkan hilangnya nyawa seseorang, menunjukan bahwa polisi gamang dan tidak profesional.
"Kasus kekerasan dan pengeroyokan yang dilakukan massa seperti pengeroyokan suporter (usai pertandingan Persija Jakarta vs Persib Bandung) di Gelora Bung Karno, geng motor, dan kasus massa lain di luar Jakarta, menunjukan kalau polisi gamang, tidak profesional dan kebingungan," ujar Neta kepada Beritasatu.com, Selasa (29/6) malam.
Dikatakan Neta, seharusnya polisi punya deteksi dini dan menerapkan strategi-strategi penempatan personel pada posisi yang tepat. Ketika polisi sudah bisa mendeteksi dan menempatkan personelnya, maka pada saat bentrokan terjadi bisa mengantisipasi.
"Dengan begitu, personel bisa langsung mengantisipasi, melihat, menindak, dan kemudian menangkap para pelakunya. Pada kasus pengeroyokan suporter seharusnya sudah menempatkan intelijen, personel Dalmas, dan polisi lalu lintas untuk mengatur arus lalu lintas sebelum pertandingan," tambahnya.
Neta mengimbau, kasus seperti ini jangan sampai terulang kembali. Kasus yang sudah terjadi pun jangan dibiarkan, karena lama-lama bisa terlupakan.
"Jangan sampai terulang lagi kasus seperti ini dan semuanya harus diusut sampai tuntas. Pengeroyokan suporter, geng pita kuning, dan lainnya harus selesai. Jangan dibiarkan, karena lama-lama akan terlupakan. Kalau perlu, Kapolda Metro Jaya mengganti Kapolres yang kurang mumpuni dan tidak profesional," tandasnya.
Menanggapi kritik pedas IPW, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi, Rikwanto, menegaskan pihaknya bakal segera memburu para pelaku pengeroyokan dan pembunuhan tiga suporter usai laga Persija konra Persib, akhir pekan lalu.
"Kami akan proses. Langkah-langkahnya, memeriksa saksi, memvisum korban dan mencari pelaku," pungkasnya.
Sejauh ini, lanjut Rikwanto, pihaknya tengah memeriksa 15 saksi. Diharapkan dari keterangan saksi, pelaku utama pengeroyokan dan pembunuhan dapat terungkap.
"Kami masih memeriksa saksi-saksi. Selanjutnya akan melakukan visum korban. Dan mengejar para pelaku," ujarnya.
Tak cuma itu, Rikwanto juga mengusulkan pertandingan sepak bola antara Persija melawan Persib pada masa mendatang tidak digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Senayan. Juga dilangsungkan tanpa suporter
"Kalau ke depannya tidak bisa disepakati pertandingan Persija lawan Persib tidak di GBK," tegasnya.
Kedua rencana itu, sambungnya, merupakan solusi guna menghindari kejadian yang tidak diinginkan atau mengantisipasi bentrokan antarsuporter kedua kesebelasan tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




